Liburan ke Gunungkidul, Yuk Jajal "Flying Fox" Terpanjang Kedua di Asia Tenggara

Kompas.com - 30/08/2017, 07:04 WIB
Nelayan mencari ikan di waduk Rawa Jombor di Desa Krakitan, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, Kamis (18/8/2016) pagi. KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKONelayan mencari ikan di waduk Rawa Jombor di Desa Krakitan, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, Kamis (18/8/2016) pagi.
|
EditorSri Anindiati Nursastri

Kepala Bidang Destinasi Dinas Pariwisata DIY, Aria Nugrahadi, mengatakan bahwa keberadaan flying fox di Desa Mertelu ini sudah ada sejak awal Januari 2017. Namun wahana yang dibangun sejak Oktober itu memang baru diresmikan besok oleh orang nomor satu di DIY.

"Wahana ini dikelola masyarakat desa, namun dana (membangunnya) merupakan bantuan dari Gubernur DIY," kata Aria ketika dihubungi melalui sambungan telepon.

Dikatakan Aria, jenis dan bentuk flying fox di Desa Mertelu itu seperti pada umumnya. Meski panjangnya lebih dari 600 meter, menurutnya, keamanan dan kenyamanan wisatawan yang menaiki flying fox itu terjamin. Sebab terdapat tim khusus yang menangani keamanan dan kenyamanannya.

"Ada tim profesional yang set up flying fox itu. Jadi aman tidak perlu takut walaupun panjang," kata Aria.

Bisa Lihat Rowo Jombor di Klaten

Aria mengatakan bahwa wisatawan tak hanya bisa merasakan adrenalin ketika menaiki flying fox di Desa Mertelu itu. Wisatawan juga bisa mendapatkan pemandangan yang tak biasa lewat flying fox yang menghubungkan antar bukit.

"Dari flying fox itu kita bisa lihat pemandangan kanan dan kiri yang merupakan wilayah Klaten dan Sukoharjo. Bahkan kita bisa lihat di Klaten kelihatan," kata Aria.

 

Dengan panjang lebih dari 600 meter, Aria tak bisa memastikan kecepatan meluncurnya. Namun, ia mengatakan, perjalanan dari ujung bukit tertinggi ke ujung bukit terendah itu berjalan lambat. Berdasarkan pengalaman orang yang sudah menjajalnya, waktu tempuhnya mencapai 1 menit 40 detik.

"Memang tidak terlalu kencang sehingga yang naik itu juga merasa nyaman. Untuk kedalaman jurang yang dilewati juga bervariasi, ada 30 meter sampai 40 meter," kata Aria.

BACA: Berkemah di Ngrumput, Pantai di Gunungkidul yang Masih Sepi

 

Aria mengatakan, sejumlah fasilitas telah dibangun di kawasan flying fox tersebut. Salah satunya adalah lahan parkir seluas 400 meter persegi. Pihaknya pun mendorong masyarakat sekitar untuk menjajakan kuliner lokal agar menjadi daya tarik tersendiri.

"Wahana wisata ini memang dikelola masyarakat, hanya didampingi tim khusus agar pengelolaannya profesional," kata Aria.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X