Kompas.com - 22/02/2017, 06:04 WIB
|
EditorSri Anindiati Nursastri

LASEM, KOMPAS.com - Kastari (53) terlihat duduk di atas krat botol sore itu. Pandangannya terlihat kosong, berbeda dengan suasana sekitar yang ramai meski hujan. Di depannya, tepat bagian depan pikulan terdapat tiga baskom berisi daging ayam dan ati ampela yang berkuah kuning. 

Peci hitam yang warnanya sudah kusam ia gunakan sebagai penutup kepala. Sementara itu, di badannya terbalut kaus biru bertuliskan kampanye presiden Indonesia dari salah satu partai. Sandal hitam berbahan kulit jadi alas kakinya.

Kastari bangun dari duduknya begitu ada pembeli yang datang. Ia langsung sigap mengambil piring dan memotong lontong yang tersimpan di pikulannya. Kemudian, sebuah pertanyaan meluncur dari mulutnya.

"Mau daging apa? Dada, brutu, sayap, kepala, atau ati? Mau tambah tempe?" tanya Kastari kepada KompasTravel yang beberapa waktu lalu menyambangi Kabupaten Rembang.

BACA: Durian Asli Lasem dengan Rasa Pahit-Manis...

Kastari adalah salah satu penjual Lontong Tuyuhan di Sentra Kuliner Lontong Tuyuhan yang terletak di Desa Tuyuhan, Kecamatan Pancur, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Setidaknya ada lebih dari lima penjual Lontong Tuyuhan di sentra kuliner itu.

KOMPAS.com / WAHYU ADITYO PRODJO Seporsi kuliner Lontong Tuyuhan tersaji di meja Sentra Kuliner Lontong Tuyuhan di Desa Tuyuhan, Kecamatan Pancur, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, Jumat (10/2/2017). Lontong Tuyuhan berisi potongan lontong, daging ayam, dan kuah kuning.

Laki-laki beranak tiga itu bukanlah penjual pertama Lontong Tuyuhan. Adalah ayahnya, Karmani yang pertama kali berjualan di pinggir Jalan Lasem - Pandan, Desa Tuyuhan itu. Kemudian aktivitas berjualan dilanjutkan oleh kakak kandungnya, Karnuji.

"Saya pertama jualan tahun 1970. Pertama yang jualan itu bapak, terus kakak, lalu saya. Dulu dijual 150 perak. Kalau sekarang Rp 11.000," kata Kastari saat berbincang dengan KompasTravel.

Resep Lontong Tuyuhan Kastari langsung diturunkan oleh ayahnya. Sejak kecil Kastari sudah membantu ayahnya berjualan dan membuat lontong.

Kakak Kastari berhenti berjualan Lontong Tuyuhan ketika menikah. Tonggak usaha keluarga itu dilanjutkan oleh Kastari.

Halaman:
Baca tentang


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.