Senin, 24 November 2014

/ Travel

Pendap nan Gurih, Oleh-oleh Khas Bengkulu

Minggu, 4 September 2011 | 15:01 WIB

Berita Terkait

KOMPAS.com — Pendap adalah makanan khas Bengkulu. Makanan ini sering diburu wisatawan sebagai oleh-oleh untuk dibawa ke daerah asal mereka, apalagi pada musim liburan Lebaran seperti saat ini.

"Makanan khas Bengkulu ini banyak diminati oleh wisatawan yang berasal dari Lubuk Linggau, Jakarta, dan Lampung untuk dijadikan sebagai oleh-oleh saat pulang ke daerah asal mereka," kata Fatmawati, salah seorang pemilik usaha pendap di Kelurahan Pasar Bengkulu, Bengkulu, Sabtu (3/9/2011).

Ia menerangkan, pendap terbuat dari bumbu-bumbu yang beraneka ragam, seperti bawang putih, kencur, dan cabai giling. Kemudian, bahan-bahan itu dicampur merata dengan parutan kelapa muda.

"Bumbu yang bercampur dengan parutan kelapa muda selanjutnya dibungkus dengan daun talas, dimasukkan sepotong ikan, lalu direbus selama delapan jam," ujarnya. Jenis ikan yang digunakan bervariasi, seperti kakap, gemuru, dan terusan.

"Ikan yang digunakan untuk membuat pendap sebanyak 150 buah, cukup 10 kilogram saja," katanya lagi.

Pendap memiliki rasa pedas dan gurih. Pendap dijadikan lauk makan nasi yang bisa meningkatkan selera makan seseorang.  Fatmawati mengatakan, warga Bengkulu yang merantau juga sering membawa pendap sebagai oleh-oleh.

Pendap buatannya juga dibawa sebagai oleh-oleh saat mudik oleh warga Bengkulu yang merantau ke luar negeri, yakni Malaysia dan Belgia. "Meskipun bukan jenis penganan kering, makanan ini dapat dipaketkan ke daerah lain asalkan kemasannya aman," ungkapnya.

Harga satu bungkus pendap tersebut hanya Rp10.000 untuk ukuran standar, sedangkan untuk yang jenis super lebih mahal. "Ada juga pembeli yang memesan jenis super dengan harga per bungkus Rp15.000 ke atas," katanya.

Ia mengatakan, pada bulan Ramadhan lalu, pendap buatannya juga banyak dipesan untuk disantap saat berbuka puasa dan oleh-oleh mudik Lebaran. Pada bulan puasa, ia bisa membuat pendap hingga 150 bungkus sehari, sedangkan pada hari biasa hanya 100 bungkus.


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Penulis: Ni Luh Made Pertiwi F
Editor : Glori K. Wadrianto
Sumber: