"Wangi" Kopi di Kaki Gunung Ijen - Kompas.com

"Wangi" Kopi di Kaki Gunung Ijen

Kompas.com - 13/10/2016, 20:05 WIB
KOMPAS/AGUS SUSANTO Menyangrai kopi lereng Ijen di Glagah, Banyuwangi, Jawa Timur, Selasa (21/6/2016).

PARIWISATA mengubah wajah perkampungan kopi di kaki Gunung Ijen, Banyuwangi. Perkampungan yang dulu sepi kini menjadi pusat ekonomi baru. Petani bangga menjadi tuan rumah di ladang sendiri.

Aroma harum kopi menyebar di sepanjang jalan utama di Dusun Lerek, Kelurahan Gombengsari, Kecamatan Kalipuro, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Pada Selasa (6/9/2016) pagi itu, warga Dusun Lerek mulai menyeduh bercangkir-cangkir kopi panas untuk pengunjung di Festival Kembang Kopi di desanya. Di festival itu, kopi lerek diperkenalkan.

Warga menyebutnya kopi lego, kepanjangan dari Lerek-Gombengsari, tempat pohon kopi itu tumbuh. Jenisnya adalah robusta. Kopi itu disangrai di tungku batu bata dengan wajan tembikar.

Warga masih menggunakan kayu bakar untuk perapiannya. Cara tradisional itu dipertahankan sampai sekarang sebagai ciri khas kopi Lerek-Gombengsari.

Selasa lalu, festival kecil yang mereka adakan menarik wisatawan. Dua di antaranya turis asal New York, Amerika Serikat, Sinead Mc Dermott (33) dan Ashley Fedora (32). Kedua turis itu awalnya hanya ingin pergi ke Gunung Ijen. Namun, karena bertepatan dengan festival kopi, mereka pun mampir.

Sebagai penggemar kopi, keduanya bersemangat memetik kopi dari pohon bersama warga dan pengunjung lain. Mereka juga mencoba menyangrai kopi di wajan gerabah dan menumbuknya di lumpang. Di dusun itu mereka menemukan petualangan baru yang tak didapati di New York.

”Selama ini, kami minum kopi tetapi tak pernah tahu seperti apa pohon kopi itu. Ini menyenangkan,” kata Sinead.

KOMPAS.COM/IRA RACHMAWATI Pemetik kopi di Kecamatan Kalipuro, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, sedang memanen kopi, Selasa (6/9/2016).
Bagi Sinead, rasa kopi di dusun itu menjadi lebih enak karena mereka ikut membuatnya di tengah perkebunan kopi.

Wisata baru

Wisata kopi menjadi lahan ekonomi baru bagi warga di Gombengsari. Sebelumnya, mereka hanya mengandalkan hasil dari panen kopi. Muhammad Taufik (37), anggota Kelompok Tani Kopi Rejosari di Gombengsari, mengatakan, selama turun-temurun, mereka hanya tahu cara merawat kopi. Namun, mereka tidak pernah tahu cara menjualnya.

Soal harga, mereka pasrah kepada pembeli atau pengepul. Harga per kilogram kopi robusta kering, misalnya, dipatok Rp 25.000. Ketika terpaksa menjual dengan cara ijon, kopi mereka hanya dihargai Rp 5.000 per kilogram.

Fatimah (39), misalnya, hanya menerima uang Rp 12 juta-Rp 15 juta bersih setiap tahun dari panen kopi di lahan seluas seperempat hektar miliknya.

Artinya, setiap bulan ia hanya mengantongi uang sekitar Rp 1 juta untuk biaya hidup lima anggota keluarganya. Dengan demikian, saat ada kebutuhan mendesak, Fatimah terpaksa menjual kopi secara ijon.

”Kalau sudah dijual secara ijon, setiap panen saya hanya bisa gigit jari,” kata Fatimah.

Kondisi itu berlangsung terus-menerus. Sampai tahun lalu, warga menemukan sumber ekonomi baru setelah pariwisata Banyuwangi tumbuh. Gombengsari dijadikan sebagai tempat wisata memetik kopi oleh penggiat wisata di Banyuwangi.

