Kompas.com - 18/09/2015, 09:37 WIB
EditorI Made Asdhiana
MEDAN, KOMPAS.com - Jonathan Daniels Rojas dan Lia Le Ster sengaja terbang jauh-jauh dari Perancis ke Indonesia untuk melakukan perjalanan beberapa pekan ke sejumlah daerah tujuan wisata utama di Pulau Sumatera.

Mereka tidak memilih Bali yang popularitasnya telah mendunia sebagai tujuan pertama berlibur di Indonesia melainkan Sumatera. "Kami mengenal Sumatera yang eksotis dari program televisi di Perancis yang mengangkat tempat bernama Mentawai," kata Jonathan.

Karena kesan yang mendalam tentang Sumatera inilah agaknya yang mendorong pasangan muda Perancis ini memulai perjalanan mereka mengeksplorasi keindahan panorama alam pegunungan dan bahari Nusantara berikut keunikan dan keberagaman seni-budaya serta sejarah masyarakatnya tidak dari Jakarta melainkan Padang, Sumatera Barat.

"Kami tiba di Jakarta pada 7 September dan langsung terbang ke Padang. Dari Padang kami melanjutkan perjalanan wisata kami ke Bukittinggi. Lalu ke Bonjol. Kami menikmati sekali perjalanan di Sumatera Barat ini terlebih lagi saat melintasi garis ekuator Bonjol," kata Jonathan.

Pria asal Kota Dijon di Perancis timur ini bahkan tampak bangga menunjukkan kaus oblong warna biru berlambang dan bertuliskan "Ekuator Bonjol" yang dikenakannya kepada Antara saat ditemui di Museum Huta Bolon Simanindo, Kabupaten Samosir, Provinsi Sumatera Utara, Minggu (14/9/2015) lalu.

Dari Bonjol, mereka melanjutkan petualangan wisata mereka ke Kota Parapat, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. Seperti kebanyakan wisatawan mancanegara lainnya, mereka pun menyeberang ke Pulau Samosir.

SONORA/S JUMAR SUDIYANA Patung Sigale-gale di Desa Wisata Tomok, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara.
Selama belasan jam di perjalanan darat dengan mobil yang mereka sewa, Jonathan dan Lia merasa tak begitu masalah dengan kondisi jalan Lintas Tengah Sumatera yang tak seluruhnya mulus itu.

"Saya dan Lia menikmati saja perjalanan kami di jalur lintas Sumatera dengan mobil van yang kami sewa. Selama di perjalanan aman dan praktis di dalam mobil hanya kami dan sopir. Buat kami, kondisi jalan tak begitu masalah," katanya.

Di sepanjang perjalanan Jakarta-Padang-Pulau Samosir itu pula, mereka merasakan keramahtamahan orang-orang Indonesia yang mereka temui. "Orang-orang Indonesia sangat menyambut turis asing seperti kami," kata Jonathan yang mengaku tiba di Pulau Samosir pada Sabtu (12/9/2015).

Dalam perkara makan, mereka pun mengaku tak menemui kesulitan karena masakan Padang ternyata tak sepedas yang mereka pikirkan sebelum bertolak ke Indonesia. "Sejak di Perancis, saya memang sudah suka rendang sapi. Rendang menu favorit saya," katanya.

Ucapan Jonathan itu diakui Lia. "Tapi ada satu hal yang membuat kami selalu deg-degan di Indonesia, yakni saat hendak menyeberang jalan. Sepeda motor dan mobil seperti enggan berhenti dan memberi jalan kepada penyeberang jalan. Ini perkara yang sangat sulit buat saya dan Lia," katanya.

KOMPAS.COM/I MADE ASDHIANA Tugu Nol Kilometer di Sabang, Provinsi Aceh.
Selama sepekan di Pulau Sumatera, mereka sudah mengunjungi beberapa obyek wisata utama di Padang, Bukittinggi, Bonjol dan Samosir, termasuk melihat koleksi Museum Simanindo yang tersimpan di lemari-lemari kaca yang mengitari dinding sebuah rumah adat warisan Raja Sidauruk.

