Menikmati "Rekaman" Aachen, Memahami Jati Diri Kota

Kompas.com - 04/08/2014, 12:04 WIB
Warga menikmati suasana di salah satu sudut pusat kota Aachen, Jerman, Senin (7/7/2014). Kota paling barat di Jerman yang berbatasan dengan Belanda dan Belgia itu dinilai sukses menyatukan tradisi dan kemajuan. KOMPAS/MUKHAMAD KURNIAWANWarga menikmati suasana di salah satu sudut pusat kota Aachen, Jerman, Senin (7/7/2014). Kota paling barat di Jerman yang berbatasan dengan Belanda dan Belgia itu dinilai sukses menyatukan tradisi dan kemajuan.
EditorI Made Asdhiana

Bangunan dengan kubah berbentuk segi delapan ini dibangun pada era kekuasaan Kaisar Karel Agung tahun 786 Masehi. Karel Agung mewujudkan mimpinya membuat bangunan bergaya Roma di Aachen. Kapel dengan ketinggian interior lebih dari 31 meter merupakan bangunan kubah tertinggi di utara Pegunungan Alpen selama lebih dari 200 tahun.

Gereja ini tempat penobatan lebih dari 30 raja Jerman, situs pemakaman Karel Agung, gereja ziarah utama, dan Katedral Keuskupan Aachen sejak 1930. Gereja itu sekaligus bangunan pertama di Jerman yang masuk dalam daftar warisan budaya oleh Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO).

Peter Lemoine, salah satu pemandu di katedral itu, mengizinkan kami masuk untuk melihat lebih dekat interior bangunan. Namun, dia meminta kami mematikan atau mengubah setelan telepon ke nada getar, tidak berisik, serta mengikuti arahan pemandu, termasuk untuk urusan memotret obyek di dalamnya. Aturan itu diberlakukan juga secara umum.

Kami masuk melalui pintu barat yang menjadi pintu utama katedral. Peter mengatakan, sejumlah ikon sarat makna mulai dari gerbang, seperti dua kepala singa berbahan perunggu di daun pintu utama, patung serigala, kerucut pinus, hingga bentuk oktagon di tengah katedral yang dibangun sebagai Istana Aachen.

Sejarah kota

Selain katedral, Karel Agung meninggalkan jejak-jejak bersejarah di Aachen. Salah satunya balai kota Aachen. Menaranya berasal dari zaman Karel Agung abad ke-8, kemudian warga membangunnya pada awal abad ke-14. Sejak itu, balai kota Aachen mengalami beberapa kali perubahan, terutama pada gaya bangunan dari gotik ke barok, kurun abad ke-17-18. Di lokasi ini, Penghargaan Karl diberikan untuk prestasi luar biasa bagi saling pengertian dan persatuan Eropa.

Selain balai kota dan katedral, ada bangunan bergaya gotik berusia tua di Aachen, antara lain Haus Löwenstein di daerah Markt. Bangunan ini diperkirakan selesai dibangun tahun 1345 dan bertahan dari kebakaran kota tahun 1656.

Selain itu, ada Grashaus di Fischmarkt yang fasadnya berasal dari balai kota awal (sebelum perubahan), Istana Büchelpalais di Jalan Büchel yang diperkirakan selesai dibangun tahun 1338, serta sisa tembok dan gerbang dari abad ke-13.

Tak hanya bangunan, mata air panas yang telah dimanfaatkan selama lebih dari 2.000 tahun bertahan di kota ini. Pada era Karel Agung, Aachen sudah terkenal dengan sumber airnya yang dianggap menyembuhkan karena kandungan mineralnya. ”Takdir” itu menjadikan Aachen sebagai kota pemandian.

Sayang, rombongan kami tak sempat mengunjungi bangunan tua dan lokasi-lokasi wisata itu satu per satu. Namun, Aachen tak melulu bangunan tua dan museum. Kota ini juga terkenal sebagai kota pendidikan.

Kota Aachen kiranya mewakili kota sebagaimana dimaksud Guru Besar Arsitektur Universitas Diponegoro (Alm) Eko Budihardjo dalam Reformasi Perkotaan, ”Kota yang baik adalah kota yang bisa menyuguhkan sejarah kota dari waktu ke waktu secara kasatmata, fisik, dan visual.”

Bangunan kuno adalah cermin sejarah kota, jati diri yang menciptakan rasa keberlanjutan, tempat, dan menumbuhkan kebanggaan bagi warganya. Bagi saya, Aachen layak jadi contoh. Silakan datang untuk menikmati rekaman kasatmata sejarah Aachen! (Mukhamad Kurniawan)

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X