7 Festival di NTT untuk Menarik Wisatawan

Kompas.com - 17/01/2019, 09:10 WIB
Para penunggang kuda, saat melakukan atraksi dalam kegiatan Parade Kuda Sandalwood di Kota Waikabubak, Sumba Barat, Sabtu (7/7/2018)KOMPAS.com/Sigiranus Marutho Bere Para penunggang kuda, saat melakukan atraksi dalam kegiatan Parade Kuda Sandalwood di Kota Waikabubak, Sumba Barat, Sabtu (7/7/2018)

BAJAWA, KOMPAS.com — Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur bekerja ekstra keras untuk memikat wisatawan asing dan Nusantara menikmati keindahan alam dan budaya NTT.

Upaya-upaya untuk mempromosikan keunikan alam, kampung tradisional, budaya, kain tenun NTT serta tari-tarian dan lain sebagainya sudah dilakukan oleh berbagai pihak, baik pihak swasta maupun pemerintah.

Sejalan dengan perencanan arah pembangunan yang memprioritaskan Provinsi NTT menjadi provinsi pariwisata dalam lima tahun kedepan maka 23 kabupaten dan kota di NTT harus gencar menata dan mendata obyek-obyek wisata untuk memikat wisatawan.

Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat dan Wagub NTT Josef Adrianus Nai Soi siap membawa NTT ke arah perubahan melalui pengembangan pariwisata yang mampu meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat.

Warga Kampung Adat Bena, Ngada, Flores, NTT, bermain musik tradisional yang biasa dimainkan dalam rangka upacara adat pembangunan rumah baru, Selasa (15/6/2011). Kampung berusia sekitar 1.200 tahun ini kental dengan arsitektur kuno dan budaya megalitik.KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO Warga Kampung Adat Bena, Ngada, Flores, NTT, bermain musik tradisional yang biasa dimainkan dalam rangka upacara adat pembangunan rumah baru, Selasa (15/6/2011). Kampung berusia sekitar 1.200 tahun ini kental dengan arsitektur kuno dan budaya megalitik.
Jika masyarakat sudah memiliki pendapatan ekonomi keluarga yang tinggi maka masyarakat itu sejahtera. Salah satu daya dorong untuk menyejahterakan rakyat NTT adalah sektor pariwisata.

Pengembangan pariwisata berbasis masyarakat akan diikuti oleh berbagai sektor lain, seperti sektor pertanian, perdagangan dan lain sebagainya. Hasil-hasil pertanian, seperti sayur-sayuran untuk kebutuhan wisatawan asing dan Nusantara harus bersumber dari alam NTT.

Saat ini Gubernur NTT sudah mencanangkan rumah penduduk dijadikan homestay layak huni dengan toilet yang bersih. Selain itu, gubernur juga menginstruksikan kepada bupati di 23 kabupaten untuk mempersiapkan lima festival khas daerah masing-masing setiap tahun.

Hal ini dijelaskan Wagub NTT Josef Adrianus Nai Soi saat membuka pesta Reba adat masyarakat Langa, Kecamatan Bajawa, Kabupaten Ngada, Flores, Selasa (15/1/2019).

Permainan tradisional rangkuk alu di Desa Adat Melo, Liang Ndara, Manggarai Barat, Pulau Flores, NTT, Rabu (29/11/2018). KOMPAS.COM / MUHAMMAD IRZAL ADIAKURNIA Permainan tradisional rangkuk alu di Desa Adat Melo, Liang Ndara, Manggarai Barat, Pulau Flores, NTT, Rabu (29/11/2018).
Wagub asal Kampung Langa ini menjelaskan, masyarakat NTT harus mulai menata rumah layak huni bagi wisatawan dengan toilet yang bersih. Uang dari wisatawan harus langsung diterima masyarakat NTT.

Untuk itu, masyarakat menyiapkan kamar yang standar agar wisatawan langsung menginap di rumah warga. Ini juga sekaligus wisatawan belajar tentang kehidupan masyarakat NTT.

“Selama ini segelintir orang yang menikmati kue pariwisata Nusa Tengara Timur. Ini yang harus ditata kembali. Pemerintah mengharapkan masyarakat seluruh Nusa Tenggara Timur mendapatkan keuntungan dari pariwisata yang sudah sangat terkenal di seluruh dunia. Nusa Tenggara Timur menjadi destinasi unggulan wisatawan asing dan nusantara karena keunikan-alam dan budaya Nusa Tenggara Timur yang berbeda dengan daerah lain di Indonesia,” katanya. 

Pemenang Pegipegi Yuk! Jelajah Indonesiamu saat mengunjungi sarang komodo, di Taman Nasional Komodo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, Jumat (30/11/2018).KOMPAS.com/MUHAMMAD IRZAL ADIAKURNIA Pemenang Pegipegi Yuk! Jelajah Indonesiamu saat mengunjungi sarang komodo, di Taman Nasional Komodo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, Jumat (30/11/2018).
Wagub Nai Soi menjelaskan, ada tujuh festival di NTT yang sudah dikenal luas di luar negeri. Dari ujung barat Pulau Flores sampai di Pulau Lembata memiliki kekhasan masing-masing. Ketujuh festival ini sudah didata. Ketujuh festival ini sudah dilaksanakan atas inisiatif pemerintah setempat.

Ketujuh festival yang sedang gencar dipromosikan tersebut adalah sebagai berikut.

1. Festival Menangkap Paus Secara Tradisional

Festival ini dilakukan masyarakat Lamalera di Kabupaten Lembata. Tradisi ini sudah dikenal luas oleh dunia internasional. Pemprov NTT akan menjadikan tradisi menangkap paus dengan alat tangkap tradisional menjadi ajang festival tahunan.

Desa Lamalera, masuk dalam agenda petualangan karena di sinilah atraksi berburu paus secara tradisional masih tetap dipertahankan.DOK INDONESIA.TRAVEL Desa Lamalera, masuk dalam agenda petualangan karena di sinilah atraksi berburu paus secara tradisional masih tetap dipertahankan.
Festival ini harus dikemas dengan baik oleh pemerintah setempat dan koordinasi dengan Pemprov NTT. Pesan di balik tradisi masyakarat Lamalera ini adalah gotong royong, kerja sama, kerja keras dan persatuan bagi sesama masyarakat nelayan.

Selain itu ada pesan-pesan leluhur orang Lamalera yang selama ini tidak diketahui secara luas tentang syarat-syarat menangkap paus.

Halaman:



Close Ads X