Rekor Baru, Dua Pilot Paralayang asal Afrika Selatan Terbang dari Gunung Carstensz Papua - Kompas.com

Rekor Baru, Dua Pilot Paralayang asal Afrika Selatan Terbang dari Gunung Carstensz Papua

Kompas.com - 13/12/2018, 13:30 WIB
Tim penerbang paralayang dari Afrika Selatan, Pierre Carter dan Nico Hickley terbang dari Gunung Carstensz di ketinggian 4.600 meter di atas permukaan laut, Papua, Selasa (11/12). Pencapaian Pierre dan Nico memecahkan rekor sebagai penerbang pertama menggunakan paralayang dari Gunung Carstensz.Dok. Tim 7 Summit 7 Flight Tim penerbang paralayang dari Afrika Selatan, Pierre Carter dan Nico Hickley terbang dari Gunung Carstensz di ketinggian 4.600 meter di atas permukaan laut, Papua, Selasa (11/12). Pencapaian Pierre dan Nico memecahkan rekor sebagai penerbang pertama menggunakan paralayang dari Gunung Carstensz.


JAKARTA, KOMPAS.com - Dua penerbang paralayang asal Afrika Selatan, Pierre Carter dan Nico Hickley berhasil terbang dengan paralayang di Gunung Carstensz, Papua dari ketinggian sekitar 4.600 meter dari permukaan laut (mdpl), Selasa (11/12/2018). Penerbangan tersebut tercatat sebagai rekor baru yaitu “Penerbangan pertama menggunakan paralayang pertama dari Gunung Carstensz”.

"Kami memulai perjalanan dari pukul tiga pagi menuju puncak, kemudian sampai pukul sembilan pagi. Saya mencoba terbang sampai enam kali hingga angin bagus. Akhirnya, Nico berhasil terbang di percobaan pertama," kata Pieter dihubungi KompasTravel, Rabu (12/12/2018)/

Baik Carter maupun Hickley mengatakan sangat gembira atas keberhasilan terbang dari Gunung Cartensz ini. Sebenarnya persiapan telah dilakukan dua tahun sebelumnya. Namun sayang sebelum melakukan, keduanya gagal terbang di Cartenz. Hickley sempat mengalami kecelakaan di 2017 dan isu keamanan di Papua menjadi pertimbangan.

Ketika mendaki Gunung Carstensz keduanya bercerita sempat mengalami kesulitan. Salah satunya adalah terbang di ketinggian ribuan meter dan lepas landas dari medan bebatuan dan berpasir. Pieter, misalnya, mereka harus mencoba lepas landas enam kali sampai benar-benar terbang. Adapun Nico yang berhasil pertama kali terbang sekitar pukul 10.00 waktu setempat.

Tim penerbang paralayang dari Afrika Selatan, Pierre Carter dan Nico Hickley menuju puncak Gunung Carstensz di Papua, Selasa (11/12). Pencapaian Pierre dan Nico memecahkan rekor sebagai penerbang pertama menggunakan paralayang dari Gunung Carstensz.Dok. Tim 7 Summit 7 Flight Tim penerbang paralayang dari Afrika Selatan, Pierre Carter dan Nico Hickley menuju puncak Gunung Carstensz di Papua, Selasa (11/12). Pencapaian Pierre dan Nico memecahkan rekor sebagai penerbang pertama menggunakan paralayang dari Gunung Carstensz.

"Kami sungguh sangat beruntung karena bisa terbang dengan cuaca yang baik kemarin, karena untuk terbang butuh cuaca yang terbang. 30 detik pertama kami terbang, kami berteriak. kami tentu berpikir bisa terjatuh saat terbang," kata Pieter.

Pieter menambahkan tantangan saat terbang dari Gunung Carstensz yaitu ketinggian gunung. Selain itu, medan bebatuan dan berpasir di tempat tinggal landas (take off).

“Salah satu problem terbang di Carstensz adalah bebatuan gunung yang tajam, tali-tali paragling harus dicek supaya tak putus. Saya mencoba hampir 6 kali hingga bisa take off. Nico menunggu waktu yang tepat, lalu sekali coba bisa terbang,” jelas Pieter.

Tim penerbang paralayang dari Afrika Selatan, Pierre Carter dan Nico Hickley di puncakGunung Carstensz di ketinggian 4.884 meter di atas permukaan laut, Papua, Selasa (11/12). Pencapaian Pierre dan Nico memecahkan rekor sebagai penerbang pertama menggunakan paralayang dari Gunung Carstensz.Dok. Tim 7 Summit 7 Flight Tim penerbang paralayang dari Afrika Selatan, Pierre Carter dan Nico Hickley di puncakGunung Carstensz di ketinggian 4.884 meter di atas permukaan laut, Papua, Selasa (11/12). Pencapaian Pierre dan Nico memecahkan rekor sebagai penerbang pertama menggunakan paralayang dari Gunung Carstensz.

