Nasi Minyak, Dulu Hanya Disantap Keluarga Sultan

Kompas.com - 06/01/2015, 18:09 WIB
Nasi minyak KidnesiaNasi minyak
EditorNi Luh Made Pertiwi F
NAMANYA memang nasi minyak. Makanan ini adalah makanan khas Kota Palembang, selain Pempek yang harus Anda cicipi. Di Provinsi Jambi juga ada Nasi Minyak. Bedanya, kalau nasi minyak khas Jambi disantap dengan menggunakan kuah kari.

Kalau nasi minyak khas Sumatera Selatan hanya dimakan begitu saja dengan lauk pauknya. Di Palembang, tempat makan nasi minyak ada di Pasar Kuto. Nama rumah makannya adalah Warung Nasi Minyak Haji Abuk. Eh, tak hanya orang Palembang saja yang sering datang ke rumah makan Haji Abuk, tapi juga orang-orang pendatang dari luar Palembang.

Menurut Pak Muhammad, anak H. Abuk (Haji Abdullah) yang meneruskan usaha dagang nasi minyak sejak tahun 1980-an, sebenarnya nasi minyak adalah nasi yang diolah dengan menggunakan minyak samin. Kalau disebut nasi minyak samin, jadinya panjang. Makanya, orang-orang Palembang hanya menyebutnya nasi minyak saja.

Hm, nasi minyak hampir mirip dengan nasi kebuli.  Bedanya, nasi minyak tidak dicampur dengan daging. Lauk dagingnya disajikan secara terpisah.

Muhammad bercerita bahwa dulu nasi minyak hanya disediakan setiap hari Jumat saja. Konon, Sultan Palembang sering menyantap nasi minyak ini setiap hari Jumat setelah ibadah shalat Jumat dan pada saat-saat tertentu, seperti hajatan atau pesta perayaan lain di kesultanan.

Pada masa itu, nasi minyak termasuk makanan mewah, jadi tidak dikonsumsi untuk makanan sehari-hari. Hanya keluarga sultan atau tamu-tamu agung saja yang bisa mencicipi kenikmatan nasi minyak.

Nah, kini nasi minyak bisa kita makan kapan saja kita mau. Apalagi sekarang rumah makan Nasi Minyak Haji Abuk sudah menyediakan menu ini setiap hari.

Padahal, dulu rumah makan nasi minyak H. Abuk hanya menyediakan menu nasi minyak setiap hari Jumat saja. Tetapi, karena permintaan pengunjung, sejak awal tahun 2000an, menu nasi minyak disediakan setiap hari.

Ingin mencicipi nasi minyak H. Abuk? Pergi saja ke kawasan Pasar Kuto, 8 Ilir Palembang. Rumah makan ini selalu ramai pengunjung. Asal tahu saja, di Palembang, ada kebiasaan menyajikan semua makanan (lauk pauk) di atas meja. Mirip-mirip di rumah makan Padang.

“Itu memang nasi minyak. Nasi minyak di sini memang berwarna kuning, tapi rasanya beda, kok dengan nasi kuning biasa,” jelas Muhammad.  

Pak Muhammad menyarankan untuk memilih lauk untuk dimakan dengan nasi minyak dengan malbi. Malbi adalah daging sapi yang tampilannya mirip dengan rendang Padang yang rasa rempah-rempahnya sangat terasa. Daging malbi ini dimasak manis dengan bumbu bawang merah, bawang putih, kecap dan rempah-rempah. (Ervina)



Sumber Kidnesia
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Jabar Tetap Terima Wisatawan Saat Libur Panjang, Protokol Kesehatan Diperketat

Jabar Tetap Terima Wisatawan Saat Libur Panjang, Protokol Kesehatan Diperketat

Whats Hot
Ada Imbauan Tidak Wisata ke Puncak Saat Libur Panjang, Ini Kata Kadispar Jabar

Ada Imbauan Tidak Wisata ke Puncak Saat Libur Panjang, Ini Kata Kadispar Jabar

Whats Hot
Air Terjun Sunsa Kompol di Manggarai Barat, Kesegaran di Lereng Gunung Poso Kuwuh

Air Terjun Sunsa Kompol di Manggarai Barat, Kesegaran di Lereng Gunung Poso Kuwuh

Jalan Jalan
Kini, Ada Armada DAMRI ke Pantai Baron dan Gunung Api Purba Nglanggeran

Kini, Ada Armada DAMRI ke Pantai Baron dan Gunung Api Purba Nglanggeran

Jalan Jalan
Mendaki Gunung Gede Pangrango Saat Musim Hujan, Ini Panduannya

Mendaki Gunung Gede Pangrango Saat Musim Hujan, Ini Panduannya

Travel Tips
Benarkah Jepang akan Buka Perbatasan untuk Olimpiade 2021?

Benarkah Jepang akan Buka Perbatasan untuk Olimpiade 2021?

Whats Hot
Hotel Berusia 100 Tahun di New York Tutup akibat Pandemi Corona

Hotel Berusia 100 Tahun di New York Tutup akibat Pandemi Corona

Whats Hot
Panduan Harga Tiket Masuk dan Cara Menuju Desa Wisata Cibuntu

Panduan Harga Tiket Masuk dan Cara Menuju Desa Wisata Cibuntu

Travel Tips
Diskon Wisata ke Wisnus, PHRI: Pemikiran Pemerintah yang Out of The Box

Diskon Wisata ke Wisnus, PHRI: Pemikiran Pemerintah yang Out of The Box

Whats Hot
PHRI Minta Kemenparekraf Kawal Kebijakan Dana Hibah ke Pengusaha Hotel dan Restoran

PHRI Minta Kemenparekraf Kawal Kebijakan Dana Hibah ke Pengusaha Hotel dan Restoran

Whats Hot
PHRI: Langkah Pemerintah Berikan Dana Hibah itu Bagus, Kami Apresiasi

PHRI: Langkah Pemerintah Berikan Dana Hibah itu Bagus, Kami Apresiasi

Whats Hot
Lezatnya Santap 4 Kuliner Khas Daerah Ini sambil Traveling di Indonesia

Lezatnya Santap 4 Kuliner Khas Daerah Ini sambil Traveling di Indonesia

BrandzView
Tips Berkunjung ke Desa Wisata Cibuntu, Cari Waktu Terbaik

Tips Berkunjung ke Desa Wisata Cibuntu, Cari Waktu Terbaik

Travel Tips
Catat, Itinerary Seharian Liburan di Desa Wisata Cibuntu

Catat, Itinerary Seharian Liburan di Desa Wisata Cibuntu

Travel Tips
Wisata ke Korea, Jangan Lupa Gowes di Rel Kereta di Tengah Bukit

Wisata ke Korea, Jangan Lupa Gowes di Rel Kereta di Tengah Bukit

Jalan Jalan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X