Pulau Bungin, Hidup Sesak di Pulau Terpadat

Kompas.com - 17/09/2014, 09:51 WIB
Warga Pulau Bungin di Kecamatan Alas, Kabupaten Sumbawa, NTB, mencari karang di laut untuk membuat rumah di pulau tersebut. KOMPAS TV/ANJAS PRAWIOKOWarga Pulau Bungin di Kecamatan Alas, Kabupaten Sumbawa, NTB, mencari karang di laut untuk membuat rumah di pulau tersebut.
EditorI Made Asdhiana

Karang yang pecah diangkut ke perahunya. Batu karang satu perahu dijual Rp 50 ribu. Dalam sehari Majiu bisa 4 kali mengangkut karang.

Masyarakat Bungin mayoritas keturunan Suku Bajo, dari Sulawesi, yang dikenal sebagai suku pengembara laut dan penyelam ulung. Sejak bayi, anak-anak Bungin sudah dikenalkan pada dunia bahari melalui Upacara Toyah.

Dalam ritual Toyah, bayi dipangku 7 perempuan secara bergantian yang duduk di atas ayunan. Ayunan diibaratkan seperti gelombag lautan yang akan dihadapi sang anak saat besar nanti ketika menjadi pelaut.

“Biar dia terbiasa dengan ombak, dan selalu diberikan keselamatan,” kata Marsono, tetua adat di Pulau Bungin.

Sejak kecil, anak-anak Bungin sudah mahir bermain di lautan dan menyelam untuk berburu ikan. Mereka lazim bermain perahu di laut tanpa pengawasan orangtua. Bocah-bocah usia sekolah dasar sudah mampu mencari uang jajan dengan berburu ikan hias di laut.

Mayoritas penduduk Bungin bekerja sebagai nelayan. Sebagian mencari ikan dengan cara menyelam dan memanah. Ada juga yang memiliki keramba, serta mencari lobster dan teripang.

KOMPAS TV/ANJAS PRAWIOKO Ritual Toyah, anak Bungin dikenalkan pada dunia bahari sejak dini. Pulau Bungin berada di Kecamatan Alas, Kabupaten Sumbawa, Provinsi Nusa Tenggara Barat.
Jarang warga Bungin yang merantau, dan mereka kebanyakan memilih menikah dan tetap tinggal di Bungin. Kondisi ini yang membuat Pulau Bungin semakin kelebihan beban dan kehabisan lahan.

Satu-satunya lahan terbuka yang luas di Bungin adalah halaman Masjid setempat. Bahkan saking sesaknya, sama sekali tidak ada kebun dan sangat jarang pepohonan tumbuh. Karena tidak ada dedaunan untuk pakan, sampai-sampai kambing di Bungin punya kebiasaan makan kertas dan plastik.

Saksikan selengkapnya tayangan Program Explore Indonesia episode “Hidup Sesak di Pulau Terpadat”, di Kompas TV, Rabu (17/9/2014) pukul 20.00 WIB. (Anjas Prawioko)

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X