Memperkuat Status Konservasi di Kawasan Berpotensi Ekowisata di Sintang

Kompas.com - 14/05/2015, 12:29 WIB
|
EditorI Made Asdhiana
SINTANG, KOMPAS.com – Pagi itu, deru mesin dan laju perahu cepat bertenaga 40 PK memecah ketenangan ombak Danau Semetung dan keheningan hutan sekitarnya. Sinar mentari pagi yang mulai menyengat sesekali menerobos rimbunnya hutan dari pinggir danau. Dari salah satu sudut danau di antara rerimbunan pepohonan sesekali terlihat sekelebat ikan besar menimbulkan riak di air yang tenang. “Wah...ikan besar itu.... duh menyesal saya lupa bawa pancing,” celetuk Rayendra di antara suara mesin perahu sambil menunjuk ke arah riak pagi itu, Rabu (6/5/2015).

Rayendra merupakan ketua Sintang Fishing Club, komunitas yang tidak hanya sekadar menyalurkan hobi memancing, tapi juga sebagai pengawas perikanan di Kabupaten Sintang. Komunitas yang mengawasi aktivitas penangkapan ikan air tawar, sekaligus juga menggerakkan masyarakat untuk menjaga habitat ikan tetap lestari. Kawasan lahan basah di Danau Semetung merupakan salah satu habitat yang baik untuk perkembangbiakan ikan air tawar di Desa Nanga Ketungau, Kecamatan Ketungau Hilir, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat.

Kawasan danau dengan luas 163 hektar hasil pemetaan partisipatif masyarakat ini dikelilingi hutan Semetung sebagai ‘bufferzone’ yang menjadi benteng akhir ekosistem di Danau Semetung. Selain itu, kawasan hutan Semetung yang mengelilingi Danau Semetung terhubung dengan Mungguk Kresik di Desa Jaung, kawasan hutan adat seluas 6 hektar yang menyimpan kekayaan keanekaragaman hayati. Kawasan yang menjadi keberlanjutan siklus ekosistem dan habitat aneka satwa, salah satunya orangutan. Kawasan yang memiliki nilai konservasi tinggi dan berpotensi ekowisata yang unik.

Perjalanan kami menyusuri danau pagi itu ditemani oleh Rayendra dan Petrus David, Kepala Desa Nanga Ketungau. Danau Semetung berjarak tempuh sekitar 15 menit dari Desa Nanga Ketungau, atau 2 jam dari kota Sintang menyusuri ke arah hulu Sungai Kapuas. Potensi ikan air tawar yang berasal dari Danau Semetung merupakan salah satu yang menjadi sumber ketersediaan ikan air tawar di kota Sintang, hingga Pontianak.

KOMPAS.com/Yohanes Kurnia Irawan Suasana saat memasuki kawasan Danau Semetung di Desa Nanga Ketungau, Kecamatan Ketungau Hilir, Kabupaten Sintang
Dalam perjalanan menyusuri danau, kami sempat bertemu Usman, ketua Kelompok Nelayan Desa Nanga Ketungau. Dari penuturan Usman, Danau Semetung merupakan sumber penghidupan nelayan di sana. Tak kurang dari 300 kilogram yang diperoleh masyarakat dari kawasan danau ini setiap harinya. Berbagai jenis ikan mulai dari arwana, tapah, belida, toman, kalui, jelawat, betutu, ulang uli, termasuk semua jenis ikan lais menjadi penghuni danau ini. “Bahkan pada musim panen raya menjelang musim kemarau, hasil tangkapan bisa mencapai 1 ton per harinya” kata Usman.

Demi tetap tersedianya keberadaan ikan di Danau Semetung, Usman bersama kelompok nelayan pun tak hanya sekadar menangkap ikan saja. Bekerja sama dengan Sintang Fishing Club dan Semetung Hijau, masyarakat nelayan dengan penuh kesadaran memproteksi dan menetapkan Danau Semetung menjadi kawasan lindung dan kawasan konservasi yang berbasis masyarakat melalui peraturan pemerintah desa. Semetung Hijau merupakan lembaga lokal yang dibentuk masyarakat untuk memperkuat kegiatan konservasi di desa mereka.

“Masyarakat ingin mengembalikan wilayah Danau Semetung sebagaimana bentuk aslinya dulu. Kondisi yang ada saat ini jauh berbeda dengan sebelumnya, salah satunya karena kelalaian dan ketidakmengertian masyarakat,” kata Harman, ketua lembaga Semetung Hijau saat ditemui di kediamannya.

Sejauh ini, usaha yang sudah dilakukan melalui pemetaan partisipatif. Pemetaan kawasan yang dilakukan secara partisipatif oleh masyarakat, lanjut Harman, dimaksudkan untuk mengetahui luasan kawasan Danau Semetung. Selain itu, dalam pemetaan juga ditentukan kawasan-kawasan yang akan direstorasi atau dikembalikan wujudnya seperti sediakala. Dalam menjalankan program, Semetung Hijau tidak sendirian. Selain kelompok nelayan, WWF-Indonesia program Kalimantan Barat dan Sintang Fishing Club secara intensif mendampingi kegiatan demi kegiatan konservasi masyarakat.

