Destinasi Domestik Paling Terimbas Harga Tiket Pesawat Mahal

Kompas.com - 15/05/2019, 19:12 WIB
Kawasan perairan di Pianemo yang memiliki pemandangan mirip Wayag - sama-sama berada di Raja Ampat Papua Barat - dideklarasikan masyarakat setempat menjadi perairan perlindungan laut Kepulauan Fam. Perairan ini memiliki luas 350.000 ha serta menjadi habitat bagi berbagai jenis ikan dan karang.KOMPAS/ICHWAN SUSANTO Kawasan perairan di Pianemo yang memiliki pemandangan mirip Wayag - sama-sama berada di Raja Ampat Papua Barat - dideklarasikan masyarakat setempat menjadi perairan perlindungan laut Kepulauan Fam. Perairan ini memiliki luas 350.000 ha serta menjadi habitat bagi berbagai jenis ikan dan karang.

JAKARTA, KOMPAS.com - Imbas naiknya harga tiket pesawat membuat pergerakan wisatawan domestik menurun. Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan lewat data yang diterima dari Asita dan PHRI, pergerakan wisatawan domestik turun sampai 30 persen karena harga tiket pesawat yang melambung tinggi.

"Paling banyak turun itu adalah destinasi di luar Jawa. Mengapa di Jawa relatif bertahan? karena di Pulau Jawa lebih banyak yang overland (perjalanan via darat)," jelas Arief.

Arief mencontohkan di Jawa Timur, dari 50 juta wisatawan domestik, 70 persennya memilih perjalanan via darat untuk berwisata. Hal ini juga terjadi pada wisatawan domestik provinsi Jawa lainnya.

Sedangkan di luar Pulau Jawa, menurut Arief, destinasi seperti Labuan Bajo, Raja Ampat, dan Lombok mengalami penurunan paling parah imbas kenaikan harga tiket domestik.

Baca juga: Kisaran Harga Tiket Bus dan Kenaikannya untuk Mudik Lebaran

Ia juga menjelaskan, sebanyak dua sampai tiga persen dari jumlah wisatawan mancanegara juga mengurungkan niat untuk bepergian ke lain daerah atau pulau selama di Indonesia karena harga tiket pesawat domestik yang mahal. 

Untuk itu Arief meminta agar tarif batas atas tiket maskapai berbiaya rendah dapat diturunkan sampai 40 persen untuk mendukung pergerakan wisatawan domestik.

"Data dari BPS menyebutkan terjadi penurunan penumpang pesawat 22 persen. Saya prediksi 20 persen penunpang akan pindah ke transportasi darat," ucap Arief.

Ia juga menyebutkan akan ada keseimbangan baru, ketika harga tiket pesawat pada level tertentu akan diterima oleh masyarakat, dan jumlah wisatawan yang menggunakan transportasi darat dibanding udara akan jauh berbeda.

"Saat harga tiket pesawat naik ini yang lebih banyak (bepergian) adalah pebisnis bukan untuk berwisata," jelas Arief.

Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X