Kompas.com - 10/11/2016, 22:06 WIB
Diorama Bung Tomo sedang membacakan pidato untuk arek-arek Suroboyo. Diorama ini terletak di bagian dalam Museum 10 Nopember, Surabaya, Jawa Timur. KOMPAS.COM/SRI ANINDIATI NURSASTRIDiorama Bung Tomo sedang membacakan pidato untuk arek-arek Suroboyo. Diorama ini terletak di bagian dalam Museum 10 Nopember, Surabaya, Jawa Timur.
|
EditorI Made Asdhiana

SURABAYA, KOMPAS.com - "Dan untuk kita saudara-saudara. Lebih baik kita hancur lebur daripada tidak merdeka. Semboyan kita tetap: merdeka atau mati!"

Penggalan pidato tersebut terdengar menggelegar di sebuah ruangan bagian dalam Museum 10 Nopember, Surabaya. Orang yang meneriakkan pidato tersebut tak lain adalah Bung Tomo, salah satu pemimpin revolusi paling berpengaruh di Indonesia. 

Waktu itu, 10 November 1945, Kota Surabaya diserang pasukan Inggris sehingga menewaskan ribuan orang. Banyaknya pejuang dan warga sipil yang gugur pada hari tersebut menjadikan 10 November dikenang sebagai Hari Pahlawan.

"Dan kita yakni saudara-saudara. Pada akhirnya pastilah kemenangan akan jatuh ke tangan kita. Sebab Allah selalu berada di pihak yang benar. Percayalah saudara-saudara. Tuhan akan melindungi kita sekalian."

Kemudian terdengarlah teriakan "Allahuakbar! Allahuakbar! Allahuakbar! Merdeka!" dari rekaman yang sama.

Meski ruangan tersebut dimasuki banyak orang, rekaman pidato Bung Tomo yang menggelegar tetap menggetarkan jiwa. KompasTravel menyambangi Museum 10 Nopember yang berlokasi di Jalan Pahlawan, Surabaya, di sela-sela acara #SelaluTauYangBaru yang diadakan Google Indonesia.

KOMPAS.COM/SRI ANINDIATI NURSASTRI Bagian depan Museum 10 Nopember, Surabaya, Jawa Timur.
Museum 10 Nopember adalah salah satu tempat rekomendasi Google App saat melakukan pencarian seputar museum di Surabaya. Museum ini terletak satu kompleks dengan Tugu Pahlawan, lengkap dengan taman penuh deretan pohon rindang.

Museum ini diresmikan pada 19 Februari 2000 oleh Presiden RI waktu itu, KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur.

Begitu masuk, wisatawan dihadapkan pada tangga turun yang mengarah pada sebuah ruangan. Sebelum tiba di ruangan tersebut, Anda akan melewati koridor penuh foto-foto sejarah termasuk peristiwa 10 November.

Pada ruangan lantai satu, terdapat beberapa diorama dan patung yang menyiratkan perjuangan rakyat Surabaya saat melawan tentara Inggris. Namun dari sekian diorama, satu yang paling mencolok adalah Bung Tomo lengkap dengan radio jadul miliknya.

KOMPAS.COM/SRI ANINDIATI NURSASTRI Beberapa foto sejarah tentang peristiwa 10 November di Surabaya.
Dari sinilah asal suara rekaman pidato Bung Tomo yang menggerakkan semangat para pemuda Surabaya untuk meraih kemenangan. Meski sudah 71 tahun yang lalu, gelegar pidato tersebut masih terdengar bergelora.

Pada lantai dua museum, terdapat beberapa peninggalan senjata yang dulu digunakan untuk berpeang. Mulai dari senjata laras panjang, pistol, hingga keris dan pisau.

Pada bagian luar, tepat di samping Tugu Pahlawan yang berbentuk lingga (paku terbalik) terdapat monumen Makam Pahlawan Tak Dikenal. Monumen ini dibangun untuk mengenang jasa ribuan pahlawan dan warga sipil yang meninggal saat peristiwa 10 November.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X