Andang Bachtiar, salah satu pegiat wisata dan pencinta kopi, menemukan Gombengsari setelah ia mengeksplorasi kaki Ijen. Mulai setahun lalu, ia mengajak rekan-rekannya yang bergerak di pariwisata untuk merangkul warga dan mendatangkan wisatawan di sana.

KOMPAS/AGUS SUSANTO Nur Ahmad menimbang biji kopi robusta luwak di Temenggungan, Banyuwangi, Jawa Timur, Rabu (22/6/2016). Biji kopi robusta luwak dari kaki Gunung Ijen tersebut dijual Rp 200.000 per kilogramnya.
”Warga kami kenalkan dengan konsep wisata. Mereka bisa menjual paket wisata petik dan sangrai kopi. Menggiling kopi sendiri dan menjualnya kepada wisatawan. Dengan cara itu, mereka bisa mendapatkan sumber ekonomi baru dari kopi,” katanya.

Bachtiar yang rutin menyelenggarakan jazz di Kampung Tumenggungan, Banyuwangi, pun memadukan paket wisata kopi dengan wisata kampung Tumenggungan. Dengan cara demikian, kue pariwisata bisa dinikmati warga desa dan warga kampung di Banyuwangi secara langsung.

Maya, salah satu pemilik homestay dan pemandu wisata, juga rajin mendatangkan wisatawan asing ke kampung itu. Wisatawan yang datang untuk menginap di penginapannya, ia tawari berwisata ke perkebunan rakyat.

”Sejauh ini, banyak yang suka dengan acara itu. Mereka tertarik untuk datang,” katanya.

Jalan itu membuka peluang baru bagi warga Gombengsari. Fatimah, misalnya, kini tidak hanya mengandalkan hasil jual kopi di kebunnya, tetapi bisa ikut menyediakan paket makan siang bagi wisatawan.

Dengan modal pinjaman dari kelompok tani, ia juga bisa menjual kopi dalam bentuk butiran siap giling dan bubuk siap seduh. Harga dua bentuk kopi itu dibanderol Rp 45.000 per kilogram dan Rp 75.000 per kilogram. Harga itu jauh lebih tinggi daripada harga kering, bahkan ijon.

Ternak etawa

Haryono, warga lain, bahkan punya kegiatan wisata yang unik. Ia membuka paket wisata beternak kambing peranakan etawa. Di kandang ternak sehat milik Haryono, wisatawan bisa ikut memberi susu kambing dengan dot, memerah susu, hingga membawa pulang susu kambing pasteurisasi.

Paket lengkap wisata jenis ini dipatok oleh Haryono sebesar Rp 100.000. Dengan paket ini, wisatawan bisa berwisata ternak, memetik dan mengolah kopi.

Wisatawan juga mendapatkan bubuk kopi dan susu untuk dibawa pulang. Mereka juga mendapatkan makan siang dan kudapan ala kampung, serta ngopi sesuka hati wisatawan.

KOMPAS.COM/IRA RACHMAWATI Para ibu asal Desa Gombengsari, Banyuwangi, Jawa Timur sedang menyangrai kopi di Festival Kembang Kopi, Rabu (7/9/2016).
Bagi Taufik, pendapatan tambahan itu sangat membantu perekonomian dirinya dan warga. Setiap kali ada satu tamu datang, warga bisa mendapatkan tambahan uang Rp 50.000 dari wisata kopi.

”Saat ini, wisatawan datang setiap hari. Mereka ini bisa hanya dua orang, tetapi ada juga yang datang hingga 45 orang dalam satu rombongan. Bagi kami, itu seperti rezeki nomplok yang tak pernah kami duga sebelumnya,” katanya.

Kehidupan di Desa Gombengsari tak lagi sepi. Dengan memanfaatkan kesempatan yang ada, mereka kini bisa menjadi tuan rumah di tanah mereka sendiri. Keberanian berubah yang dilakukan oleh warga Gombengsari bisa menjadi inspirasi bagi petani lain yang senasib. (Siwi Yunita C)

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 13 Oktober 2016, di halaman 1 dengan judul "Wangi" Kopi di Kaki Gunung Ijen.

EditorI Made Asdhiana
Komentar

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM