Wisata Tak Biasa, Melihat Persahabatan Duyung dan Pak One di Alor

Kompas.com - 25/03/2017, 23:03 WIB
Duyung yang memiliki nama ilmiah Dugong dugon. Tutus WjanarkoDuyung yang memiliki nama ilmiah Dugong dugon.
|
EditorNi Luh Made Pertiwi F
ALOR, KOMPAS.com - Onesimus Laa (51) mematikan mesin kapal kayunya. Kemudian laki-laki yang akrab disapa One ini berdiri dan berkata, "Datang sini, ini ada tamu datang".
 
Tak berapa lama muncul makhluk laut yang meliukan tubuhnya mengikuti gelombang. Kulitnya tampak licin berwarna abu-abu pucat. Liuk terakhir makhluk itu memperlihatkan ekornya yang besar, berukuran sekitar satu meter. Itulah duyung yang memiliki nama ilmiah Dugong dugon. 
 
"Saya pertama kali bertemu dia ( dugong) tahun 2009. Pertama saya pergi dengan kapal dia ikuti saya. Pulang dari laut dia antar saya, ada sekitar empat kali," cerita One. 
 
Ia percaya pertemuannya dengan dugong diawali oleh niatnya yang ingin menjaga lingkungan. Sejak tahun 2007, One memang aktif menanam tanaman bakau di Pulau Sika, pulau tak berpenghuni di daerah timur laut Kawasan Konservasi Perairan Daerah (KKPD) Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur.
 
Tahun 2009, One didampingi oleh WWF Indonesia, berusaha melestarikan magrove dan biota laut dilindungi di kawasan perairan Alor, khususnya Pantai Mali. Bagikan sepasang sahabat karib, dugong dan One seakan bisa berkomunikasi satu sama lain.
 
"Dugongnya datang kalau saya pakai motor perahu yang ini," kata One.
 
Tak hanya suara motor perahu, menurut One, dugong juga mengerti gerakan tubuh. Contohnya saat One berenang berputar menyerupai bentuk spiral, dugong juga akan mengikuti. Atau, saat One menyuruh dugong pergi karena ia akan pulang, One akan melambaikan tangan. Lantas, dugong tersebut akan pergi dan tak mengikuti One. 
 
Kompas.com/Silvita Agmasari Onesimus Laa, aktivis lingkungand ari Alor, NTT
"Kalau saya mau ke luar kota beberapa hari, saya pesan ke Dugong supaya dia jangan berenang keluar teluk, nanti takut di bom orang. Saya pulang dia masih ada di teluk," kata One. 
 
Betapa beruntungnya saat One mengizinkan tim media dan WWF Indonesia untuk mengamati tingkah laku dugong di perairan Pantai Mali. Kami diperbolehkan berenang di laut untuk melihat dugong, tetapi dengan syarat tertentu.
 
Syarat itu antara lain tak boleh menertawakan dugong dan paling penting tak boleh menyentuh dugong sekalipun dugong menghampiri. Apabila dugong mendekat, kami harus berenang menjauhi dugong.
 
"Biasa ada dua dugongnya, tetapi satu lagi habis melahirkan. Anaknya masih kecil sekali. Saya lihat pertumbuhan anak dugingnya sangat lambat," kata One menunjuk dugong dengan kisaran ukuran tiga meter.
 
Pengalaman luar biasa adalah saat melihat dugong secara langsung di habitatnya dan melihat dugong makan lamun di dasar laut. Mulutnya mengunyah lamun layaknya sapi mengunyah rumput.  
 
Pariwisata bertanggung jawab
 
Lama kelamaan dugong di Pantai menjadi daya tarik wisata di Alor. Meski begitu One yang bisa disebut sebagai pawang dugong tak lantas menjadikan dugong sebagai obyek wisata. One memperlakukan dugong layaknya rekan dengan mengikuti dasar yang memikirkan keberlanjutan dugong tersebut. 
 
"Wisata yang bertanggung jawab adalah wisata yang mengutamakankan aspek lingkungan, mendorong keberlanjutan. Supaya aset atau modal aneka hayati pariwisata tetap terjaga," kata Marine and Fisheries Campaign Coordinator WWF Indonesia, Dwi Aryo Tjiptohandono. 
 
Kompas.com/Silvita Agmasari Dugong di Pantai Mali, Alor.
One telah melaksanakan dan menghimbau wisatawan pariwisata berkelanjutan sesuai panduan untuk wisata bahari mengamati mamalia laut. Di antaranya dengan membiarkan dugong bergerak bebas, tak menyentuh atau mengejar dugong, tak memberi makan, dan mengatur kecepatan kapal. 
 
