Kompas.com - 27/10/2013, 12:19 WIB
Tenun khas Sumba, Nusa Tenggara Timur.  KOMPAS.COM/FITRI PRAWITASARITenun khas Sumba, Nusa Tenggara Timur.
EditorI Made Asdhiana

Dari tumbuhan

Umumnya, bahan pewarna alami diperolah dari tumbuhan yang ada di Sumba. Zat pewarna biru (kawaru) dibuat dari daun woru atau nila atau tarum (Indigo tinctoria). Adapun zat pewarna merah diperoleh dari akar kombu atau pohon mengkudu (Morinda citrifolia). Zat pewarna hitam diperoleh dari penggunaan lumpur.

Proses pembuatan kain Sumba melalui beberapa tahapan, yaitu pembuatan corak, pewarnaan, kemudian menenun.

Menurut Rambu, pewarnaan dilakukan rata-rata 3-4 kali dan maksimal 6 kali.

Corak kain Sumba dikelompokkan dalam tiga bagian, yakni kelompok figuratif yang merupakan representasi dari bentuk manusia dan binatang, kelompok skematis (menyerupai rangkaian bagan, cenderung geometris), serta kelompok bentuk pengaruh asing seperti salib, corak patola (India), dan naga (China).

Upacara adat

Selain dikenakan dalam kegiatan sehari-hari, kain Sumba juga menjadi bagian dalam berbagai upacara adat.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Umbu Charma, perajin kain Sumba dari Rende, Sumba Timur, mengatakan, kain Sumba digunakan dalam berbagai upacara adat seperti pemakaman.

Dalam upacara pemakaman merapu, kain Sumba digunakan untuk membungkus jenazah. ”Untuk bangsawan, kain yang dibutuhkan sekitar 100 lembar, sedangkan untuk warga biasa, kain yang dibutuhkan 10-15 lembar,” kata Umbu.

Memesona dunia

Meski tak banyak generasi muda yang tertarik melestarikan kain Sumba, di antara daerah penghasil tenun ikat lungsi di Tanah Air, tenun ikat Sumba merupakan yang paling menarik perhatian dunia. Hal ini ditunjukkan dari banyaknya kain Sumba yang menjadi koleksi sejumlah museum dan kolektor di luar negeri.

Salah satunya seperti yang terdapat di Museum Basel, Swiss. Kepala Museum Tekstil, Jakarta, Indra Riawan dalam pembukaan pameran wastra Sumba beberapa waktu lalu mengatakan, Museum Basel memiliki koleksi 5.000 lembar kain tradisional Indonesia dan 2.000 di antaranya merupakan kain Sumba. Kain tenun Sumba, tambah Indra, juga banyak dimiliki sejumlah kolektor dan museum di Belanda, Australia, serta Amerika Serikat.

Pemerhati kain, Judi Achmadi, memaparkan, kain Sumba mulai menarik perhatian masyarakat Eropa pada akhir abad ke-19. Mereka sangat tertarik dengan kain Sumba karena memiliki ragam hias dengan desain yang tegas, kaya warna, dan mudah dikenali.

Masyarakat Eropa yang terpesona kemudian membawa kain Sumba untuk dijadikan hiasan yang digantung di dinding rumah, diselempangkan di tempat tidur, dan dibentangkan di atas meja atau tempat tidur. Beberapa di antaranya kemudian juga menjadi koleksi museum. Sampai kapan keindahan kain Sumba hanya dikagumi masyarakat bangsa lain? (Dwi As Setianingsih)Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:
Baca tentang


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Video Pilihan

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.