Kompas.com - 12/09/2015, 11:37 WIB
|
EditorI Made Asdhiana

Lebah-lebah tersebut biasanya menetap sembari membuat sarang selama 3-4 bulan sebelum akhirnya bisa dipanen. Lamanya waktu bergantung pada banyaknya bunga yang ada di sekitar sunggau. Zainudin mengatakan satu sunggau bisa menghasilkan hingga 12 botol madu.

Madu pahit dianggap memiliki beragam manfaat untuk tubuh, seperti untuk pengobatan diabetes, kanker, anti tumor, jantung, dan juga maag. Masyarakat Bangka Belitung juga menggubakan madu pelawan untuk menyembuhkan luka bakar, obat batuk, serta media terapi kesehatan seperti patah tulang dan kelumpuhan.

Selain menghisap sari bunga pelawan dan menghasilkan madu pahit, lebah-lebah luar ini juga menghisap jenis bunga lainnya, seperti leting, rempodong, ulas, dan juga kabal. Rasa madu yang dihasilkan pun berbeda yakni cenderung manis layaknya madu pada umumnya.

Puas melihat sunggau lebah, pengunjung juga bisa melihat tempat tumbuhnya jamur pelawan. Jamur pelawan.

"Waktu itu ada yang meneliti dan mereka bilang ini endemik dari sini," kata Kepala Desa Namang yang juga menjadi Ketua Taman Keanekaragaman Hayati, Zaiwan.

Hal itulah menurut Zaiwan yang menjadi alasan Hutan Pelawan wajib untuk dikunjungi. Selain melihat tanaman asli Desa Namang, pengunjung juga bisa melihat tumbuhnya jamur pelawan yang juga jadi ciri khas desa ini.

Jamur pelawan hidup di sekitar area tumbuhnya pohon pelawan. Katanya, jamur pelawan memiliki ukuran tinggi lebih dibanding jenis jamur lainnya. Selain itu, warna merah akan terlihat menyala dari jenis jamur ini.

Sayangnya, KompasTravel belum beruntung untuk melihat secara langsung jamur pelawan ini. Menurut Zaiwan, musim kemarau panjang yang tengah terjadi membuat jamur-jamur tersebut urung muncul.

"Tapi nanti setelah kemarau lalu hujan pertama kali, nanti akan muncul (jamurnya)," imbuhnya.

Untuk merasakan sensasi blusukan di Hutan Wisata Pelawan, pengunjung hanya perlu membayar uang parkir senilai Rp 3.000 untuk motor dan Rp 5.000 untuk mobil. Pengunjung juga bisa membeli langsung madu pelawan seharga Rp 80.000 per botol untuk madu manis, dan Rp 200.000 untuk madu pahit. Sementara jamur pelawan yang sudah dikeringkan dihargai Rp 170.000 per kotak.

KOMPAS.com/Mentari Chairunisa Madu pahit menjadi salah satu ciri khas dari Hutan Pelawan

Wisata Malam Hutan Pelawan

Blusukan di Hutan Wisata Pelawan juga mengasyikkan jika dilakukan pada malam hari. Menurut Zaiwan, pada malam hari akan muncul hewan-hewan nokturnal yang bisa dilihat dari dekat. Salah satunya adalah tarsius. Hewan yang oleh penduduk lokal disebut muntilin ini biasanya akan muncul kala gelap.

Wisata malam di Hutan Wisata Pelawan ini dihargai senilai Rp 750.000 per rombongan dengan maksimal 10 orang. Selain melihat hewan-hewan nokturnal, pengunjung juga bisa melihat burung-burung liar yang turun untuk mencari makan di pagi hari. Biasanya, burung-burung tersebut muncul sekitar pukul 05.00 – 05.30. Jika beruntung, pengunjung juga bisa mendengar suara burung yang saling bersautan di pagi itu.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.