Kompas.com - 22/11/2015, 16:38 WIB
Warga berziarah di kompleks Makam Sunan Gunung Jati, Cirebon, Jawa Barat, Minggu (12/7/2015). Selain sarat nilai sejarah, makam tersebut menjadi salah satu destinasi wisata religi umat muslim di Cirebon. KOMPAS.com / KRISTIANTO PURNOMOWarga berziarah di kompleks Makam Sunan Gunung Jati, Cirebon, Jawa Barat, Minggu (12/7/2015). Selain sarat nilai sejarah, makam tersebut menjadi salah satu destinasi wisata religi umat muslim di Cirebon.
EditorI Made Asdhiana
CIAMIS, KOMPAS.com - Sekretaris Kementerian Pariwisata Ukus Kuswara mengungkapkan berdasarkan penelitian, dalam kurun waktu lima tahun terakhir terjadi kenaikan hingga 165 persen atas perjalanan wisata yang yang didasarkan pada keyakinan diri atau wisata religi.

"Dari sekian banyak keanekaragaman wisata di Indonesia, masih ada potensi yang tersembunyi untuk digali, diperkuat dan dioptimalkan. Wisata religi menjadi pembeda dan ciri khas peradaban bangsa Indonesia," katanya di Ciamis, Jawa Barat, Minggu (22/11/2015).

Ia menyebut salah satunya Pesantren Sirnarasa yang dijadikan kunjungan wisata religi bagi para wisatawan, baik lokal maupun asing.

Dalam salah satu percakapan di acara manaqib (napak tilas kisah orang saleh), ia mengatakan tahun ini terjadi pergeseran tren kepariwisataan.

Tren tersebut adalah perubahan paradigma parawisata dari "sun, sand and sea" menjadi "serenity, sustainability and spirituality" atau "matahari, pasir dan laut" menjadi "ketenangan, keberlanjutan dan spiritualitas".

KOMPAS/FRANS SARONG Umat Katolik berdoa bersama di depan patung Bunda Maria di Bukit Oebelo, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur, 1 Mei 2015. Patung Bunda Maria merupakan salah satu titik persinggahan saat mengunjungi Bukit Oebelo.
Kemudian, untuk data seluruh dunia, UNWTO memperkirakan sekitar 330 juta wisatawan global atau 30 persen dari total keseluruhan wisatawan global melakukan kunjungan ke situs-situs religius di seluruh dunia, baik yang berdasar pada motif spiritual ataupun motif kognitif.

Sebelumnya, Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya bertekad serta meminta keterlibatan seluruh pemangku kepentingan untuk meningkatkan dan memperbaiki tata kelola destinasi wisata ziarah di Tanah Air.

Menteri Arief Yahya menyebutkan, ia akan fokus pada tiga hal untuk membangun dan memperbaiki tata kelola destinasi wisata ziarah.

"Saya akan fokus pada pemasaran, destinasi, dan SDM," katanya.

Menurut Arief, diperlukan pengembangan destinasi wisata ziarah secara lebih serius, termasuk pengelolaan destinasi, pengemasan produk wisata, serta promosi dan pemasaran pada segmen wisata minat khusus tersebut.

Halaman:


Video Pilihan

Sumber Antara
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.