Kamis, 17 April 2014

News / Travel

Merayakan Kenangan di Warung Kopi Tung Tau

Minggu, 4 November 2012 | 17:52 WIB

Baca juga

PANGKALPINANG, KOMPAS.com – Harum kopi yang diseduh menyeruak begitu memasuki lantai dasar rumah toko (ruko) yang bercat hijau di salah satu jalan protokol di kota Pangkal Pinang itu. Meski berada di pusat kota, kemewahan tetap bukan barang dagangan yang ditawarkan di sini. Warung Tung Tau membawa para pengunjungnya merayakan cita rasa kopi turun-temurun. Sebagian besar datang untuk merayakan kenangan manis dari masa lalu mereka.

Seorang pelayan berusia muda berseragam warna merah dan putih mendekati dan membawa daftar menu yang panjang. Untuk pengalaman pertama dari petualangan cita rasa kopi di sini, Kopi “O” harus menjadi pilihan. Ini menu kopi pertama dari Warung Tung Tau sejak didirikan pada tahun 1938 dan terus dipertahankan hingga kini.

“Ting!” Suara bel menggema. Ini artinya, para peramu kopi di dapur sudah menyelesaikan pesanan dan siap diantarkan ke pelanggan yang datang. Secangkir kopi “O” siap diseruput. Uap dari dalam cangkir berbahan keramik asal China mengantarkan wangi yang sangat menggoda. Rasanya, sedap sekali. Meski bertajuk kopi hitam, tak banyak meninggalkan ampas karena teksturnya yang begitu halus.

“Sejak awal, kopi yang dipakai di sini adalah kopi Robusta dari Lampung. Pahit, tapi tidak asam. Kita olah sendiri, diolah secara tradisional dengan kayu bakar selama satu jam. Jadi wanginya khas, khas kayu bakar, lalu digiling sendiri,” ungkap Mariany, cucu Tung Tau yang kini mengelola Warung Tung Tau besama adiknya, Teddy.

Bersama dengan kopi “O”, dua piring roti panggang juga diantarkan. Satu piring adalah roti panggang isi telur dan piring lainnya isi srikaya. Roti isi telur juga termasuk menu pertama Warung Tung Tau. Berbeda dengan sandwich yang dilengkapi sayuran dan saus, menu ini hanya terdiri dari roti dan telur rebus yang diiris tipis.

Meski sesederhana ini, rasanya lezat karena rasa telur berpadu dengan roti berbalur mentega yang renyah. Mariany menyebutnya roti kuno. Ditilik dari bentuknya, roti ini dikenal dengan nama roti bantal. Roti panggang lainnya, termasuk srikaya, baru muncul sejak tahun 1980-an sejak warung dikelola oleh ayah dan ibu Mariany. Srikaya dan selai lainnya juga diproduksi sendiri.

Meski sudah lama berdiri, soal harga, Tung Tau tetap memanjakan pelanggannya. Kopi “O” hanya ditawarkan dengan harga Rp 4.000, tambah susu jadi Rp 5.000. Sementara itu, roti panggang dibanderol mulai harga Rp 10.00. Roti isi tiga rasa ditawarkan dengan harga Rp 15.000.

Oya, jangan lupa coba menu roti panggang coklat-seleh. Apa itu? Di Bangka, seleh digunakan untuk menyebut selai nanas. Selain kopi dan roti panggang, menu khas di warung ini adalah telur setengah matang.

Merayakan masa lalu

Nama Tung Tau diambil dari nama pendirinya, Fung Tung Tau, kakek dari Mariany dan Teddy. Tung Tau pertama kali didirikan di Sungailiat, salah satu kecamatan di Bangka, di utara Pangkalpinang. Tetapi sejak tahun lalu, tak perlu jauh-jauh ke Sungailiat untuk mencicipi cita rasa Tung Tau. Anda bisa menikmati di dua cabang yang baru dibuka tahun ini dan tahun lalu di Pangkalpinang, yaitu di Jalan Sudirman dan Jalan Depati Hamzah.

Keduanya memilih meninggalkan pekerjaan yang mapan di Jakarta dan pulang ke Pangkalpinang demi nilai historis warung kopi ini. Sejak ibu mereka berpulang pada awal tahun ini, dengan berbekal ilmu yang dikecap di kota, Mariany dan Teddy pun fokus mengembangkan Warung Tung Tau dengan manajemen yang lebih modern.

“Mutu dan cara pembuatan tradisional tetap dipertahankan, hanya manajemen yang dimodernkan,” ungkap Mariany.

Hal yang membuat mereka pulang dan rela meninggalkan kemapanan di ibu kota bukanlah iming-iming keuntungan. Perempuan berusia 40-an tahun itu mengaku selain nilai historis dari tradisi warung kopi ini, mereka merasa berhutang. "Kami dibesarkan dari warung ini," tuturnya.

Namun, karena masih mempertahankan cita rasa tradisional inilah, Warung Tung Tau tak pernah sepi pengunjung. Sebagian datang dengan rasa penasaran pada cita rasa kopi Tung Tau, sebagian besarnya lagi datang untuk merayakan kenangan manis di masa lalu.

“Ada yang datang ke sini, keturunan Belanda. Dulu ibu dan bapaknya, kakek neneknya sering datang ke sini. Jadi mereka kembali datang ke sini,” kata Mariany.

“Di sini jadi tempat kongkow-kongkow, tempat nostalgia, karena dulu banyak pelanggan kakek sampai bapak dan ibu di Sungailiat adalah karyawan PT Timah. Sebelum kerja, mereka datang ke warung karena dulu kan warung sudah buka sejak jam 4 (pagi). Mereka karyawan di situ. Nah, anak-anaknya kemudian jadi langganan di sini juga karena waktu kecil sering melihat bapak ibunya ke warung ini. Yang sudah pindah, juga menyempatkan diri datang ke sini untuk bernostalgia,” tuturnya kemudian.


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Penulis: Caroline Damanik
Editor : I Made Asdhiana