Industri Kuliner, Penopang Tertinggi Perekonomian Kreatif di Indonesia

Kompas.com - 06/02/2018, 18:50 WIB
Penjual membuat serabi pada Festival Kuliner Serpong (FKS) di Summarecon Mall Serpong, Tangerang, Banten, Minggu (20/8/2017). FKS kali ini berlangsung dari 10 Agustus-10 September, mengangkat tema khas Jawa Barat dengan menyajikan hidangan otentik tanah Pasundan seperti kupat tahu, cireng, nasi jamblang, batagor, liwetan, dan masih banyak lagi. KOMPAS.com/ANDREAS LUKAS ALTOBELIPenjual membuat serabi pada Festival Kuliner Serpong (FKS) di Summarecon Mall Serpong, Tangerang, Banten, Minggu (20/8/2017). FKS kali ini berlangsung dari 10 Agustus-10 September, mengangkat tema khas Jawa Barat dengan menyajikan hidangan otentik tanah Pasundan seperti kupat tahu, cireng, nasi jamblang, batagor, liwetan, dan masih banyak lagi.
|
EditorWahyu Adityo Prodjo

JAKARTA, KOMPAS.com — Industri kuliner kian menggeliat di Indonesia. Data dari Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Republik Indonesia mencatat, subsektor kuliner berkontribusi 41,4 persen dari total kontribusi perekonomian kreatif Rp 922 triliun pada 2016. Jumlah tersebut merupakan yang paling tinggi dibandingkan 16 subsektor lain di Bekraf RI.

"Kuliner merupakan salah satu penopang di industri kreatif. Dari unit 8,2 juta unit industri kreatif, 68 persen bergerak di industri kuliner," kata Deputi Riset, Edukasi, dan Pengembangan Bekraf RI AR Boy Berawi pada acara peluncuran program Bango Penerus Warisan Kuliner 2018 di Restoran Suasana, Kuningan, Jakarta, Selasa (6/2/2018). 

Boy mengungkapkan industri kuliner memiliki potensi besar di Indonesia untuk terus berkembang. Bekraf RI mencoba memaksimalkan ekosistem dalam industri kuliner Indonesia yang dibagi menjadi beberapa aspek.

(Baca juga : Mamam Yuk! Ini 3 Kuliner Wajib Coba di Kampung Halaman Jokowi)

Aspek tersebut adalah pengembangan sumber daya manusia, permodalan, pemasaran, hak kekayaan intelektual, dan infrastruktur

 Warung Kopi Klotok biasa dipadati pengunjung pada saat jam makan siang. Para pecinta kuliner bisa mencicipi aneka makanan khas Jawa di rumah makan yang berada di Kabupaten Sleman, Yogyakarta.AAUZI AMAZIA DOMASTY/ KOMPAS.com Warung Kopi Klotok biasa dipadati pengunjung pada saat jam makan siang. Para pecinta kuliner bisa mencicipi aneka makanan khas Jawa di rumah makan yang berada di Kabupaten Sleman, Yogyakarta.A
"Bekraf memperbaiki ini agar industri kuliner dapat kondusif dan tumbuh berkembang. Intervensi yang dilakukan oleh Bekraf masuk dalam lingkaran ekosistem, tetapi intervensi itu tidak dapat dilakukan satu aspek karena permasalahan ekosistem itu tidak akan selesai," sebut Boy

Lewat program 'Food Start Up Indonesia', Bekraf mengajak pelaku di industri kuliner untuk mengembangkan binis. Finalis yang terpilih akan mendapat pelatihan bisnis serta akses ke investor bisnis.

(Baca juga : 4 Kuliner Khas Kudus yang Siap Bikin Perut Anda Kenyang)

Program tersebut akan dilakukan roadshow di 10 kota besar Indonesia. Untuk pendaftaran dapat dilakukan di situs www.foodstartupindonesia.com.

"Program ini untuk menumbuh kembangkan start up dari di bidang kuliner. Nantinya akan diberi pengembangan untuk kapasitas buildng, higienitas, permodalan, dan pemasaran. Program ini komprehensif dari hilir sampai hulu," jelas Boy.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Longgarkan Lockdown, Restoran dan Kafe di Selandia Baru Buka Kembali Termasuk McDonald's dan KFC

Longgarkan Lockdown, Restoran dan Kafe di Selandia Baru Buka Kembali Termasuk McDonald's dan KFC

Makan Makan
Apa Bedanya Biji Kopi Robusta dan Arabika? Mulai dari Bentuk, Rasa, sampai Proses Pengolahan

Apa Bedanya Biji Kopi Robusta dan Arabika? Mulai dari Bentuk, Rasa, sampai Proses Pengolahan

Makan Makan
Hari Susu Sedunia 2020, Apa Bedanya Susu UHT dengan Susu Pasteurisasi?

Hari Susu Sedunia 2020, Apa Bedanya Susu UHT dengan Susu Pasteurisasi?

Makan Makan
Gandeng Bali Paragon Resort Hotel, Kemenparekraf Sediakan 346 Kamar untuk Nakes

Gandeng Bali Paragon Resort Hotel, Kemenparekraf Sediakan 346 Kamar untuk Nakes

Whats Hot
Hari Susu Sedunia 2020, Sejak Kapan Manusia Mulai Minum Susu?

Hari Susu Sedunia 2020, Sejak Kapan Manusia Mulai Minum Susu?

Makan Makan
Hari Susu Sedunia 2020, Kenapa Lembang Jadi Daerah Penghasil Susu Pertama di Indonesia?

Hari Susu Sedunia 2020, Kenapa Lembang Jadi Daerah Penghasil Susu Pertama di Indonesia?

Makan Makan
Bali Paragon Resort Hotel Siapkan 297 Kamar untuk Tenaga Medis

Bali Paragon Resort Hotel Siapkan 297 Kamar untuk Tenaga Medis

Whats Hot
Negara-negara di ASEAN Bisa Jadi Contoh Indonesia Sebelum Buka Pariwisata

Negara-negara di ASEAN Bisa Jadi Contoh Indonesia Sebelum Buka Pariwisata

Whats Hot
Virtual Tour Mendaki Gunung Rinjani, Peserta Pakai Jaket Gunung

Virtual Tour Mendaki Gunung Rinjani, Peserta Pakai Jaket Gunung

Jalan Jalan
Liburan ke Jeju, Yuk Nginap di Resor Legend of the Blue Sea

Liburan ke Jeju, Yuk Nginap di Resor Legend of the Blue Sea

Jalan Jalan
Angkasa Pura II Perpanjang Pembatasan Penerbangan hingga 7 Juni

Angkasa Pura II Perpanjang Pembatasan Penerbangan hingga 7 Juni

Whats Hot
Bali Tak Kunjung Buka Pariwisata, Apa Alasannya?

Bali Tak Kunjung Buka Pariwisata, Apa Alasannya?

Whats Hot
Bali Perlu Inovasi Pariwisata untuk Hadapi New Normal

Bali Perlu Inovasi Pariwisata untuk Hadapi New Normal

Whats Hot
Kisah Unik Desa Pancasila di Kaki Gunung Tambora, Seperti Apa?

Kisah Unik Desa Pancasila di Kaki Gunung Tambora, Seperti Apa?

Jalan Jalan
Hari Pancasila, Simak Sejarah dan Fakta Menarik Gedung Pancasila

Hari Pancasila, Simak Sejarah dan Fakta Menarik Gedung Pancasila

Whats Hot
komentar di artikel lainnya
Close Ads X