Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 04/01/2015, 11:09 WIB
|
EditorI Made Asdhiana

Waesadong

Mata air Waesadong berada di tengah hutan Suka. Mata air ini sebagai tempat warga Suku Suka pada zaman dulu menimba air minum bersih. Uniknya, mata air ini muncul dari batu cadas berbentuk kuali. Bahkan untuk menimbanya harus menggunakan tempurung kelapa. Bahkan pada musim kemarau mata air Waesadong tidak pernah kering, sehingga warga di Kampung Waekolong, Kampung Mesi saat musim kemarau menimba air minum di mata air Waesadong.

Basilius Simus, warga Desa Ranakolong, yang mendampingi Kompas.com, Jumat (26/12/2014), mengatakan, saat musim kemarau selama kurang lebih enam bulan sepanjang 2014, warga menimba air bersih di mata air Waesadong karena debit air leding untuk warga Waekolong dan Mesi di Desa Ranakolong sangat kecil.

“Kami selalu menimba air minum di mata air Waesadong saat musim kemarau bahkan kami mengambil air di mata air ini untuk memberikan ternak sapi, kerbau dan kuda. Mata air Waesadong ini sangat unik karena mata airnya muncul dari batu cadas. Ini juga membuktikan bahwa di kawasan Hutan Suka pernah ada perkampungan,” jelasnya.

Pada Minggu (28/12/2014), Kompas.com, ditemani tokoh masyarakat Desa Ranakolong, Aleksius Jala, Basilius Simus, mahasiswa Unwira Kupang Antonius Ndoen, siswa SMK Negeri Labuan Bajo An Ngapan dan siswa SMAN Kota Komba Hendrikus Kapang kembali menyusuri kawasan hutan tutupan Suka, Mbengan dan Ndolu.

KOMPAS.COM/MARKUS MAKUR Watu Waka atau batu berbentuk perahu di tengah Hutan Suka, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur.
Berawal dari penasaran atas berbagai cerita lisan tentang keunikan alam serta batu berbentuk perahu, berbentuk kuali serta berbagai jenis burung di kawasan itu, lalu ditemani berbagai tokoh masyarakat mulai menyusuri kawasan tersebut.

Pertama kali berangkat dari Kampung Mesi menyisiri Pong Suka atau Hutan Suka dan melintasi perkebunan masyarakat dan menyeberangi sebuah kali. Lalu, berjalan menanjak menuju ke Watu Waka. "Waka" dalam bahasa Kolor adalah "perahu". "Watu Waka" adalah "batu berbentuk perahu". Unik kan....

Watu Waka di kawasan Hutan Mbengan

Kami sangat terkejut dengan bentuk batu yang persis seperti perahu. Batu hanya ditahan oleh sebuah pohon. Watu Waka selalu dikisahkan warga Desa Ranakolong dan Desa Mbengan sebagai batu berbentuk perahu.

Aleksius Jala, tokoh masyarakat Desa Ranakolong mengatakan, warga Desa Ranakolong dan Mbengan sudah mengenal Watu Waka sebagai batu perahu.

“Saya selalu mendengar cerita tentang Watu Waka dari orangtua. Hanya saya tidak tahu bagaimana awal batu ini berbentuk Perahu. Mungkin leluhur memahat batu ini seperti perahu. Batu ini tidak pernah runtuh walaupun ada gempa bumi,” jelasnya.

KOMPAS.COM/MARKUS MAKUR Pohon beringin raksasa di sebagai bukti kampung tua di Suku Suka, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur.
Beristirahat beberapa jam di atas batu perahu, rombongan terus menyusuri kawasan hutan Mbengan, Ndolu dan Suka dengan menikmati suara burung yang masih hidup di kawasan tersebut. Rombongan tiba di sebuah batu bulat besar. Warga setempat menyebutnya Watu Reput. Batu berada di tengah aliran Kali Wae Sare. Tapi, saat banjir, batu itu tetap kokoh.