"Ke depan saya tak mau wisatawan berenang bersama dugong, karena dugong ini semakin lama semakin mendekat ke orang. Biar diamati dari perahu," kata One. 
 
One membatasi kunjungan wisatawan untuk mengamati dugong, terbatas satu perahu isi lima orang dengan sehari hanya boleh ada dua kali kunjungan. Untuk harga, One tak mematok harga alias disesuaikan dengan kondisi.
 
Tak hanya pariwisata, One yang menjabat sebagai Ketua Kelompok Nelayan Alor juga melarang perburuan hewan langka dan menghimbau penangkapan ikan dengan metode ramah lingkungan.
 
Saat ini dugong termasuk makhluk laut yang terancam punah karena jumlahnya yang terus berkurang. Ancaman bagi dugong antara lain faktor alam, manusia, dan biologis. Di Indonesia perburuan dugong dilakukan bukan untuk daging, melainkan taring dan air mata dugong yang menurut mitos memiliki khasiat tertentu. 

Baca tentang
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Imbas Wabah Corona, Kucing dan Rakun di Kafe Hewan Seoul Kesepian

Imbas Wabah Corona, Kucing dan Rakun di Kafe Hewan Seoul Kesepian

Jalan Jalan
Pengalaman Bikin Dalgona Coffee Tanpa Mixer, Pakai Saringan Sederhana

Pengalaman Bikin Dalgona Coffee Tanpa Mixer, Pakai Saringan Sederhana

Travel Tips
InterContinental Bali Resort Bikin Masker Sendiri, Berikan ke Pegawai dan Warga

InterContinental Bali Resort Bikin Masker Sendiri, Berikan ke Pegawai dan Warga

Whats Hot
Ngopi di Rumah? Coba Resep Baru Ini, Kopi Campur Kunyit

Ngopi di Rumah? Coba Resep Baru Ini, Kopi Campur Kunyit

Makan Makan
Turis Berkurang karena Corona, Gajah Thailand Alami Kelaparan

Turis Berkurang karena Corona, Gajah Thailand Alami Kelaparan

Jalan Jalan
Bandara Soetta Sediakan 270 Parking Stand untuk Tempat Parkir Pesawat

Bandara Soetta Sediakan 270 Parking Stand untuk Tempat Parkir Pesawat

Whats Hot
Simak, Cara Permintaan Pembatalan dan Refund di Tiket.com

Simak, Cara Permintaan Pembatalan dan Refund di Tiket.com

Whats Hot
[POPULER TRAVEL] Simpan Telur di Dalam Freezer | Alasan Teripang Mahal

[POPULER TRAVEL] Simpan Telur di Dalam Freezer | Alasan Teripang Mahal

Whats Hot
11 Inisiatif Restoran Terbaik Dunia Saat Pandemi Covid-19, dari Bagi Makanan sampai Bikin Petisi

11 Inisiatif Restoran Terbaik Dunia Saat Pandemi Covid-19, dari Bagi Makanan sampai Bikin Petisi

Makan Makan
Kunjungan Turis Asing ke Bali Menurun, Nyaris Sudah Tidak Ada Tamu

Kunjungan Turis Asing ke Bali Menurun, Nyaris Sudah Tidak Ada Tamu

Whats Hot
Mesin Penyemprot Disinfektan ke Bagasi Hadir di Bandara Soekarno Hatta dan 18 Bandara Lain

Mesin Penyemprot Disinfektan ke Bagasi Hadir di Bandara Soekarno Hatta dan 18 Bandara Lain

Whats Hot
KBRI di Washington Imbau Turis Indonesia di AS Cepat Pulang ke Tanah Air

KBRI di Washington Imbau Turis Indonesia di AS Cepat Pulang ke Tanah Air

Whats Hot
Amerika Serikat Tunda Penerbitan Paspor Baru, Kecuali Urusan Darurat Kesehatan

Amerika Serikat Tunda Penerbitan Paspor Baru, Kecuali Urusan Darurat Kesehatan

Whats Hot
Layanan Buat Paspor Baru di Ditjen Imigrasi Indonesia Ditangguhkan Sementara Waktu

Layanan Buat Paspor Baru di Ditjen Imigrasi Indonesia Ditangguhkan Sementara Waktu

Whats Hot
Perancis Perkenalkan Kontrol Perbatasan Internal Selama Tujuh Bulan

Perancis Perkenalkan Kontrol Perbatasan Internal Selama Tujuh Bulan

Whats Hot
komentar di artikel lainnya
Close Ads X