Kompas.com - 19/12/2016, 06:35 WIB
|
EditorI Made Asdhiana

AMBARAWA, KOMPAS.com - Melihat kode seri di tiap lokomotif tua mungkin membuat Anda penasaran. Kode seri yang terpampang jelas di muka lokomotif tersebut ternyata memiliki arti tertentu, bak nama pada manusia.

Pernahkah Anda bertanya-tanya arti dari seri tersebut di lokomotif kereta? Tak hanya lokomotif uap tua yang artistik di Museum Kereta Ambarawa, tetapi juga masih dipakai untuk lokomotif diesel saat ini.

Salah satu pionir Museum Kereta Ambarawa, Sudono menjelaskan pada KompasTravel saat kunjungan media ke museum tersebut dalam acara mediatrip Hotel GranDhika, Semarang.

“Penomeran itu dimulai sejak era kejayaan lokomotif-lokomotif Jerman. Dulu Jerman itu sangat ahli soal lokomotif, salah satunya merek Fried Krupp tahun 60-an,” ujar Sudono.

Jika dilihat seri tersebut bertuliskan campuran huruf dengan angka, seperti D30124, B5112, CC20015, dan yang lainnya.

Ia menjelaskan, ternyata huruf depan menunjukkan tenaga lokomotif tersebut, yaitu jumlah gigi penggerak yang beroperasi di lokomotif. Semisal seri D, yang merupakan urutan keempat dalam alfabet, berarti lokomotif tersebut memiliki empat roda penggerak untuk menarik gerbong.

KOMPAS.com/Muhammad Irzal Adiakurnia Museum Kereta Ambarawa yang sudah berusia 143 tahun di 2016 ini memiliki 28 lokomotif tua.
Sedangkan yang menggunakan dua huruf, seperti CC20015, berarti menggunakan 33 roda penggerak. Lokomotif tersebut biasanya tak terlalu tua, hingga lokomotif-lokomotif diesel yang saat ini masih digunakan.

“Di belakang huruf itu ada tiga digit angka, yang berarti seri mesin dan bisa dilihat berapa tempat masinis yang tersedia,” ujar Sudono.

Ia meneruskan, jika ketiganya ganjil atau tepatnya memiliki angka terakhir satu seperti D30124 berarti hanya terdapat satu ruang masinis, atau dioperasikan oleh satu masinis. Namun jika tiga angka pertama genap, atau bertuliskan D20021 berarti memiliki dua ruang masinis.

Setelah itu, dua angka paling belakang merupakan penomoran lokomotif serupa yang ada di Indonesia. Semisal D30124, berarti lokomotif tersebut urutan ke 24 dari lokomotif serupa yang ada di Indonesia kala itu.

Ia mengatakan, penobatan nomer seri tersebut dilakukan setelah sampai ke Indonesia, yaitu oleh PT Kereta Api Indonesia (PT KAI).

KOMPAS.com/Muhammad Irzal Adiakurnia Kode seri yang terpampang jelas di muka lokomotif tersebut ternyata memiliki arti tertentu.
Saat ini, jumlah koleksi lokomotif di Stasiun Ambarawa ada 28 buah. Terdiri dari 21 lokomotif uap sebagai benda pajang Museum dan tujuh lokomotif yang masih bisa beroperasi. Ketujuh lokomotif yang masih bisa beroperasi itu terdiri dari 3 lokomotif uap dan 4 lokomotif diesel.

Tiga loko uap yang aktif masing-masing berseri B5112, B2502 dan B2503 dan empat lokomotif jenis diesel yang aktif berseri D 30023, D 30124, CC 200.15 dan DD 5512.

Lokomotif tertua di Museum Kereta Ambarawa bernomor seri C1140 tahun 1890, buatan Jerman. Sedang yang termuda di kalangan lokomotif uap, bernomor CC5029 tahun 1928.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.