Kompas.com - 25/02/2016, 07:30 WIB
Pasola, tradisi perang-perangan dengan menunggang kuda sambil menyerang lawan dengan lembing di Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur. BARRY KUSUMAPasola, tradisi perang-perangan dengan menunggang kuda sambil menyerang lawan dengan lembing di Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur.
|
EditorI Made Asdhiana
JAKARTA, KOMPAS.com - Pasola, puncaknya perayaan adat di Kabupaten Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur akan diselenggarakan Minggu (29/2/2016). Tradisi ratusan tahun tersebut akan berlangsung di Kecamatan Wanokaka, yang merupakan rangkaian terlengkap dan terbesar di Sumba Barat.

"Pasola di Wanokaka sudah ditetapkan tanggal 29 Februari. Wanokaka merupakan yang terlengkap dan terbesar rangkaiannya di Sumba Barat nanti," ujar Anisa Umar, Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumba Barat, saat dihubungi KompasTravel, Selasa (23/2/2016).

Tradisi puncak ini akan dipenuhi ribuan orang tepatnya di padang rumput atau savana Lahigalang. Akan ada puluhan pemuda dari 10 dusun/paraingu yang beradu ketangkasan mengendalikan kuda dan menombak lawannya dengan lembing tumpul.

Disbudpar Sumba Barat memprediksi wisatawan akan membeludak seperti tahun-tahun sebelumnya. Seperti di beberapa lokasi yang sudah diselenggarakan Pasola lebih dulu, yaitu Lamboya dan Gaura pada awal Februari 2016.

"Prediksinya akan membeludak di atas 2.000 orang. Lapangan pun biasanya penuh bahkan banyak yang tidak bisa nonton. Mereka telah menginap mayoritas satu hari sebelumnya, karena banyak rangkaian adat juga sebelumnya," ujar Anisa.

Anisa menjelaskan, sejak dua minggu lalu masyarakat Wanokaka dan sekitarnya melakukan rangkaian adat termasuk pantangan-pantangan agar Pasola berjalan dengan lancar. Seperti dilarang membangun rumah, berpesta, hingga bermusik.

AFP PHOTO / ROMEO GACAD Warga bersiap mengikuti tradisi Pasola, perang di atas kuda di Desa Ratenggaro, Sumba, NTT, 22 Maret 2014.
Penetapan pelaksanaan Pasola dilakukan oleh rato, leluhur adat atau para imam bagi kepercayaan Merapu.

Penetapan ini dilakukan kurang dari satu minggu sebelum Pasola, dengan melihat tanda-tanda alam yang muncul seperti bulan yang paling terang, dan beberapa jenis tanaman yang mulai tumbuh.

"Jika meleset sedikit saja nyale atau cacing laut di pantai tidak keluar, akibatnya Pasola pun tidak sempurna, dan hasil panen ke depan diprediksi akan buruk," ujarnya.

Maka sejak ditemukannya tanggal pasti itulah, mulai dilaksanakan upacara-upacara adat yang sakral.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.