Huler Wair, Tradisi Menyambut Tamu di Sikka Flores

Kompas.com - 06/05/2019, 15:09 WIB
Dalam peresmian gedung Kopdit Pintu Air di Kabupaten Sikka, NTT, Jumat (3/5/2019), semua anggota koperasi dari 47 cabang di Indonesia wajib mengenakan kain tenun ikat masing-masing daerah. KOMPAS.com/NANSIANUS TARISDalam peresmian gedung Kopdit Pintu Air di Kabupaten Sikka, NTT, Jumat (3/5/2019), semua anggota koperasi dari 47 cabang di Indonesia wajib mengenakan kain tenun ikat masing-masing daerah.

"Sebelum tamu dan kita semua memulai kegiatan terlebih dahulu membuat ritual Huler Wair. Kita meminta restu kepada ibu bumi dan bapa langit, bahwa hari ini ada kegiatan seperti ini. Ibu bumi dan bapa langit memberi kesejukan. Air dan daun tadi memberikan kesejukan, kesegaran, dan kedamaian bagi tamu-tamu yang hadir di tempat ini. Tanpa ada bumi, tanpa ada ibu kita tidak bisa hidup. Tanpa bapa langit, bulan dan matahari kita tidak bisa hidup. Itulah makanya kita membuat ritual ini sebelum memulai kegiatan," jelas Yosef Gervasius kepada Kompas.com.

"Ini juga dibuat untuk meminta kepada para leluhur agar tamu yang datang terhindar dari segala macam bahaya selama berada di tempat ini," sambung Yosef.

Ia menerangkan, dalam ritual ini, daun yang digunakan untuk memercik air kelapa kepada tamu diambil dari satu pohon yaitu pohon Huler. Pohon ini ini dipilih karena selalu tumbuh subur, baik pada musim hujan maupun musim panas.

Sementara air kelapa merupakan lambang kesejukan dan kesucian. Karena air kelapa itu belum dijamah oleh apa pun.

"Air kelapa itu betul-betul suci. Belum dijamah oleh siapa-siapa. Air itu berada di atas. Untuk mendapatkan air kelapa itu kita mesti berjuang, setelah itu ada kupas kulit luar, ada lagi saputnya, kemudian ada tempurung, baru ada airnya," terang Yosef.

Sementara itu, Ketua Kopdit Pintu Air, Yakobus Jano mengungkapkan Indonesia kaya akan tradisi dan budaya yang diwariskan para leluhur.

Ia mengatakan, tradisi dan budaya merupakan identitas bangsa yang perlu dijaga dan dilestarikan agar tidak mati dan hilang.

"Sejak berdirinya Koperasi Pintu Air sampai sebesar ini tidak terlepas campur tangan para leluhur. Karena itu, untuk menghargai leluhur, kita melestarikan tradisi ini pada setiap acara apa pun, termasuk dalam peresmian gedung ini. Sebagai makhluk berbudaya, kita harus melakukan ritual adat dalam kegiatan ini," ungkap Yakobus.

Ia menjelaskan, selain ritual adat, dalam kegiatan peresmian gedung Kopdit Pintu Air, semua anggota koperasi dari 47 cabang di Indonesia wajib mengenakan kain tenun ikat masing-masing daerah.

"Pesannya adalah Indonesia ini berbeda tetapi satu. Bhinneka Tunggal Ika itu harus berada dalam kebersamaan secara konkret. Tidak bisa hanya kata-kata. Kata-kata boleh bersatu, tetapi faktanya tetap berseberangan. Bagi saya, koperasi ini bukan hanya sebagai wadah ekonomi, tetapi juga sebagai corong pemersatu bangsa. Jadi, ini adalah Indonesia. Kita memakai busana kain tenun ikat masing-masing daerah sebagai wujud nyata dari Bhinneka Tunggal Ika," kata Yakobus.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X