Mereka yang Kesengsem Lasem

Kompas.com - 01/10/2016, 07:10 WIB
EditorI Made Asdhiana

RUMAH-rumah gedong berusia hampir 150 tahun itu dibiarkan sepi setelah ditinggalkan pemilik atau ahli warisnya. Gerbang kayu megah yang menjadi pintu masuk terlihat kusam, menandakan rumah tidak terawat.

Rumah-rumah besar perpaduan arsitektur Tiongkok-Hindia di kawasan pecinan Lasem di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, itu seolah di ambang kehancuran.

Kawasan itu tumbuh pesat seiring pesatnya perdagangan candu di Pulau Jawa pada abad ke-19. James R Rush dalam bukunya, Opium to Java, mencatat Lasem sebagai corong candu pada 1860-an.

Seiring hancurnya perdagangan candu, sebagian besar warganya beralih menjadi pengusaha batik. Namun, Lasem kembali mati suri, hanya sebagai pelintasan di antara kesibukan jalur pantura yang dirintis saat pemerintahan Daendels pada 1808.

Seiring menggeliatnya tren batik, batik tulis lasem perlahan bangkit lagi. Lasem pun mulai dibicarakan lagi tak hanya batiknya, tetapi juga budaya dan tradisinya. Tradisi budaya Islam, Tiongkok, dan Jawa yang mengakar diceritakan lagi sebagai narasi baru, yaitu pariwisata.

Adalah anak-anak muda yang gelisah melihat jejak sejarah Lasem di ambang kepunahan. Mereka membuat gerakan pelestarian cagar budaya di Lasem melalui pendekatan pariwisata yang dapat diterima semua kalangan.

”Kami mulai menyemangati warga lokal untuk terlibat langsung dalam gerakan ini dari usaha pelestarian bangunan, menjaga situs, sampai membuat paket tur wisata,” kata Agni Malagina, warga Jakarta, yang bersama sejumlah kawannya, antara lain Feri Latief, kontributor foto majalah National Geographic Indonesia, dan Ellen, pegiat media sosial, membuat gerakan pelestarian cagar budaya di Lasem.

Gerakan itu bermula dari kegalauan Agni yang beberapa bulan lalu menyelesaikan penelitian tentang pecinan di Lasem.

”Ada banyak persoalan di Lasem. Warga sendiri tidak peduli, padahal potensinya besar untuk dikembangkan,” ujar Agni yang baru menyelesaikan studinya tentang sejarah di Jerman. Menurut dia, berpangku tangan menunggu peran pemerintah akan sangat terlambat.

Kesengsem Lasem

Melalui komunitas Kesengsem Lasem, Agni dan teman- temannya mulai membangkitkan kawasan yang sering dijuluki ”Tiongkok Kecil” itu. Pendekatan terhadap semua pemangku kepentingan mereka lakukan dengan gebrakan awal membuat pentas kecil karawitan pada Mei lalu di rumah Lawang Ombo, salah satu situs rumah candu di Lasem.

Anggota Kesengsem Lasem yang datang dari sejumlah latar belakang dengan minat yang sama memberikan ide kreatif melalui beberapa medium. Pendokumentasian audiovisual situs cagar budaya lalu menyampaikannya kepada publik melalui media sosial.

Mereka menganggap promosi pengenalan Lasem akan membangun kesadaran generasi muda agar peduli pelestarian Lasem.

Terdapat 241 rumah kuno di kawasan pecinan Lasem yang belum ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya oleh pemerintah.

Kesengsem Lasem melihat kondisi ini sebagai sebuah persoalan masa depan pelestarian kawasan pecinan Lasem beserta budayanya. Tidak ada payung hukum yang kuat untuk menjaga sejumlah situs yang layak masuk bangunan cagar budaya itu.

Mereka juga memetakan tempat yang dapat disinggahi wisatawan. Ada beberapa situs dari zaman megalitikum, zaman Hindu-Buddha abad VII, masuknya Islam, hingga kolonial.

Menurut Agni, komunitas ini sebatas menjadi pemantik kesadaran warga akan potensi daerahnya sebagai wisata pusaka. Komunitas ini memberikan edukasi bagi kelompok sadar wisata.

Salah satu anggota Kesengsem Lasem, Ellen, yang menggawangi media sosial, bergerak cepat menyebarkan setiap kegiatan atau mengunggah foto keunikan setiap sudut Lasem.

Feri Latief melalui kameranya mendokumentasikan setiap potensi Lasem dan memberi masukan kepada warga.

Dia mengibaratkan Lasem bak permata yang belum diasah, sangat unik dan langka dari berbagai pendekatan, misalnya arsitektur dan akulturasi budayanya.

Baskoro, atau sering disapa Pop, dari Rembang Heritage Society juga melihat Lasem sangat kaya sejarah yang hampir setiap sudut wilayahnya dapat diceritakan.

”Kita bisa berbicara dari masa megalitikum sampai isu kerukunan,” katanya.

Kesengsem Lasem merancang sebuah trip wisata yang semuanya dikerjakan oleh Pokdarwis Karangturi.

Sisi pengenalan sejarah mereka tekankan dalam setiap obyek yang dikunjungi, antara lain susur sungai, kelenteng, perajin batik, dan sejumlah rumah kuno pecinan.

Kesengsem Lasem turut menyemangati pelestarian bangunan kuno dengan mendaftarkan situs rumah tua yang telah direnovasi ke ajang lomba UNESCO Asia Pacific Awards for Cultural Heritage Conservation.

Pembelian rumah kuno di pecinan Lasem oleh pengusaha lokal jadi pertanda baik untuk melestarikan situs rumah tua di pecinan Lasem.

Santoso, pengusaha batik lasem, misalnya, membeli rumah kuno di Lasem untuk dijadikan galeri batik sekaligus kafe bagi wisatawan.

Kecintaan terhadap Lasem juga dilakukan Gus Zaim, pengasuh Pondok Pesantren Kauman Karangturi. Dia merawat sebuah rumah berusia lebih dari 100 tahun yang dibuka untuk aktivitas seni budaya. (P Raditya Mahendra Yasa)

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 30 September 2016, di halaman 1 dengan judul "Mereka yang Kesengsem Lasem".

Baca tentang


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X