Kompas.com - 03/08/2013, 07:51 WIB
EditorI Made Asdhiana

Cara lain adalah menggunakan osom, yakni perangkap berbentuk bubu kecil yang terbuat dari anyaman bambu. Osom yang diberi umpan cacing atau bancet (anak katak) dibenamkan ke sawah dan ditinggal pemiliknya. Keesokan harinya osom sudah penuh terisi belut yang terperangkap.

Sambal belut

Pagi harinya, Bu Cucu (56), istri Ending, sudah bersiap di dapur. Belut-belut yang sudah dikumpulkan di ember direndam dengan daun jambu klutuk untuk menghilangkan bau anyir.

Satu demi satu belut hidup itu kemudian dibersihkan dan dipotong. Mereka yang belum terbiasa membersihkan belut mungkin agak kaget karena begitu dipotong, darah yang keluar lebih banyak dibandingkan ikan. Belut yang ukurannya lebih kecil biasanya lebih disukai karena rasanya lebih gurih.

Bumbu-bumbu pun sudah disiapkan. Ada jahe, kunyit, bawang merah dan putih, daun salam dan serai, juga ditambahi cengek (cabai rawit) dan daun kemangi. Semua dipotong kasar. Cucu lantas mengulek galendo dan dibalurkan pada belut-belut tersebut. Galendo adalah ampas dari godokan minyak kelapa.

Punten, ambilkan daun salam beberapa lembar,” kata Cucu. Ending pun melangkah keluar dari rumah dan memetik beberapa lembar daun dari pohon salam yang tumbuh di pekarangan rumah dan merambat sampai ke dekat daun pintu. Setelah tumpukan belut ditutup dengan daun salam, barulah seluruhnya dibungkus dengan daun pisang. Proses mais (memepes) pun dimulai.

Satu per satu bungkusan itu diletakkan langsung ke bara api dalam tungku dari tumpukan batu bata, yang biasa disebut hawu. Kadang keluarga ini memasak menggunakan hawu dengan memanfaatkan pohon kelapa, mulai dari daun kering, sabut, batok, hingga pelepahnya, juga ranting yang biasa dicari di kebun. Hawu diletakkan di luar rumah, di saung yang menempel ke rumah.

KOMPAS/PRIYOMBODO Pepes belut yang dimasak dengan cara dibubuy atau dibakar dengan bara api siap dihidangkan. Pepes belut dimasak dengan campuran galendo atau endapan minyak kelapa.
Sesekali Cucu meniup selongsong bambu ke arah tumpukan abu panas yang mematangkan pepes. Api pun membesar. Ia membolak-balik bungkusan-bungkusan belut dengan telaten. Sekitar tiga jam kemudian pepes tersebut siap disantap.

Perburuan belut berhenti di saung yang berada di pinggir sawah. Nasi putih yang masih mengepul dihidangkan bersama pepes. Tentu saja pepes tak akan lengkap tanpa kehadiran sambal belut. Sambal ulek buatan Cucu akan membuat mata kita mengerjap-ngerjap. Rasa cabai yang menyengat bercampur dengan aroma segar dari daun kencur dan jahe.

Desir angin segar menerobos pojok-pojok saung. Dari kejauhan, rumpun padi yang kehijauan bergoyang perlahan, batangnya meliuk-liuk mengikuti arah angin. (MYR/PEP)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:
Baca tentang


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.