Kompas.com - 02/12/2017, 09:40 WIB
Para tamu ke Desa Lopusdi, Kecamatan Delang, Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah, dipakaikan topi kehormatan adat Dayak, Jumat (30/11/2017). KOMPAS.COM/BUDI BASKOROPara tamu ke Desa Lopusdi, Kecamatan Delang, Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah, dipakaikan topi kehormatan adat Dayak, Jumat (30/11/2017).
|
EditorI Made Asdhiana

PANGKALAN BUN, KOMPAS.com - Enam orang menari dengan mengenakan busana kulit kayu, topi berbulu burung enggang dengan replika paruh panjangnya, menyambut para tetamu yang datang.

Ditingkahi suara gendang, garantung, gong dan bebunyian dari alat musik tradisional lainnya, para penari itu terlihat tetap lincah, sekalipun rintik hujan sedang turun.

Begitulah cara masyarakat Dayak di Desa Lopus, Kecamatan Delang, Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah menyambut tamunya. Tapi, itu baru permulaan. Ada potongan-potongan kayu bambu melintang di depan puluhan tamu dari dalam dan luar negeri itu.

(Baca juga : Bapalas Benua Bekasik, Upacara Adat Suku Dayak Usai Panen)

Seorang mantir (kepala) adat, kemudian maju ke depan. Dengan bahasa setempat, ia menanyakan maksud kedatangan para tamu itu. Setelah jelas, perwakilan dari tamu itu harus memotong kayu-kayu yang melintang.

Ritual memotong kayu itu disebut Garung Pantan. Ritual yang sama harus dilalui para tamu di kampung Dayak lainnya, di Kabupaten Lamandau itu. Ini dialami para tamu itu sehari kemudian, ketika berkunjung ke komunitas Dayak di Kelurahan Tapinbini, Kecamatan Lamandau.

(Baca juga : Tarian Pebekatawai, Simbol Persaudaraan Suku Dayak Kenyah)

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Para tamu yang datang itu memang spesial. Mereka datang dari Italia, Belanda, Singapura, Jakarta, dan beberapa kota lain di Indonesia dalam agenda famtrip ke destinasi wisata Lamandau dan Tanjung Puting yang diinisiasi Swiss Contact dan Dinas Pariwisata Kabupaten Lamandau, 26-30 November 2017.

Para tamu di Desa Lopus, Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah, wajib ikut baigal atau menari di acara bagondang, Jumat (30/11/2017).KOMPAS.COM/BUDI BASKORO Para tamu di Desa Lopus, Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah, wajib ikut baigal atau menari di acara bagondang, Jumat (30/11/2017).

Destinasi Baru

Namun, perlakuan istimewa itu bukan semata karena keistimewaan rombongan besar itu. Lopus dan Tapinbini merupakan destinasi wisata baru, yang dalam dua tahun terakhir mulai biasa menerima wisatawan.

"Sudah ada 120 kunjungan wisatawan sejak tahun lalu ke desa Lopus," ungkap Rasdi Wangsa, Office Manager Swiss Contact untuk kegiatan pariwisata di destinasi Tanjung Puting, pada Kompas.com, di Pangkalan Bun, Jumat (30/11/2017) malam.

Dua desa di pelosok Kalimantan Tengah ini menyuguhkan pertunjukan tradisi dan lifestyle tradisional suku Dayak dan lingkungan hidupnya yang masih alami. Wisatawan bisa melihat dari dekat kehidupan dan tradisi suku Dayak dan alamnya itu.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.