Kompas.com - 19/06/2015, 15:20 WIB
EditorI Made Asdhiana
DI atas dataran tinggi sunyi itu, Bosscha bertabur jutaan pendar bintang. Itu dulu. Kini teropong bintang itu dikerubuti lampu-lampu kehidupan modern di sekitar Lembang, Jawa Barat. Terjadi polusi cahaya yang sangat mengganggu pandangan teropong untuk melihat benda-benda langit.

”Polusi cahaya itu sudah dikeluhkan para astronom sejak tahun 1970-an,” kata Direktur Observatorium Bosscha Mahasena Putra.

Di Bosscha, kaum muda belajar memahami keagungan semesta. Sekali peristiwa, sekitar seratus pelajar, mahasiswa, menyimak penjelasan astronom Andika B Priombodo tentang tata surya, bintang. Ia juga menjelaskan keberadaan teropong bintang itu. ”Nama Bosscha diambil dari nama seorang Belanda yang patungnya dari tadi tersenyum dan melihat kita itu,” kata Andika sembari menunjuk patung Karel Albert Rudolf Bosscha.

Observatorium Bosscha merupakan salah satu tonggak kemajuan astronomi Indonesia. Observatorium ini berada di Lembang, Kabupaten Bandung Barat, sekitar 18 kilometer dari pusat Kota Bandung. Lokasi ini dipilih karena berada pada dataran tinggi, sekitar 1.300 meter di atas permukaan air laut. Juga karena waktu itu masih sepi dari permukiman sehingga sangat cocok untuk observasi benda-benda langit.

Namun, makin hari jumlah penduduk makin banyak. Kota Bandung yang semula dirancang hanya untuk 600.000 jiwa kini dihuni oleh sedikitnya 2,5 juta jiwa. Ini turut berdampak pada perluasan lahan yang terus melebar termasuk Lembang. Lahan di sekitar Observatorium Bosscha semula adalah persawahan, tetapi kini dipadati permukiman.

Idealnya, pengamatan benda langit dilakukan dalam kondisi gelap atau setara dengan skor magnitudo 22 seperti saat Observatorium Bosscha berdiri. Sekarang ini nilai kegelapan itu turun menjadi 18. Artinya, langit di sekitar Observatorium Bosscha 40 kali lebih terang dibandingkan ketika Bosscha baru berdiri.

Untuk mengatasi itu, Mahasena dibantu anak buahnya berinisiatif memasang tudung lampu di rumah-rumah warga agar cahayanya tidak mengganggu peneropongan. Mereka membuat sendiri tudung itu di bengkel Observatorium Bosscha. Upaya ini berjalan sejak tiga bulan lalu dan kini sudah sekitar 600 tudung yang terpasang. ”Kami jalan sendiri setiap Jumat, mendatangi rumah warga untuk minta izin pemasangan tudung. Syukur banyak yang bersedia,” kata Mahasena.

Dana untuk pengadaan tudung itu berasal dari tarif kunjungan wisatawan Rp 20.000 per orang. Dalam setahun, Mahasena hanya membatasi sekitar 60.000 pengunjung. Observatorium Bosscha sebenarnya bukan obyek wisata karena tugas pokoknya adalah untuk penelitian dan pendidikan. Namun, karena berada pada lintasan obyek wisata, seperti Lembang dan Gunung Tangkubanparahu, tak sedikit wisatawan yang kemudian mampir ke tempat ini. Terlebih setelah muncul film Petualangan Sherina yang dalam salah satu adegannya mempertontonkan observatorium ini.

Mahasena dibantu beberapa mahasiswa ataupun alumnus astronomi ITB sebagai pemandu sekaligus penerima kunjungan. Mereka menjelaskan cara kerja teropong, tugas pokok, serta sejarah Observatorium Bosscha. Dan, tentu saja, mengajak meneropong bareng. Mereka meneropong sambil mengingat jasa Bosscha.

Administrator kebun teh

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pendaki Rinjani Jatuh Mengaku Didorong Perempuan Cantik, Pemandu Imbau 3 Hal Ini

Pendaki Rinjani Jatuh Mengaku Didorong Perempuan Cantik, Pemandu Imbau 3 Hal Ini

Travel Tips
Festival Cahaya di Marina Bay, Ada 20 Instalasi Bertema Lingkungan

Festival Cahaya di Marina Bay, Ada 20 Instalasi Bertema Lingkungan

Jalan Jalan
5 Tempat Berburu 'Sunrise' Eksotis di Perbukitan Pantura NTT

5 Tempat Berburu "Sunrise" Eksotis di Perbukitan Pantura NTT

Jalan Jalan
10 Tempat Ngopi di Trawas, Bisa Santai Sambil Nikmati Panorama Alam

10 Tempat Ngopi di Trawas, Bisa Santai Sambil Nikmati Panorama Alam

Jalan Jalan
Tahun Ini, Dieng Culture Festival Tak Lagi Digelar Online

Tahun Ini, Dieng Culture Festival Tak Lagi Digelar Online

Travel Update
Panduan Berkunjung ke Museum di Tengah Kebun, Wajib Reservasi

Panduan Berkunjung ke Museum di Tengah Kebun, Wajib Reservasi

Travel Tips
KJRI Penang Lirik Kerjasama Pariwisata dengan Kota Batu

KJRI Penang Lirik Kerjasama Pariwisata dengan Kota Batu

Travel Update
Universal Studio Singapore Bakal Punya Wahana Serba Minion

Universal Studio Singapore Bakal Punya Wahana Serba Minion

Jalan Jalan
Lion Air Buka Rute Ambon-Langgur, Pangkas Waktu Tempuh

Lion Air Buka Rute Ambon-Langgur, Pangkas Waktu Tempuh

Travel Update
Simbar Semeru Lumajang, Camping Ditemani Gemuruh dan Lava Pijar Semeru

Simbar Semeru Lumajang, Camping Ditemani Gemuruh dan Lava Pijar Semeru

Jalan Jalan
Misteri Ekskavator Tenggelam di Kebun Buah Magunan, Ini Penjelasannya

Misteri Ekskavator Tenggelam di Kebun Buah Magunan, Ini Penjelasannya

Jalan Jalan
Tingkat Pencarian Perjalanan Domestik Naik 51 Persen pada April-Mei 2022

Tingkat Pencarian Perjalanan Domestik Naik 51 Persen pada April-Mei 2022

Travel Update
Monumen Bajra Sandhi Jadi Media Promosi Sejarah Bali kepada Turis Asing

Monumen Bajra Sandhi Jadi Media Promosi Sejarah Bali kepada Turis Asing

Travel Update
6 Destinasi Wisata Disiapkan untuk Sport Tourism, Ada F1 di Danau Toba

6 Destinasi Wisata Disiapkan untuk Sport Tourism, Ada F1 di Danau Toba

Travel Update
8 Jembatan Gantung Terpanjang di Dunia dengan Sensasi Berjalan di Awan

8 Jembatan Gantung Terpanjang di Dunia dengan Sensasi Berjalan di Awan

Jalan Jalan
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.