Pong Ndolu

Pong Ndolu atau Hutan Ndolu tak kalah dengan potensi Pong Mbengan dan Pong Suka. Pong Ndolu merupakan perkampungan tua dari Suku Ndolu. Apa yang menarik di Pong Ndolu? Di tengah tutupan itu, ada batu berbentuk Kuali. Diakui bahwa batu itu sebagai tempat masak para leluhur di zaman dulu apabila memasak daging. Bukti lain sebagai perkampungan tua adalah pohon beringin raksasa di kampung tersebut.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Legenda Danau Toba, Tercipta akibat Amarah Putri Jelmaan Ikan

Legenda Danau Toba, Tercipta akibat Amarah Putri Jelmaan Ikan

Jalan Jalan
4 Maskapai Disebut Ajukan Penerbangan Langsung China-Bali

4 Maskapai Disebut Ajukan Penerbangan Langsung China-Bali

Travel Update
Tarif Bus BST di Kota Solo Awal 2023, Tak Lagi Gratis

Tarif Bus BST di Kota Solo Awal 2023, Tak Lagi Gratis

Travel Update
Pendakian Gunung Raung via Kalibaru Buka Kembali 1 FebruariĀ 2023

Pendakian Gunung Raung via Kalibaru Buka Kembali 1 FebruariĀ 2023

Travel Update
Panduan Lengkap ke Holeo Golf & Museum di Jakarta Barat

Panduan Lengkap ke Holeo Golf & Museum di Jakarta Barat

Travel Tips
Aturan Bagasi Pesawat Terbaru dari 7 Maskapai Indonesia

Aturan Bagasi Pesawat Terbaru dari 7 Maskapai Indonesia

Travel Update
Cara ke Solo Safari Naik Batik Solo Trans dari Stasiun Purwosari dan Solobalapan

Cara ke Solo Safari Naik Batik Solo Trans dari Stasiun Purwosari dan Solobalapan

Travel Tips
Sampah Plastik Masih Jadi Masalah di Area Konservasi TN Komodo

Sampah Plastik Masih Jadi Masalah di Area Konservasi TN Komodo

Travel Update
Naik Bus Macito di Malang, Wisatawan Segera Bisa Berfoto di Kampung Heritage Kayutangan

Naik Bus Macito di Malang, Wisatawan Segera Bisa Berfoto di Kampung Heritage Kayutangan

Jalan Jalan
Waterfront Marina dan Puncak Waringin Labuan Bajo, Ruang Aktivitas Kreatif Masyarakat dan Wisatawan

Waterfront Marina dan Puncak Waringin Labuan Bajo, Ruang Aktivitas Kreatif Masyarakat dan Wisatawan

Jalan Jalan
Pantai Sekitar Samarinda dan Bontang, Ada yang Harus Menyeberang Dahulu

Pantai Sekitar Samarinda dan Bontang, Ada yang Harus Menyeberang Dahulu

Jalan Jalan
Hari Terakhir Grebeg Sudiro 2023, Lampion Pasar Gede Tetap Menyala sampai Cap Go Meh

Hari Terakhir Grebeg Sudiro 2023, Lampion Pasar Gede Tetap Menyala sampai Cap Go Meh

Travel Update
Kafe Unik di Malang, Bisa Ngopi Sambil Bikin Kaus

Kafe Unik di Malang, Bisa Ngopi Sambil Bikin Kaus

Jalan Jalan
Mumi Tertua dan Telengkap Ditemukan Dekat Piramida di Saqqara, Mesir

Mumi Tertua dan Telengkap Ditemukan Dekat Piramida di Saqqara, Mesir

Travel Update
Semesta's Gallery, Tempat Healing Baru nan Nyaman di Jakarta Selatan

Semesta's Gallery, Tempat Healing Baru nan Nyaman di Jakarta Selatan

Jalan Jalan
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+