Bakpia, Buah Tangan Toleransi dan Akulturasi

Kompas.com - 03/01/2014, 07:13 WIB
KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO Pekerja membuat bakpia di industri bakpia 25, kawasan Pathuk, Ngampilan, Yogyakarta, Sabtu (27/12/2013). Industri bakpia terus berkembang di kawasan tersebut sehingga menyerap lapangan kerja baru bagi warga setempat ataupun pendatang dari berbagai daerah.
CITA rasa Tionghoa itu telah melebur menjadi cita rasa khas Yogyakarta dalam sebuah penganan kecil bernama bakpia, terutama setelah pembuatan bakpia tidak lagi menggunakan minyak, tetapi telah bermetamorfosis menjadi kue bulat yang bisa diterima semua kalangan. Kini, bakpia telah menjadi milik Yogyakarta, simbol konkret toleransi dan akulturasi budaya.

Dalam penelitian, khususnya terhadap bakpia, peneliti Pusat Kajian Makanan Tradisional Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Prof Dr Murdijati Gardjito, mengatakan, sejarah terciptanya bakpia khas Yogyakarta merupakan bukti bahwa benturan budaya yang paling tidak berbahaya adalah benturan budaya kuliner. ”Bakpia adalah wujud budaya akulturasi Tionghoa dan Jawa yang hasilnya nikmat serta enak,” ujar Murdijati.

Resep bakpia awalnya dibawa pendatang asal Tionghoa, Kwik Sun Kwok, tahun 1940-an. Waktu itu, Kwik menyewa sebidang tanah milik warga lokal bernama Niti Gurnito di Kampung Suryowijayan, Kecamatan Mantrijeron, Yogyakarta.

Kwik lalu mencoba peruntungan dengan membuat bakpia, makanan khas Tionghoa. Semula ia membuat bakpia dengan menggunakan minyak babi. Namun, setelah tahu banyak masyarakat Yogyakarta tak makan daging babi, ia bereksplorasi membuat bakpia tanpa menggunakan minyak babi.

Untuk memanggang bakpia buatannya, Kwik selalu membeli arang kepada temannya, Liem Bok Sing. Sama seperti Kwik, Liem juga asli Tionghoa.

Ternyata, cita rasa kue bakpia buatan Kwik cocok dengan lidah masyarakat Yogyakarta. Makanan pendatang yang telah dimodifikasi ini mulai digemari banyak orang.

Lambat laun, Kwik yang semula masih menyewa tanah milik Niti Gurnito akhirnya pindah ke sebelah barat Kampung Suryowijayan. Di sana, ia melanjutkan pekerjaannya membuat berbagai macam makanan dan roti, termasuk bakpia. Tahun 1960-an, Kwik meninggal dan usahanya dilanjutkan anak menantunya bernama Jumikem.

Sepeninggal Kwik, Niti Gurnito ternyata juga ikut-ikutan membuat bakpia. ”Diduga karena Kwik pernah menyewa tanah miliknya, Niti Gurnito sempat diberi rahasia resep pembuatan bakpia,” kata Murdijati.

Bakpia buatan Niti Gurnito memiliki kekhasan tersendiri, yaitu ukurannya lebih kecil dibandingkan dengan bakpia buatan Kwik, berkulit tebal, dan isinya kecil. Bakpia ini dijual keliling dengan menggunakan pikulan kayu. Adapun kelompok pembeli bakpia saat itu masih agak tersekat karena orang keturunan Tionghoa membeli bakpia di penjual asal Tionghoa, sedangkan orang Jawa membeli bakpia buatan Niti Gurnito.

Kampung Pathuk

Pada periode yang sama, teman Kwik yang semula menyuplai kebutuhan arang, Liem Bok Sing, juga ikut membuat bakpia. Tahun 1948, Liem membuat resep baru bakpia, kemudian pindah dari Kampung Pajeksan, Sosromenduran, Kecamatan Gedongtengen, ke Kampung Pathuk, tepatnya di Jalan KS Tubun Nomor 75, yang di kemudian hari berkembang menjadi sentra industri bakpia besar bernama Bakpia Patuk 75 (sedikit beda penulisan dengan nama kampung).

Di tempat inilah usaha bakpia Liem berkembang pesat. Dengan resep baru, Liem berhasil membuat bakpia generasi kedua dengan kulit yang lebih tipis, ujung datar, dan agak gosong dengan isi kacang hijau. Sebelumnya, bakpia generasi awal berkulit lebih tebal dan berbentuk bulat.

Tahun 1980-an, usaha pembuatan bakpia Liem berkembang pesat. Ia memiliki banyak karyawan. ”Sebagian karyawan berhasil ’mencuri’ resep dan menyebarkan cara pembuatan bakpia kepada orang kampung, bahkan sampai membuka kursus. Hingga akhirnya pemilik Bakpia Patuk 75 juga mengambil bakpia dari situ karena tingginya permintaan wisatawan,” ujar Murdijati.

Halaman:


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
EditorI Made Asdhiana

Close Ads X