“Paling tidak, kondisi hutan di sekitar danau bisa tetap terjaga sehingga danau bisa menjadi rumah tempat ikan berkembang biak. Orangutan pun bisa turun minum mengkonsumsi air Danau Semetung. Masyarakat berharap dengan konservasi dan mengembalikan fungsi kawasan, manfaat demi manfaat akan masih bisa diikmati oleh generasi ke generasi berikutnya,” ujar Harman.

KOMPAS.com/Yohanes Kurnia Irawan Salah satu aktivitas penambangan emas ilegal yang menjadi ancaman keberlangsungan ekosistem ikan air tawar di kawasan Danau Semetung, Desa Nanga Ketungau, Kecamatan Ketungau Hilir, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat
Petrus David, Kepala Desa Nanga Ketungau mengamini apa yang disampaikan oleh Harman. Bahkan David menjadi salah satu pelopor upaya restorasi kawasan Danau Semetung sejak tahun 2009 silam. Perjuangan hingga menerbitkan peraturan desa demi tetap terjaganya kawasan Danau Semetung. “Danau itu sumber ikan dan penghasilan masyarakat. Potensi besar yang dimiliki Desa Nanga Ketungau yang harus tetap terjaga kelestariannya. Jangan sampai kawasan danau itu rusak, kalau sampai rusak hilang juga pendapatan masyarakat,” kata David.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

10 Bunga di Pecahan Uang Kertas Baru, Ada Sedap Malam

10 Bunga di Pecahan Uang Kertas Baru, Ada Sedap Malam

Travel Update
Harga Tiket Masuk Curug Leuwi Hejo, Wisata Air Terjun di Bogor

Harga Tiket Masuk Curug Leuwi Hejo, Wisata Air Terjun di Bogor

Travel Tips
AP I Catat Jumlah Pergerakan Penumpang Tertinggi pada Juli 2022

AP I Catat Jumlah Pergerakan Penumpang Tertinggi pada Juli 2022

Travel Update
HUT RI, Warga Kojadoi NTT Jalani Upacara Bendera di Tengah Laut

HUT RI, Warga Kojadoi NTT Jalani Upacara Bendera di Tengah Laut

Travel Update
Tanggal Merah 2022 Masih Ada Bulan Oktober, Bisa Jadi Long Weekend

Tanggal Merah 2022 Masih Ada Bulan Oktober, Bisa Jadi Long Weekend

Travel Update
Pendaki Indonesia Kibarkan Bendera Merah Putih di Gunung Tertinggi Eropa

Pendaki Indonesia Kibarkan Bendera Merah Putih di Gunung Tertinggi Eropa

Travel Update
Gatotkaca Berjualan di Alun-alun Kota Batu, Sukses Pikat Wisatawan

Gatotkaca Berjualan di Alun-alun Kota Batu, Sukses Pikat Wisatawan

Travel Update
HUT Ke-77 RI, Bendera Merah Putih Berkibar di Spot Diving Labuan Bajo

HUT Ke-77 RI, Bendera Merah Putih Berkibar di Spot Diving Labuan Bajo

Travel Update
Tradisi Murok Jerami Jadi Agenda Wisata Tahunan di Bangka Tengah

Tradisi Murok Jerami Jadi Agenda Wisata Tahunan di Bangka Tengah

Travel Update
4 Tips Berkunjung ke Pameran Mobil Kepresidenan RI di Sarinah

4 Tips Berkunjung ke Pameran Mobil Kepresidenan RI di Sarinah

Travel Tips
InJourney Optimistis Pariwisata Indonesia Bisa Bangkit dan Lebih Kuat

InJourney Optimistis Pariwisata Indonesia Bisa Bangkit dan Lebih Kuat

Travel Update
HUT RI, Bendera Merah Putih Berkibar di Puncak Gunung Nampar Nos NTT

HUT RI, Bendera Merah Putih Berkibar di Puncak Gunung Nampar Nos NTT

Travel Update
2 Kereta Api Legendaris Dioperasikan Saat HUT ke-77 RI

2 Kereta Api Legendaris Dioperasikan Saat HUT ke-77 RI

Travel Update
Aturan Main ke Train to Apocalypse di Kelapa Gading, Minimal 15 Tahun

Aturan Main ke Train to Apocalypse di Kelapa Gading, Minimal 15 Tahun

Travel Tips
Akhirnya, Pemilik Paspor Tanpa Kolom Tanda Tangan Bisa ke Jerman

Akhirnya, Pemilik Paspor Tanpa Kolom Tanda Tangan Bisa ke Jerman

Travel Update
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.