Kompas.com - 17/02/2017, 10:09 WIB
EditorI Made Asdhiana

Desa ”surga ski” yang pada hari biasa terlihat sangat sepi itu kini mengandalkan ekonominya dari pariwisata, khususnya olahraga ekstrem musim dingin seperti ski dan snowboarding.

Tidak umumnya desa di kaki gunung di Tanah Air, desa itu terlihat sangat modern.

Penginapan, hotel, resor ski mewah, hingga restoran dan minimarket bertaburan di desa ini. Hadirnya layanan shuttle bus, yang rutin berhenti dengan jadwal-jadwal tertentu di hampir setiap hotel besar dan sepuluh resor ski di Hakuba, kian memanjakan wisatawan yang berkunjung ke daerah beriklim dingin ini.

Terawat

Tidak seperti sarana olahraga di negara lain, misalnya Stadion Maracana di Brasil yang kini merana akibat ditelantarkan dan vandalisme pasca Olimpiade Rio 2016, sarana sisa Olimpiade 1998 di Hakuba masih sangat terpelihara.

Kami pun sempat menengok salah satu sarana itu, yaitu Stadion Ski Jumping Hakuba. Fasilitas olahraga yang memiliki dua lintasan ski jumping, yaitu setinggi 90 meter dan 120 meter, itu masih terawat dan dipakai sebagai arena kegiatan internasional, salah satunya Piala Dunia Ski Jumping pada Agustus 2016.

Stadion ski jumping itu bahkan menjadi salah satu obyek wisata andalan di Hakuba. Dari puncak menara stadion itu, pengunjung bisa menikmati lanskap indah hamparan Desa Hakuba dengan latar belakang ”tembok” Pegunungan Alpen Jepang.

Tak heran, kawasan ini kini sangat populer di mata warga Australia, Malaysia, bahkan Indonesia, yang menggemari olahraga bersalju.

”Pasca Olimpiade (Musim Dingin) 1998, kami banyak menerima permintaan (pemesanan wisata) dari sejumlah negara di dunia. Turis yang paling banyak berkunjung adalah dari Australia. Akhir-akhir ini kami bahkan menerima banyak kunjungan turis dari Indonesia. Sejak Olimpiade, kami menjadi sangat terbuka terhadap berbagai budaya asing, termasuk warga Muslim,” ujar Wakil Kepala Desa Hakuba Oota Humitoshj.

Nagano dan Jepang menunjukkan, hajatan Olimpiade bukanlah melulu tentang membangun sarana, melainkan juga merawatnya dan menjadikan warisan bagi semua warga.

Lebih jauh lagi, apa yang dilakukan di Nagano tentu patut dicontoh oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan Pemprov Sumatera Selatan yang kini tengah giat menyiapkan infrastruktur dan sarana olahraga untuk Asian Games 2018. (Yulvianus Harjono)

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 15 Februari 2017, di halaman 28 dengan judul "Menikmati "Warisan" Olimpiade Nagano 1998".

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Gelombang Panas di Jepang Cetak Rekor, Suhu Capai 40 Derajat Celcius

Gelombang Panas di Jepang Cetak Rekor, Suhu Capai 40 Derajat Celcius

Travel Update
Bali Jadi Destinasi Wisata Favorit Turis Rusia

Bali Jadi Destinasi Wisata Favorit Turis Rusia

Travel Update
Apakah di KRL Tidak Boleh Mengobrol dan Bertelepon? Ini Penjelasannya

Apakah di KRL Tidak Boleh Mengobrol dan Bertelepon? Ini Penjelasannya

Travel Update
Kafe Bertema Stranger Things Dibuka di Jepang hingga September 2022

Kafe Bertema Stranger Things Dibuka di Jepang hingga September 2022

Travel Update
Vaksin Booster Jadi Syarat Perjalanan, Berlaku dalam 2 Minggu

Vaksin Booster Jadi Syarat Perjalanan, Berlaku dalam 2 Minggu

Travel Update
Dieng Culture Festival 2022 Digelar Lagi, Ini Jadwal dan Daftar Acaranya

Dieng Culture Festival 2022 Digelar Lagi, Ini Jadwal dan Daftar Acaranya

Travel Update
10 Larangan dan Imbauan Pendakian Gunung Penanggungan via Tamiajeng

10 Larangan dan Imbauan Pendakian Gunung Penanggungan via Tamiajeng

Travel Tips
Tarif Kontribusi Konservasi Pulau Komodo Rp 3,75 Juta Masih Wacana

Tarif Kontribusi Konservasi Pulau Komodo Rp 3,75 Juta Masih Wacana

Travel Update
8 Tempat Wisata Dekat Florawisata D'Castello Ciater Subang

8 Tempat Wisata Dekat Florawisata D'Castello Ciater Subang

Jalan Jalan
Tips Mendaki Gunung Penanggungan via Tamiajeng, Jangan Meremehkan

Tips Mendaki Gunung Penanggungan via Tamiajeng, Jangan Meremehkan

Travel Tips
Rute ke Basecamp Pendakian Gunung Penanggungan via Tamiajeng, Mojokerto

Rute ke Basecamp Pendakian Gunung Penanggungan via Tamiajeng, Mojokerto

Travel Tips
Solo Hiking Gunung Penanggungan via Tamiajeng, Si Kecil yang Tak Boleh Diremehkan

Solo Hiking Gunung Penanggungan via Tamiajeng, Si Kecil yang Tak Boleh Diremehkan

Jalan Jalan
4 Wisata Dekat Pantai Pasir Putih PIK 2, Ada Banyak Tempat Kulineran

4 Wisata Dekat Pantai Pasir Putih PIK 2, Ada Banyak Tempat Kulineran

Jalan Jalan
Merespons Keinginan Putin, Kapan Penerbangan Moskwa-Bali Dibuka Lagi?

Merespons Keinginan Putin, Kapan Penerbangan Moskwa-Bali Dibuka Lagi?

Travel Update
Museum Bank Indonesia Buka 7 Juli, Catat HTM dan Ketentuan Masuk

Museum Bank Indonesia Buka 7 Juli, Catat HTM dan Ketentuan Masuk

Travel Update
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.