Kompas.com - 06/05/2019, 15:09 WIB

"Sebelum tamu dan kita semua memulai kegiatan terlebih dahulu membuat ritual Huler Wair. Kita meminta restu kepada ibu bumi dan bapa langit, bahwa hari ini ada kegiatan seperti ini. Ibu bumi dan bapa langit memberi kesejukan. Air dan daun tadi memberikan kesejukan, kesegaran, dan kedamaian bagi tamu-tamu yang hadir di tempat ini. Tanpa ada bumi, tanpa ada ibu kita tidak bisa hidup. Tanpa bapa langit, bulan dan matahari kita tidak bisa hidup. Itulah makanya kita membuat ritual ini sebelum memulai kegiatan," jelas Yosef Gervasius kepada Kompas.com.

"Ini juga dibuat untuk meminta kepada para leluhur agar tamu yang datang terhindar dari segala macam bahaya selama berada di tempat ini," sambung Yosef.

Ia menerangkan, dalam ritual ini, daun yang digunakan untuk memercik air kelapa kepada tamu diambil dari satu pohon yaitu pohon Huler. Pohon ini ini dipilih karena selalu tumbuh subur, baik pada musim hujan maupun musim panas.

Sementara air kelapa merupakan lambang kesejukan dan kesucian. Karena air kelapa itu belum dijamah oleh apa pun.

"Air kelapa itu betul-betul suci. Belum dijamah oleh siapa-siapa. Air itu berada di atas. Untuk mendapatkan air kelapa itu kita mesti berjuang, setelah itu ada kupas kulit luar, ada lagi saputnya, kemudian ada tempurung, baru ada airnya," terang Yosef.

Sementara itu, Ketua Kopdit Pintu Air, Yakobus Jano mengungkapkan Indonesia kaya akan tradisi dan budaya yang diwariskan para leluhur.

Ia mengatakan, tradisi dan budaya merupakan identitas bangsa yang perlu dijaga dan dilestarikan agar tidak mati dan hilang.

"Sejak berdirinya Koperasi Pintu Air sampai sebesar ini tidak terlepas campur tangan para leluhur. Karena itu, untuk menghargai leluhur, kita melestarikan tradisi ini pada setiap acara apa pun, termasuk dalam peresmian gedung ini. Sebagai makhluk berbudaya, kita harus melakukan ritual adat dalam kegiatan ini," ungkap Yakobus.

Ia menjelaskan, selain ritual adat, dalam kegiatan peresmian gedung Kopdit Pintu Air, semua anggota koperasi dari 47 cabang di Indonesia wajib mengenakan kain tenun ikat masing-masing daerah.

"Pesannya adalah Indonesia ini berbeda tetapi satu. Bhinneka Tunggal Ika itu harus berada dalam kebersamaan secara konkret. Tidak bisa hanya kata-kata. Kata-kata boleh bersatu, tetapi faktanya tetap berseberangan. Bagi saya, koperasi ini bukan hanya sebagai wadah ekonomi, tetapi juga sebagai corong pemersatu bangsa. Jadi, ini adalah Indonesia. Kita memakai busana kain tenun ikat masing-masing daerah sebagai wujud nyata dari Bhinneka Tunggal Ika," kata Yakobus.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Candi Plaosan, Saksi Cinta Beda Agama di Desa Wisata Bugisan Jateng

Candi Plaosan, Saksi Cinta Beda Agama di Desa Wisata Bugisan Jateng

Jalan Jalan
Mahalnya Tiket Pesawat Pengaruhi Kunjungan Wisatawan ke Lombok Tengah

Mahalnya Tiket Pesawat Pengaruhi Kunjungan Wisatawan ke Lombok Tengah

Travel Update
Piala Dunia 2026 Digelar di 3 Negara dan 16 Kota, Simak Stadionnya

Piala Dunia 2026 Digelar di 3 Negara dan 16 Kota, Simak Stadionnya

Jalan Jalan
Kapan Waktu Menyampaikan Ucapan Idul Adha? Jangan Sampai Telat

Kapan Waktu Menyampaikan Ucapan Idul Adha? Jangan Sampai Telat

Travel Tips
Mengenal Rumah Paling Terpencil di Dunia di Islandia

Mengenal Rumah Paling Terpencil di Dunia di Islandia

Jalan Jalan
Jangan Bawa Barang Saat Evakuasi Darurat dari Pesawat, Ini Alasannya

Jangan Bawa Barang Saat Evakuasi Darurat dari Pesawat, Ini Alasannya

Travel Tips
Kenapa Idul Adha Disebut Lebaran Haji? Simak Penjelasannya 

Kenapa Idul Adha Disebut Lebaran Haji? Simak Penjelasannya 

Jalan Jalan
147 Desa di Sikka NTT Diimbau Prioritaskan Sektor Pariwisata

147 Desa di Sikka NTT Diimbau Prioritaskan Sektor Pariwisata

Travel Update
10 Wisata Alam Subang, Bisa Dikunjungi Saat Hari Libur

10 Wisata Alam Subang, Bisa Dikunjungi Saat Hari Libur

Jalan Jalan
Wacana Biaya Kontribusi Konservasi TN Komodo Rp 3,75 Juta, Ketahui 10 Hal Ini

Wacana Biaya Kontribusi Konservasi TN Komodo Rp 3,75 Juta, Ketahui 10 Hal Ini

Travel Update
Disneyland Shanghai Buka Lagi Setelah Tutup Sejak 21 Marer 2022

Disneyland Shanghai Buka Lagi Setelah Tutup Sejak 21 Marer 2022

Travel Update
6 Tradisi Idul Adha di Arab Saudi, Bagi Daging Kurban Lintas Negara

6 Tradisi Idul Adha di Arab Saudi, Bagi Daging Kurban Lintas Negara

Jalan Jalan
Pasca-Kecelakaan Kapal Wisata di Labuan Bajo, Nakhoda Diminta Lebih Profesional

Pasca-Kecelakaan Kapal Wisata di Labuan Bajo, Nakhoda Diminta Lebih Profesional

Travel Update
Info Shalat Idul Adha 2022 di Masjid Istiqlal, Jam Mulai sampai Tips

Info Shalat Idul Adha 2022 di Masjid Istiqlal, Jam Mulai sampai Tips

Travel Update
Tari Ja'i Meriahkan Turnamen Sepak Bola HUT ke-76 Bhayangkara di Manggarai Timur

Tari Ja'i Meriahkan Turnamen Sepak Bola HUT ke-76 Bhayangkara di Manggarai Timur

Travel Update
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.