Kompas.com - 03/04/2017, 08:23 WIB
|
EditorI Made Asdhiana

Mereka membawa tarian itu sesuai dengan konteks di mana Kepala Desa yang dilantik berasal dari desa penghasil kopi di seluruh Manggarai Timur.

Tarian "Pua Kopi" yang dipentaskan oleh penari lokal ini demi menghormati petani kopi di seluruh wilayah Manggarai Timur.

KOMPAS.COM/MARKUS MAKUR Seorang siswa SMAK Pancasila Borong sebagai peniup suling dalam pementasan tarian Pua Kopi untuk mengiringi para penari pada pementasan di Aula Pusat Perkantoran Bupati Manggarai Timur di Lehong, Kamis (30/3/2017).
Petani kopi bekerja keras mulai dari proses tanam, pemeliharaan lahan, pembersihan lahan sampai pada proses memetik kopi di kebunnya.

Berikutnya proses pengeringan kopi sampai menghasilkan bubuk kopi. Kopi Robusta dan Arabika dari Manggarai Timur khususnya dan Flores pada umumnya sudah diakui oleh dunia internasional terkait kualitas kopi terbaik di dunia.

Us Limbo, yang lihai meniup suling dipadukan dengan tabuhan gendang dan gong oleh Safio Cimi memberikan semangat kepada penari di atas podium untuk memberikan yang terbaik bagi hadirin yang menyaksikan pementasan tersebut.

Kelima penari itu membawa keranjang, bahasa lokalnya "Roto". Kebiasaan orang Manggarai Raya saat musim panen kopi tiba, peralatan yang selalu dibawa ke kebun adalah "Roto" yang terbuat dari bambu halus, bahasa lokalnya "Nghelung".

Peralatan untuk memetik kopi selain keranjang adalah parang, karung serta berbagai keperluan lainnya.

Tabuhan gong dan gendang dipadukan dengan tiupan suling memberikan dorongan kepada penari yang berada di podium untuk terus meliuk-liukkan tubuh mereka dengan keindahan-keindahan wajah perempuan Manggarai Raya.

Keranjang di gendong di bagian punggung, dalam bahasa lokal disebut "Eko Roto". Diterjemahkan secara harfiah adalah pikul keranjang yang berisi kopi yang sudah dipetik.

Instruktur sekaligus penata tari dari Sanggar Bengkes Nai, Berto Manti kepada KompasTravel seusai pementasan tarian Pua Kopi menjelaskan, tarian "Pua Kopi" bukanlah sebuah ritual yang diwariskan melainkan olahan dari seniman lokal untuk menghormati para petani yang tersebar di kampung-kampung.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.