Kompas.com - 25/06/2017, 15:06 WIB
Pedagang kulit ketupat tengah membuat kulit ketupat yang terbuat dari daun kelapa di Tanah Abang, Jakarta Pusat, Selasa (6/8/2013) Zico NurradhidPedagang kulit ketupat tengah membuat kulit ketupat yang terbuat dari daun kelapa di Tanah Abang, Jakarta Pusat, Selasa (6/8/2013)
|
EditorI Made Asdhiana

JAKARTA, KOMPAS.com - Ketupat, hidangan yang tak pernah absen dari meja makan di Hari Raya Idul Fitri bukan makanan biasa.

Selain lezat, di balik sepotong ketupat tersimpan filosofi yang begitu indah. Mengingatkan kembali apa makna dari Hari Raya Idul Fitri bagi yang menyantapnya.

"Menurut cerita rakyat, ketupat itu berasal dari masa hidup Sunan Kalijaga, tepatnya di masa syiar Islamnya pada abad ke-15 hingga 16. Sunan Kalijaga menjadikan ketupat sebagai budaya sekaligus filosofi Jawa yang berbaur dengan nilai ke-Islaman," kata sejarawan kuliner sekaligus penulis buku "Jejak Rasa Nusantara: Sejarah Makanan Indonesia", Fadly Rahman, saat dihubungi KompasTravel, Sabtu (24/6/2017).

(BACA: Ketupat Berbungkus Janur dan Plastik, Apa Bedanya?)

Ketupat atau disebut kupat oleh masyarakat Jawa dan Sunda, menurut Fadly, mewakili dua simbolisasi yakni ngaku lepat yang berarti mengakui kesalahan, dan laku papat atau empat laku yang juga tercermin dari wujud empat sisi dari ketupat.

Empat laku tersebut terdiri dari:
1. Lebaran (kata dasar lebar) berarti pintu ampun yang dibuka lebar terhadap kesalahan orang lain.
2. Luberan (kata dasar luber) berarti melimpahi, memberi sedekah pada orang yang membutuhkan.
3. Leburan (kata dasar lebur) berarti melebur dosa yang dilalui selama satu tahun.
4. Laburan (kata lain kapur) yakni menyucikan diri, putih kembali layaknya bayi.

(BACA: Ini Asal Usul Ketupat, Hidangan Khas Lebaran)

Hidangan pendamping ketupat, lanjt Fadly, juga merupakan representatif lengkap asimilasi kuliner Nusantara yang terpengaruh dari berbagai budaya luar.

Seperti kuah kari yang dipengaruhi kuliner India, gulai yang dipengaruhi Arab, balado dari pengaruh Portugis, semur dan kue kering dari pengaruh Belanda juga Eropa, dan manisan dari pengaruh China.

Di zaman lampau hantaran hidangan khas hari raya juga sudah dilakukan oleh mayarakat multikultural di Indonesia. Menjadi tradisi yang mengakar hingga saat ini, menjunjung tinggi toleransi di Tanah Air. 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.