Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Memintal Cerita Wastra Asli Bumi Laskar Pelangi

Kompas.com - 27/05/2016, 21:08 WIB

Dengan kerumitan cara membuatnya, sehelai kain Cual dibanderol seharga 2 hingga 3 juta rupiah, bahkan bisa melebih mahal saat menggunakan banyak benang beraksen emas. Tingginya harga Cual, diakui Markana berdampak pada sulitnya penjualan tentunya juga berpengaruh pada ekonomi para pengerajin.

Belitung sebenarnya tak hanya memiliki Cual sebagai kain tradisionalnya. Di Belitung Timur, jenis kain batik menjadi wastra andalan. Dikembangkan melalui tangan dingin Linda Juliastiani, Batik Belitung seketika menjadi buah tangan khas Belitung Timur.

“Jadi awalnya waktu ada acara Saya disuruh pakai pakaian khas daerah. Aduh, bingung waktu itu mau pakai apa yang benar-benar khas. Ya sudah kenpa nggak buat sendiri aja?,” ungkap Linda yang juga Istri dari Basuri Tjahaja Purnama, mantan Bupati Belitung Timur periode 2010 – 2015.

Sebelum memilih mengembangkan Batik ala Belitung, Linda yang pernah menjabat sebagai ketua PKK dan Dekranasda Belitung Timur, sebenarnya telah mencoba mengajak masyarakat untuk mengembangkan tenun tradisional khas Bangka-Belitung namun mendapat respon yang kurang baik.

“Pernah tanya apakah mereka pernah tenun? Pernah, jawabmereka tapi ditinggalkan,”ungkap Linda.

Sadar ikut memiliki tanggung jawab kepada masyarakat, Linda mengaku selalu mencoba mengembangkan masyarakat sesuaikeadaan mereka. Melalui berbagi keterampilan ia mencoba menggerakkan ekonomi masyarakat setelah tidak bisa lagi mendapatkan penghasilan dari menambang timah.

Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya Linda memilih mengembangkan Batik didasari dari cara pembuatan yang lebih sederhana ketimbang tenun dan harga jual yang lebih terjangkau.

Sekarang, setelah tak lagi memegang jabatan apapun, Linda tetap mengembangkan Batik sebagai buah tangan khas Belitung Timur melalui Galeri Batik De Simpor yang dikelolanya. Galeri ini berada di kediaman Linda yang terletak di Jalan KA Bujang, Gantung, Belitung Timur satu area dengan Kampoeng Ahok yang merupakan salah satu tujuan wisata di Belitung Timur.

Diakui Linda, pada awalnya perlu waktu lama untuk memperkenalkan batik pada masyarakat Belitung Timur terlebih masyarakat Belitung tak memiliki latar belakang budaya membatik. Namun usaha Linda saat tak sia-sia kini Belitung Timur memiliki kain yang bisa mereka banggakan.

Untuk menguatkan identitas sebagai kain khas Belitung, Linda menggunakan motif-motif yang diambil dari flora dan fauna khas khususnya Belitung Timur serta keunikan dari keseharian masyarakat Belitung Timur yang kadang luput oleh masyarakat lokal.

“Karena saya bukan orang sini jadi bisa melihat apa yang khas dari daerah ini. Apa yang berbeda dari diluar sana. Sebenarnya banyak sekali yang khas dan masih banyak juga yang mau di explore,”jelas Linda yang berasal dari Jakarta ini.

Flora asal Belitung Timur yang menjadi inspirasi motif Batik adalah bunga dan daun Simpor, BungaKeremunting,  Sengkelud,  Bunga Tepongserta tak ketinggalan sahang atau lada yang menjadi komoditi utama Belitung. Ikan Cempedik, Kancil, Trenggiling danArwana juga menjadi acuan desain Batik yang diproduksi.

Keseharian masyarakat pun tak luput dari insting kreatif Linda. Motif cangkir kopi yang tertuang diatas kain mewakili kegemaran warga Belitung Timur yang gemar bercengkrama di warung kopi. Ada juga motif Kapal Kater yang merupakan perahu khas masyarakat Belitung.

Meski banyak memberikan masukan soal motif, ternyata Linda memberikan kebebasan bagi para pengerajinnya untuk berkreasi menentukan warna pada kain yang mereka buat. Tak heran jika wisatawan akan menemukan kain batik dengan beragam warna mulai dari warna-warna cerah yang berani, warna-warna pastel yang lembut hingga warna-warna gelap sebagai dasarnya.

Batik khas Belitung Timur menggunakan teknik pembuatan yang cukup sederhana. Kebanyakan kain dipola menggunakan teknik cap, setelah itu barulah para pengerajin mewarnai batik dengan cara dilukis. Ada pula batik yang diproduksi dengan teknik cap saja maupun lukis saja.

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com