Kompas.com - 03/12/2015, 09:32 WIB
Ranu Amilus, berselancar dengan hasrat jiwa. KOMPAS/MEDIANARanu Amilus, berselancar dengan hasrat jiwa.
EditorI Made Asdhiana
”I don’t need an easy, I just need a possible.”

Begitu kata Bethany Hamilton, peselancar profesional asal Hanelai (Kauai, Hawaii), November 2003, sebulan setelah lengan kirinya harus diamputasi karena diserang hiu macan sepanjang 14 meter.

Dengan satu lengan, banyak orang meragukan dia. Namun, perempuan yang meraih gelar juara pertama pada kompetisi selancar Quicksilver saat usia delapan tahun itu tidak ragu kembali berselancar.

Dua tahun kemudian, Bethany meraih juara US National Under-18 Surf Championship yang diselenggarakan National Scholastic Surfing Association.

Selang satu tahun kemudian, beratus-ratus ribu kilometer dari Hawaii, tsunami menimpa Aceh. Tak terkecuali di Pulau Simeulue, sekitar 150 kilometer dari lepas pantai barat Aceh. Rumah penduduk yang berada di bibir pantai diterjang gelombang.

Ranu Amilus (34), lelaki kelahiran Sinabang, Simeulue, ”terpaksa kehilangan” mimpinya sejenak untuk membangun resor wisata bagi peselancar. Modal berupa tanah dan properti resornya hancur diterjang tsunami.

Simeulue, pulau yang dikenal dunia akan ombak pantai terbaik bagi peselancar tersebut, sempat sepi dari kunjungan wisatawan. Trauma tsunami begitu kuat. Setelah kejadian itu, dia mencoba bekerja di berbagai bidang, mulai aktivis lembaga swadaya masyarakat hingga asisten di perusahaan logistik.

Perjalanan hidup Ranu ibarat ombak laut dan selancar yang tidak jauh dari kehidupannya. Ia jatuh bangun menekuni wirausaha di bidang pariwisata. Tapi, dia selalu menggapai papan selancarnya, berdiri kembali di atas papan, dan ”berselancar” dalam lautan kehidupan.

Keluarga pedagang

Orangtua Ranu berlatar belakang budaya Minangkabau, Sumatera Barat. Pada 1965, mereka merantau ke Simeulue sebagai pedagang cengkeh. Kala itu, Simeulue terkenal sebagai tanah emas.

”Semua warga bermata pencarian di rantai perdagangan cengkeh. Hasil perkebunan ini menjadi primadona. Harga pasarannya setinggi emas,” kata Ranu.

Pada awal 1980-an, harga per kilogram cengkeh mencapai Rp 25.000 atau hampir mendekati harga emas seberat 3,3 gram, yakni Rp 28.000.

Kemakmuran dan kebahagiaan dirasakan keluarga Ranu. Keluarganya pun akrab dengan pantai sebagai tempat piknik keluarga. Ia pun mulai berkenalan dengan papan selancar.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.