Kompas.com - 01/03/2016, 09:06 WIB
Alat musik tradisional khas Maluku, totobuang dan tifa, dipadukan dengan hadrat dimainkan untuk menghibur wisatawan mancanegara yang datang menggunakan kapal pesiar Artania di Pelabuhan Yos Sudarso, Ambon, Maluku, Minggu (28/2/2016). Sejumlah wisatawan kagum dengan kolaborasi musik nuansa Kristiani dan Muslim itu. Perpaduan itu menunjukkan Ambon dan Maluku sudah rukun dan menjadi tempat yang aman bagi wisatawan. KOMPAS/FRANSISKUS PATI HERINAlat musik tradisional khas Maluku, totobuang dan tifa, dipadukan dengan hadrat dimainkan untuk menghibur wisatawan mancanegara yang datang menggunakan kapal pesiar Artania di Pelabuhan Yos Sudarso, Ambon, Maluku, Minggu (28/2/2016). Sejumlah wisatawan kagum dengan kolaborasi musik nuansa Kristiani dan Muslim itu. Perpaduan itu menunjukkan Ambon dan Maluku sudah rukun dan menjadi tempat yang aman bagi wisatawan.
EditorI Made Asdhiana
AMBON, KOMPAS - Kapal pesiar Artania berbendera negara Bermuda menyinggahi Pelabuhan Yos Sudarso, Kota Ambon, Maluku, Minggu (28/2/2016), dengan membawa 1.200 turis asing dan anak buah kapal. Mereka terkesan dengan penyambutan Pemerintah Kota Ambon.

Para wisatawan yang didominasi warga Jerman itu disambut dengan suguhan musik tradisional kolaboratif totobuang dan tifa berpadu hadrat. Totobuang dan tifa dimainkan pemuda Kristen, sedangkan hadrat oleh pemuda Islam.

Sejumlah wisatawan mengaku senang menyaksikan pertunjukan itu. Menurut mereka, ini penyambutan paling meriah di lebih kurang 20 negara yang telah mereka singgahi.

”Bagus, bagus,” ujar beberapa wisatawan sambil bertepuk tangan. Berapa reporter perjalanan pun mengabadikan momen itu.

”Penyambutan yang unik karena ada kolaborasi antara Muslim dan Kristen. Ini kolaborasi yang indah dan tidak ada di tempat lain di dunia,” kata Nicholas (51), warga Jerman.

Ia tahu sedikit tentang Maluku dan Ambon yang pernah dilanda konflik sosial bernuansa agama belasan tahun silam.

Ambon menjadi tempat kedua di Maluku yang disinggahi kapal dengan panjang 230,62 meter itu. Sebelumnya, Sabtu pekan lalu, kapal itu singgah di Kepulauan Banda Naira sekitar enam jam.

Kapal dengan bobot mati 44.656 gros ton (GT) itu memulai perjalanan dari Genoa, Italia, pada tanggal 22 Desember 2015. Setelah keluar dari Ambon pukul 19.00 WIT, kapal buatan tahun 1984 yang dinakhodai Kapten Morten Hansen itu berlayar menuju Filipina dan sejumlah negara lain.

Staf Ahli Wali Kota Ambon Bidang Ekonomi Pieter Ohman, yang menyambut kedatangan turis asing, meminta kepada para wisatawan agar mengabarkan tentang apa yang mereka lihat di Ambon dan Maluku kepada dunia.

Kehadiran kapal pesiar itu juga menunjukkan bahwa kepercayaan masyarakat luar terhadap Maluku sudah pulih.

Pada tahun 2015, dua kapal pesiar juga menyinggahi Ambon, yakni L’Austral du Ponant asal Perancis dan Albatros asal Jerman. L’Austral membawa 340 penumpang beserta anak buah kapal, sedangkan Albatros membawa 698 orang. Wisatawan berasal dari berbagai negara.

Pieter mengatakan, pariwisata menjadi andalan Ambon. Tahun lalu, pemerintah mempromosikan potensi pariwisata Ambon ke semua provinsi di Indonesia dan beberapa negara yang dikemas dalam paket Mangente Ambon. Tujuannya untuk meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan ke Ambon.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.