Misi Carter dan Hickley adalah melakukan pendakian di tujuh gunung tertinggi di tujuh benua dalam program 7Summits7Flights dan kemudian terbang dengan paralayang dari gunung-gunung tersebut.

Nico menyebut saat terbang melihat pemandangan salju dan glacier. Ia mengatakan pemandangan saat terbang sangat indah.

“Kami berterima kasih kepada Denny dan para guide akhirnya bisa terwujud ekspedisi kami. Kami terbang sekitar 20 menit di udara. Pemandangannya sangat indah,” ujarnya.

Rekor baru

Penerbangan paralayang dari Gunung Carstensz adalah kegiatan yang diburu oleh para petualang di Indonesia maupun di dunia. Penerbang paralayang senior di Indonesia sekaligus mantan Kepala Pelatnas Paralayang Asian Games 2018, Gendon Subandono mengatakan pencapaian Pieter dan Nico adalah rekor baru di Indonesia.

“Untuk paralayang, mereka pertama kali yang bisa terbang di Carstensz. Sepanjang saya yang tahu itu belum ada yang terbang dari sana,” kata Gendon saat dihubungi KompasTravel, Kamis (13/12).

Tim penerbang paralayang dari Afrika Selatan, Pierre Carter dan Nico Hickley terbang dari Gunung Carstensz di ketinggian 4.600 meter di atas permukaan laut, Papua, Selasa (11/12). Pencapaian Pierre dan Nico memecahkan rekor sebagai penerbang pertama menggunakan paralayang dari Gunung Carstensz.Dok. Tim 7 Summit 7 Flight Tim penerbang paralayang dari Afrika Selatan, Pierre Carter dan Nico Hickley terbang dari Gunung Carstensz di ketinggian 4.600 meter di atas permukaan laut, Papua, Selasa (11/12). Pencapaian Pierre dan Nico memecahkan rekor sebagai penerbang pertama menggunakan paralayang dari Gunung Carstensz.
Percobaan terbang dari Gunung Carstensz sendiri sudah dicoba beberapa kali oleh penerbang dari Indonesia. Namun, kondisi cuaca, medan di Gunung Carstensz dan pendanaan menjadi kendala yang dihadapi tim Indonesia.

“Kendalanya menuju Cartensz yang sulit karena mahal. Buat Indonesia tak masalah. Kegiatan adventure paralayang akan kita lakukan dengan lebih safety dan cerita yang lebih baru,” ujarnya.

Denny Engka dari agen perjalanan Carstensz Expedition selaku pendamping kegiatan Nico dan Pieter,  menyebut mereka sudah menghubungi pihaknya sejak tahun lalu terkait ekspedisi paralayang. Pada kesempatan kali ini, Nico dan Pieter ditemani oleh dua orang pemandu yaitu Lucky Kolompoy dan Muhammad Hatta.

“Tahun lalu sebenarnya saya juga sempat bawa glider (parasut) ke basecamp, tapi (gagal) cuaca kurang bersahabat,” kata Denny saat dihubungi KompasTravel.

Tim penerbang paralayang dari Afrika Selatan, Pierre Carter dan Nico Hickley mendarat di Lembah Kuning, Gunung Carstensz di ketinggian 4.300 meter di atas permukaan laut, Papua, Selasa (11/12). Pencapaian Pierre dan Nico memecahkan rekor sebagai penerbang pertama menggunakan paralayang dari Gunung Carstensz. Tim penerbang paralayang dari Afrika Selatan, Pierre Carter dan Nico Hickley mendarat di Lembah Kuning, Gunung Carstensz di ketinggian 4.300 meter di atas permukaan laut, Papua, Selasa (11/12). Pencapaian Pierre dan Nico memecahkan rekor sebagai penerbang pertama menggunakan paralayang dari Gunung Carstensz.
Nico dan Pieter, lanjut Denny, terbang dari pos Teras Besar dengan ketinggian sekitar 4.600 mdpl dan mendarat di Lembah Kuning di ketinggian 4.300 mdpl.

Cartenz menjadi gunung keempat yang didaki dan diterbangi keduanya. Mereka telah berhasil terbang dari Gunung Kilimanjaro (Benua Afrika), Gunung Aconcagua (Benua Amerika), Gunung Elbrus (Benua Eropa).

Perlu diketahui baik Carter maupun Hickley adalah penerbang paralayang profesional. Mereka telah terbang 30 tahun sejak tahun 1980.

 

 

 



Close Ads X