Wangsit Kalimasada di Bawah Pohon Sukun

Kompas.com - 28/10/2013, 08:15 WIB
Bekas rumah pengasingan Bung Karno di Jalan Perwira, Kota Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur, Selasa (19/10/2012). Masa pembuangan oleh Belanda di Ende justru memperkaya pengalaman Soekarno tentang pluralisme masyarakat Indonesia. KOMPAS/IWAN SETIYAWANBekas rumah pengasingan Bung Karno di Jalan Perwira, Kota Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur, Selasa (19/10/2012). Masa pembuangan oleh Belanda di Ende justru memperkaya pengalaman Soekarno tentang pluralisme masyarakat Indonesia.
EditorI Made Asdhiana

Menurut sesepuh Ende, FA Soengkono (83), proses yang dialami Bung Karno selama di Ende telah membuka cakrawala berpikirnya menjadi lebih luas sehingga dapat merumuskan butir-butir Pancasila. Hal itu diakui Bung Karno ketika berpidato dalam kunjungan keduanya sebagai presiden ke Ende tahun 1954.

Dalam buku Di Bawah Pohon Sukun Itu, Soengkono memuat sebagian kutipan pidato Bung Karno tahun 1954 di Ende sebagai berikut, ”Saudara-saudaraku sebangsa setanah air, proses terbentuknya Pancasila ini memakan waktu lama, melalui limbah air mata, melalui pengorbanan fisik dan perasaan. Beberapa kali aku ditangkap Belanda, beberapa kali aku diadili, masuk tahanan dan dipenjara. Syukur alhamdulillah, aku dibuang dan dikucilkan di Pulau Flores tinggal bersama saudara-saudaraku di sini selama lebih kurang empat tahun. Dalam kurun waktu empat tahun itu aku menggali, menggali, dan menggali. Semangatku tidak pupus karena disingkirkan ke Ende ini. Apa yang bertahun-tahun aku tekuni telah mengendap dan mengkristal. Budaya bangsaku, warisan leluhurku telah aku kaji menjadi lima butir mutiara yang tersimpan sejak dulu dalam kalbu bangsaku di persada tanah air Indonesia.”

Bung Karno digambarkan sambil tangan kirinya menunjuk lapangan bola/Lapangan Perse mengatakan, ”Di bawah pohon sukun itu… aku telah mendapat wangsit Kalimosodo… Itulah perjalanan lahirnya Pancasila.”

Apa yang telah ditebar Bung Karno kini berbuah indah di bumi NTT, khususnya Ende, di Pulau Flores. Kedamaian antaretnik yang majemuk dan toleransi antarumat beragama terjalin baik sampai saat ini. Belum pernah terjadi konflik horizontal fatal yang berbau suku, agama, ras dan antargolongan (SARA). Tak ada juga konflik massa terkait pendirian rumah ibadah.

”Nilai-nilai positif yang telah diturunkan pendiri bangsa ini harus terus dikembangkan di masyarakat, bukan saja sebatas melestarikan atau merevitalisasi situs-situs bersejarah Bung Karno,” kata Soengkono.

Ketua Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Ende Djamal Humris mengungkapkan, mayoritas penduduk Ende beragama Katolik, tetapi kota ini justru punya sebutan khusus, yaitu ”Kota Seribu Masjid”.

Ende, kota kecil yang semula dimaksudkan untuk memadamkan semangat Bung Karno, justru menjadi laboratorium ideologi dan politik Bung Karno. Fondasi sebagai bangsa yang terdiri dari banyak suku bangsa, ras, dan agama diawali di sini. Di sini persaudaraan itu mulai dirajut dengan indah. (Samuel Oktora)

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X