Menelusuri Romantisme Rumah Panggong, Rumah Adat Belitung

Kompas.com - 15/03/2016, 07:36 WIB
Beginilah replika rumah adat untuk Bangsawan Belitung, terdiri dari tiga bagian, yaitu ruang depan sekaligus ruang tidur, ruang dapur, dan paling belakang ruang penjaga rumah. Ketiganya disambungkan dengan jembatan kecil dan tangga. KOMPAS.com/Muhammad Irzal AdiakurniaBeginilah replika rumah adat untuk Bangsawan Belitung, terdiri dari tiga bagian, yaitu ruang depan sekaligus ruang tidur, ruang dapur, dan paling belakang ruang penjaga rumah. Ketiganya disambungkan dengan jembatan kecil dan tangga.
|
EditorI Made Asdhiana

TANJUNG PANDAN, KOMPAS.com - Ketika Anda berkunjung ke suatu daerah terasa kurang lengkap rasanya jika belum mengunjungi rumah adat yang hanya ada di daerah tersebut. Di Belitung, Kepulauan Bangka Belitung, Anda bisa menelusuri rumah Adat Panggong, yang memiliki lima bagian dengan arti dan fungsi yang berbeda-beda.

Rumah adat Belitung kini jumlahnya sangat sedikit. Namun, ketika anda sudah di Belitung mudah untuk menemukan rumah adat tersebut. Terletak persis di tengah kota Tanjung Pandan, tepatnya di Jalan Ahmad Yani, persis di samping Kantor Bupati Belitung.

Anda cukup menempuh waktu kurang dari 20 menit dari Bandara H.A.S Hanandjoeddin. Diletakkan berdampingan dengan kantor Bupati, menurut Yudi salah satu pengelolanya, agar rumah tersebut dapat dilihat banyak orang, salah satunya tamu dinas.

“Rumah adat ini dibangun mulai tahun 2006, selesai dan diresmikan tiga tahun kemudian. Dulunya di samping kantor bupati ini toko milik warga Tionghoa, lalu dibeli dan dibangun rumah adat, agar mudah dilihat terutama tamu dinas,” ujar Yudi, kepada KompasTravel dalam Corporate Media Gathering BW Suite ke Belitung, Sabtu (12/3/2016).

KompasTravel bersama rekan-rekan wartawan dalam Corporate Media Gathering BW Suite berkunjung ke Rumah Adat Panggong tersebut.

Sesaat sampai di sana, perbedaan dengan rumah adat lain akan langsung terlihat. Dibangun memanjang dengan lima bagian, semakin ke belakang fungsinya semakin rendah, dari mulai teras untuk tamu hingga ruangan untuk penjaga tau pembantu.

KOMPAS.com/Muhammad Irzal Adiakurnia Peralatan prosesi pernikahan adat Belitung yang dipamerkan di Rumah Adat Bangsawan Belitung.
Memiliki fondasi dari batu granit, yang banyak ditemui di Belitung. Selain fondasi, semuanya terbuat dari kayu kokoh, dari mulai lantai menggunakan kayu ulin, tiang penyangga dari kayu nyatoh, sedangkan atap menggunakan kayu medang dan seru.

Begitu masuk pengunjung disambut dengan gemericik kembang goyang yang yang saling bergesekan karena ditiup angin. Kembang ini merupakan ornamen penyambut tamu, dahulunya terbuat dari daun lais, tapi disini menggunakan besi tipis yang dibentuk serupa.

Rumah adat yang terletak di tengah kota ini merupakan miniatur rumah Panggong untuk seorang bangsawan, atau yang dimiliki para pejabat dahulu. Perbedaannya dengan rumah penduduk biasa ialah lebih besar sehingga memiliki lima ruangan, sedangkan rakyat biasa hanya memiliki empat ruangan.

Selain itu beberapa ornamen yang membedakan, salah satunya jumlah anak tangga. Di Belitung sendiri, jumlah anak tangga rumah haruslah ganjil, untuk bangsawan lebih dari tiga anak tangga, tapi rakyat biasa hanya diperbolehkan memiliki tiga anak tangga.

Ornamen lainnya yang terdapat di rumah bangsawan merupakan perpaduan dari model suku lain, tergantung silsilah keuarga bangsawan tersebut. Di rumah ini sendiri, anda bisa menemukan renda penghias atap berbentuk segitiga-segitiga.

Menurut Yudi, ini merupakan adopsi dari rumah adat Kalimantan, yang berarti bangsawan tersebut memiliki saudara dari suku di Kalimantan.

Halaman:
Baca tentang
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X