Kompas.com - 21/02/2017, 09:17 WIB
Warga di Desa Adat Penglipuran, Kabupaten Bangli, Bali. BARRY KUSUMAWarga di Desa Adat Penglipuran, Kabupaten Bangli, Bali.
EditorI Made Asdhiana

(BACA: Blusukan ke Tabanan, Melihat Rumah Tradisional Khas Bali)

Selain itu, percepatan menjadi salah satu solusi pelestarian budaya, adat, lingkungan, dan keterlibatan masyarakat lokal dalam pengelolaan desa wisata ini.

Program membangun 100 desa wisata dengan pemerintah provinsi sebagai pembinanya dirintis sejak tahun 2013. Hingga kemarin, sebanyak 67 desa wisata terbentuk dan dibina.

Kepala Dinas Pariwisata Bali Anak Agung Gede Yuniartha memaksimalkan keberlangsungan desa wisata ini.

Ia percaya pengelolaan yang diserahkan kepada masyarakat justru lebih lancar. Masyarakat desa lebih paham apa yang mereka harus dipertahankan dan dilestarikan.

Desa wisata yang sukses dikelola masyarakat, di antaranya Desa Penglipuran, Kabupaten Bangli; Desa Sibetan, Kabupaten Karangasem; dan Desa Taro, Kabupaten Gianyar.

Wakil Ketua Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) Bali Putu Winastra setuju jika pemerintah bisa mengembangkan desa wisata. Desa wisata mampu memperkuat daya tarik wisatawan, terutama asing.

Ia pun meminta agar pemerintah tidak menyeragamkan seluruh desa wisata, tetapi memperkuat potensi masing-masing. (AYS)

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 20 Februari 2017, di halaman 22 dengan judul "Bali Genjot 100 Desa Tahun Ini".

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X