Namun semua itu baru etape awal eksplorasi mereka di Sumatera. "Dari Samosir, kami berencana ke Medan untuk kemudian bertolak ke Bukit Lawang untuk melihat orangutan (Pongo abelii). Jika memungkinkan kami juga mau ke Brastagi, Tanah Karo, sebelum bertolak ke Kota Sabang di Pulau Weh, Provinsi Aceh," katanya.

Selama di Pulau Weh di mana Tugu Nol Kilometer Indonesia berada, dia dan Lia ingin menikmati keindahan alam bawah laut di perairan itu. "Untuk kepentingan penyelaman wisata bahari di Pulau Weh ini, saya sampai mengambil kursus menyelam di Perancis," katanya.

Rasa ingin tahu dan hasrat yang kuat untuk bisa langsung merasakan denyut kekuatan nilai kultur Batak Toba mereka tunjukkan selama berada beberapa jam di kompleks wisata Huta Bolon Simanindo yang berjarak sekitar sepuluh kilometer dari Tomok itu.

Jonathan dan Lia rela membayar tiket masuk sebesar Rp 50.000 per orang untuk menyaksikan pertunjukan upacara adat yang disebut "Mangalahat Horbo", "Borotan" dan "Godang Sigale-gale" yang digelar di halaman rumah Bolon peninggalan Raja Sidauruk itu.

Fatimah Kartini Bohang Hidangan Padang di Bukittinggi
Bahkan, mereka ikut bergabung dengan belasan wisatawan asing lainnya untuk menortor bersama para penari Batak yang berpartisipasi dalam keseluruhan rangkaian acara adat memotong kerbau dan memukul gondang di halaman Huta Bolon Simanindo itu.

"Benar-benar pengalaman yang menyenangkan," kata Jonathan seusai ikut menari bersama dengan para penari Tortor dengan iringan gendang khas Batak Toba itu.

Di tengah keasyikannya menuturkan soal ketertarikan dan ketakjubannya pada kekayaan wisata seni-budaya, alam, dan sejarah Indonesia, perjalanan wisata pertama mereka di Indonesia itu sedikit terusik oleh bencana asap akibat kebakaran hutan dan lahan di beberapa provinsi di Pulau Sumatera.

"Saya merasa kasihan dengan penduduk yang kesehatan dan perekonomiannya terganggu oleh bencana asap dari kebakaran hutan dan lahan itu," kata Jonathan.

Jonathan kemudian menyinggung pengalaman buruk Italia akibat bencana ekologis yang disebabkan deforestasi dan kebakaran hutan di negara itu di masa lalu. "Saya berharap Indonesia bisa segera menghentikan kebakaran hutan dan lahan ini," katanya.

KOMPAS IMAGES/RODERICK ADRIAN MOZES Jam Gadang di Kota Bukittinggi, Sumatera Barat, Rabu (8/6/2011). Jam peninggalan zaman kolonial Belanda ini merupakan salah satu daya tarik wisata di Kota Bukittinggi.
Selain masalah bencana ekologis di Sumatera itu, Jonathan juga memandang penting kampanye berkelanjutan pengurangan dan bahkan penghentian penggunaan bungkus plastik kepada masyarakat di kawasan wisata seperti Samosir demi menjaga kelestarian alam dan kebersihan lingkungan. "Ini penting karena sampah-sampah plastik tidak mudah terurai di dalam tanah," katanya.

Usul senada tentang perlunya menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan, termasuk segera menghentikan bencana ekologis tahunan akibat kebakaran hutan dan lahan di Sumatera dan Kalimantan guna memperkuat posisi pariwisata Indonesia, juga disampaikan turis asal Polandia, Zuzanna Kasprzyk.

"Menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan sangat penting supaya Indonesia mampu bersaing dengan Malaysia dan Thailand dalam menggaet wisatawan asing di samping menggiatkan pembangunan infrastruktur jalan dan pelabuhan berkelas dunia, kemudahan transportasi, dan pelayanan yang prima," kata Zuzanna.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Sumber Antara


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.