Kompas.com - 22/06/2018, 10:15 WIB
Aktivitas warga di bantaran Sungai Ciliwung yang menyempit antara Tebet di Jakarta Selatan dan Jatinegara di Jakarta Timur, Jumat (18/9/2015). KOMPAS / AGUS SUSANTOAktivitas warga di bantaran Sungai Ciliwung yang menyempit antara Tebet di Jakarta Selatan dan Jatinegara di Jakarta Timur, Jumat (18/9/2015).

JAKARTA, KOMPAS.com - Tahun 2018 ini, usia Jakarta menginjak 491 tahun. Hari lahir Jakarta merujuk pada tanggal pertempuran tentara Demak pimpinan Sultan Fatahillah dengan pasukan Portugis di Pelabuhan Sunda Kelapa, tanggal 22 Juni 1527.

Fatahillah menang dalam pertempuran itu. Daerah yang berhasil dipertahankannya diberi nama baru, Jayakarta atau sekarang Jakarta.

Namun jauh sebelum pertempuran tersebut terjadi beberapa wilayah Jakarta ternyata sudah diperebutkan. Antara lain oleh kerajaan zaman Hindu-Budha juga pasca kejayaan kerajaan Mataram Islam.

Salah satu wilayah tertua awal peradaban Jakarta ialah Sungai Ciliwung. Awal peradabannya terjadi di muara sungai tersebut yang bersentuhan langsung dengan Laut Jakarta di utara.

Sejarawan sekaligus penulis buku sejarah Jakarta Jj Rizal mengatakan awal peradaban Jakarta berada di Sungai Ciliwung, sekitar 5.000 tahun yang lalu.

Jakarta yang kini menuju kota megapolitan berawal dari sebuah bandar atau pelabuhan kecil di muara Sungai Ciliwung pada jaman kerajaan Hindu-Tarumanagara pada abad kelima Masehi.

"Ya, sepanjang daerah aliran Ciliwung itu tempat tertua, ditemukan banyak peninggalan pra sejarah," tuturnya saat dihubungi KompasTravel, Kamis (21/6/2018).

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sejarah Jakarta yang kini disematkan sebagai hari kelahirannya yaitu 22 Juni 1527, berdasarkan bukti otentik Prasasti Tugu, yang masih bisa dilihat di Museum Nasional.

Namun, menurutnya prasasti tersebut baru ada di masa sejarah, sedangkan banyak peninggalan di aliran Ciliwung yang sudah ada sejak zaman prasejarah.

"Ga ada prasasti di aliran Ciliwung sebab itu zaman prasejarah. Bukti yang paling banyak adalah penemuan kapak perimbas di sepanjang Ciliwung," tuturnya.

Namun jika ditelusuri, aliran Sungai Ciliwung kini sudah berbeda dengan zaman prasejarah tersebut, karena sempat adanya banyak perubahan di masa kolonial Hindia Belanda.

Tepatnya pada abad 17, dibawah Gubernur Jendral Ja Pieterszoon Coen. Dalam buku Membenahi Tata Air Jabodetabek, karya AR Soehoed, kala itu Batavia mengalami kekeringan di musim kemarau, karena beban hidrolis yang tidak dapat dipikul Sungai Ciliwung.

Alhasil, Hindia Belanda mulai membuka-tutup kanal-kanal yang ada, juga membuat sodetan-sodetan aliran, memindahkan aliran, membuat tanggul-tanggul, tetapi dengan tergesa-gesa.

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Beli Tiket Kereta Api Jarak Jauh Wajib Pakai NIK Mulai 26 Oktober 2021

Beli Tiket Kereta Api Jarak Jauh Wajib Pakai NIK Mulai 26 Oktober 2021

Travel Update
Mau Wisata Sejarah Sambil Menikmati Alam Bawah Laut? Coba Diving Bernuansa Perang Dunia II di Morotai

Mau Wisata Sejarah Sambil Menikmati Alam Bawah Laut? Coba Diving Bernuansa Perang Dunia II di Morotai

BrandzView
Anak di Bawah 12 Tahun Boleh Naik Pesawat jika Ada Diskresi dari Satgas Covid-19

Anak di Bawah 12 Tahun Boleh Naik Pesawat jika Ada Diskresi dari Satgas Covid-19

Travel Update
Panduan Berwisata ke Pos Bloc Jakarta, Jangan Datang Sore

Panduan Berwisata ke Pos Bloc Jakarta, Jangan Datang Sore

Travel Tips
Yogyakarta PPKM Level 2, Taman Pintar Mulai Dikunjungi Wisatawan

Yogyakarta PPKM Level 2, Taman Pintar Mulai Dikunjungi Wisatawan

Travel Update
5 Aktivitas Wisata di Pos Bloc Jakarta, Santai di Bean Bag sampai Foto-foto

5 Aktivitas Wisata di Pos Bloc Jakarta, Santai di Bean Bag sampai Foto-foto

Jalan Jalan
Wisata ke Pos Bloc Jakarta, Ada Apa Saja?

Wisata ke Pos Bloc Jakarta, Ada Apa Saja?

Jalan Jalan
3 Tempat Wisata Sekitar Kitagawa Pesona Bali Wonogiri, Ada Gunung Kelir

3 Tempat Wisata Sekitar Kitagawa Pesona Bali Wonogiri, Ada Gunung Kelir

Jalan Jalan
Rute Tercepat ke Kitagawa Pesona Bali, Kampung Bali di Wonogiri

Rute Tercepat ke Kitagawa Pesona Bali, Kampung Bali di Wonogiri

Travel Tips
Wisata Gunungkidul Resmi Dibuka

Wisata Gunungkidul Resmi Dibuka

Travel Update
3 Aktivitas di Kitagawa Pesona Bali Wonogiri, Lihat Pertunjukan Budaya

3 Aktivitas di Kitagawa Pesona Bali Wonogiri, Lihat Pertunjukan Budaya

Jalan Jalan
Artotel Group Raih Pendanaan Seri B, Targetkan Lebih dari 50 Properti di 2023

Artotel Group Raih Pendanaan Seri B, Targetkan Lebih dari 50 Properti di 2023

Travel Update
Kitagawa Pesona Bali, Tempat Wisata Bernuansa Pulau Dewata di Wonogiri

Kitagawa Pesona Bali, Tempat Wisata Bernuansa Pulau Dewata di Wonogiri

Jalan Jalan
Ancol Belum Terima Wisatawan Usia di Bawah 12 Tahun Saat Libur Maulid

Ancol Belum Terima Wisatawan Usia di Bawah 12 Tahun Saat Libur Maulid

Travel Update
Wisatawan di Bantul Diharapkan Tunjukkan Kartu Vaksin Jika Susah Akses PeduliLindungi

Wisatawan di Bantul Diharapkan Tunjukkan Kartu Vaksin Jika Susah Akses PeduliLindungi

Travel Update

Video Pilihan

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.