Tegangnya Perjalanan Menuju Pegunungan Arfak Papua Barat... - Kompas.com

Tegangnya Perjalanan Menuju Pegunungan Arfak Papua Barat...

Kompas.com - 07/08/2018, 22:05 WIB
Mobil melintasi sungai saat menuju Pegunungan Arfak, Papua Barat.Dok. MAPALA UI Mobil melintasi sungai saat menuju Pegunungan Arfak, Papua Barat.

KOMPAS.com - “Bzzzt....di sini 1182 sedang turun-turun air terjun... Rekan ada yang sedang naik-naik kah?”

Begitu bunyi pesan yang disampaikan Bang Yos, supir mobil angkutan kami, kepada mobil lain yang akan melintas melalui alat komunikasi ‘mobile rig’ yang terpasang di kendaraannya.

1182 adalah plat nomor mobil berbadan besar ini, sedangkan “air terjun” merupakan sebutan daerah yang telah disepakati warga lokal dan supir-supir kendaraan pengangkut. Percakapan seperti ini biasa terdengar dalam perjalanan menuju Pegunungan Arfak.

Pegunungan Arfak merupakan suatu kabupaten yang berjarak 90 kilometer dari pusat kota Manokwari, atau sekitar empat jam dengan menggunakan kendaraan. Kabupaten ini terletak di atas pegunungan yang bernama sama.

Untuk mengenali tempatnya cukup mudah, karena gagahnya Pegunungan Arfak dapat terlihat dari pusat kota. Barisan gunung yang menjulang tinggi seakan melengkapi pemandangan kota Manokwari dari hari ke hari.

Tim Ekspedisi Bumi Cenderawasih Mapala UI menumpang transportasi umum menuju Pegunungan Arfak, Papua Barat.Dok. MAPALA UI Tim Ekspedisi Bumi Cenderawasih Mapala UI menumpang transportasi umum menuju Pegunungan Arfak, Papua Barat.
Namun, tidak semua kendaraan dapat menuju ke Pegunungan Arfak. Hanya kendaraan four wheel drive dengan kondisi mesin prima yang dapat melintasi ruas jalan tersebut. Bannya pun haruslah berbentuk cakar, sehingga dapat lebih “menggigit” dan tidak selip.

Hal ini dikarenakan medan yang dihadapi untuk mencapai Kabupaten Pegunungan Arfak merupakan punggungan terjal serta lembahan curam. Jalanan pun masih belum teraspal, alias tanah merah yang sudah pasti licin ketika hujan turun.

Di beberapa tempat, bahkan kendaraan dihadapkan pada medan satu lajur, dimana sisi sebelah kirinya merupakan jurang yang cukup dalam. Salah perhitungan sedikit, bisa-bisa kendaraan terperosok masuk ke dasarnya. Benar-benar menegangkan!

Bang Yos, supir angkutan Manokwari - Pegunungan Arfak asal Makassar. Bang Yos, supir angkutan Manokwari - Pegunungan Arfak asal Makassar.

Di beberapa ruas jalan menuju Kabupaten Pegunungan Arfak, kendaraan diharuskan untuk melintasi sungai, dikarenakan belum adanya akses jembatan yang dibangun.

Selain mobil four wheel drive dengan kondisi prima, dibutuhkan juga sopir yang benar-benar handal. Nah, di sinilah peran angkutan umum menuju Pegunungan Arfak menjadi sangat penting.

Jangan dulu membayangkan angkutan umum ke Pegunungan Arfak seperti angkutan umum pada umumnya di kota yang terkesan seadanya dan tidak terawat. Kendaraan yang digunakannya saja bisa dibilang ‘wah’ karena terkenal bandel.  

Tiap mobil dilengkapi dengan mobile rig sebagai alat komunikasi antar kendaraan yang melintas.

Kondisi jalan rute Manokwari - Pegunungan Arfak yang berliku.Dok. MAPALA UI Kondisi jalan rute Manokwari - Pegunungan Arfak yang berliku.
Alat ini berguna untuk mengetahui segala informasi yang dibutuhkan supir dalam melintasi tiap daerah, seperti jika jalan terputus karena sungai meluap, ruas yang tertutup longsor, hingga tanjakan terjal yang terlalu licin sehingga tidak bisa dilewati.

Beberapa kali, alat ini juga digunakan supir untuk meminta pertolongan ketika terjadi masalah di perjalanan, seperti mogok atau terperosok jurang.

Sa (saya) biasa kasih penumpang harga Rp 200.000 per kepala”, begitu kata Bang Yos dengan logat Papua-nya. Biasanya, angkutan akan jalan jika sudah terisi 8-10 orang.

Itu berarti, si supir dapat mendapatkan uang sekitar Rp 2 juta sekali jalan ke Pegunungan Arfak. Harga yang wajar, mengingat medan yang ditempuh cukup jauh dan sangat berisiko.

 “Sa asli dari Makassar, tidak kelihatan, toh?” ujarnya di sela-sela perjalanan. Bang Yos, sapaan akrabnya, sudah 7 tahun menetap di Manokwari dan bekerja sebagai supir angkutan umum menuju Kabupaten Pegunungan Arfak.

Danau Anggi Giji di Kabupaten Pegunungan Arfak, Papua Barat.Dok. MAPALA UI Danau Anggi Giji di Kabupaten Pegunungan Arfak, Papua Barat.
Ia tidak sendirian, karena nyatanya banyak pendatang yang satu profesi dengannya. Sebut saja teman sedaerahnya, Burhan dan Ula. Bisa dikatakan, mereka mencoba memanfaatkan peluang di pulau seberang, di saat perkembangan pembangunan infrastruktur jalan terkesan lamban.

Kekosongan dalam perjalanan diisi dengan percakapan antara saya dan Bang Yos. Tentang kebiasaan masyarakat Pegunungan Arfak, hingga tempat menarik yang terdapat di sana.

Sampai akhirnya, Danau Anggi Giji pun terlihat. Pertanda saya sudah sampai di Kabupaten Pegunungan Arfak. Terletak di atas pegunungan, membuatnya terlihat bak oase di tengah padang ilalang.

Dikelilingi perbukitan di kanan-kirinya, membuat kagum siapapun yang datang. Sayang, tempat ini seperti kurang dilirik wisatawan sebagai obyek wisata yang patut dikunjungi.

Dalam sebuah perjalanan memang tidak melulu soal destinasi wisatanya, melainkan terdapat pula kisah-kisah menarik yang dapat diceritakan. Nyatanya, terdapat pihak yang diuntungkan dari lambannya pembangunan infastruktur jalan di Papua Barat.

Tarif yang cukup mahal tentu menjadi peluang kerja yang sangat menarik bagi para pendatang dari pulau seberang.

(Artikel dari anggota Tim Ekspedisi Bumi Cenderawasih Mapala UI M. Rifqi Herjoko. Artikel dikirimkan langsung untuk Kompas.com di sela-sela kegiatan Ekspedisi Bumi Cenderawasih di Papua Barat)

 


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
Close Ads X