Paradigma Pariwisata Alami Pergeseran Akibat Covid-19

Kompas.com - 28/01/2021, 10:34 WIB
Ilustrasi wisatawan sedang liburan di Pantai Kelingking, Nusa Penida, Bali. SHUTTERSTOCK/GUITAR PHOTOGRAPHERIlustrasi wisatawan sedang liburan di Pantai Kelingking, Nusa Penida, Bali.

KOMPAS.com – Ketua Ikatan Cendikiawan Pariwisata Indonesia Azril Azahari mengatakan, paradigma pariwisata di Indonesia mengalami pergeseran akibat pandemi Covid-19.

“Sekarang pariwisata sudah bergeser menjadi customized tourism. Lebih personalized dan sanitized. Di sini pariwisata tidak lagi masif tapi personal, small sized. Lebih ke special interest,” tuturnya.

Hal tersebut dia ungkapkan dalam webinar World Tourism Day Indonesia bertajuk “Talkshow Indonesia Tourism Outlook 2021 & Beyond”, Rabu (27/1/2021).

Baca juga: Pengembangan Wisata di Kawasan Konservasi, KLHK: Menuju Pariwisata Berkualitas

Berdasarkan pemaparan Azril, sebelum tahun 1980-an, industri pariwisata lebih mengedepankan pariwisata berkuantitas dengan pendekatan keuntungan sebelum bergeser menjadi pariwisata alternatif pada 1980-2000.

Pada periode tersebut, pariwisata mulai memajukan sosial dan budaya melalui pendekatan masyarakat. Kemudian, paradigma kembali bergeser pada pariwisata berkualitas pada 2000-2020.

Ilustrasi Wisatawan - Seorang wisatawan sedang duduk di Lincolns Rock di Blue Mountains, Australia.SHUTTERSTOCK Ilustrasi Wisatawan - Seorang wisatawan sedang duduk di Lincolns Rock di Blue Mountains, Australia.

Pariwisata berkualitas disebutkan oleh Azril memiliki pendekatan ramah lingkungan yang membuat industri pariwisata berkelanjutan.

Kendati demikian, paradigma pariwisata tersebut bergeser pada krisis pandemi Covid-19 yang mementingkan kesehatan, higienitas dan kebersihan, sanitasi, serta keamanan.

Baca juga: Luhut Sampai Turun Tangan, Ini Pentingnya Kualitas WC di Tempat Wisata

Adapun, paradigma tersebut bergeser menjadi customized tourism atau pariwisata yang disesuaikan. Dalam hal ini, wisatawan cederung akan bepergian dengan grup kecil dan berwisata berdasarkan apa yang diminati.

“Kita (lihat) juga pariwisata sains dan teknologi akan berkembang berikutnya. Misal di hotel dengan robot cleaner. Teknologi tinggi akan berkembang pesat di pariwisata,” ujar Azril.

Pertimbangan untuk pembuatan kebijakan

Melalui paradigma pariwisata yang bergeser, Azril mengatakan bahwa hal tersebut dapat digunakan sebagai bahan pertibmangan dalam pembuatan kebijakan-kebijakan terkait industri pariwisata mendatang.

Dia melanjutkan, hal tersebut penting lantaran jika melihat dari kondisi saat ini, industri pariwisata termasuk di Indonesia sangat terdampak oleh pandemi Covid-19.

Baca juga: 9 Jenis Wisata Petualangan yang Paling Unggul, Ada Budaya dan Kuliner

“Dulu setiap krisis ekonomi, pariwisata tetap berjalan. Tapi sekarang bukan ekonomi, tapi ke pandemi. Wabah. Pergeseran bisa jadi bahan pertimbangan,” ucapnya.

Jika paradigma pariwisata dijadikan pertimbangan, sambung Azril, tidak hanya industri pariwisata yang dapat berjalan namun juga ekonomi, serta keselamatan masyarakat termasuk wisatawan.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X