Narmada Botanic Garden, Kebun Bunga Matahari "Instagenic" di Lombok

Kompas.com - 09/03/2019, 09:10 WIB
Hamparan bunga matahari di Narmada Botanic Garden, jadi tempat foto favorit pengunjung.KOMPAS.com/ KARNIA SEPTIA Hamparan bunga matahari di Narmada Botanic Garden, jadi tempat foto favorit pengunjung.


LOMBOK BARAT, KOMPAS.com - Berwisata ke Lombok tidak melulu pantai atau gunung. Sesekali mampirlah ke Narmada Botanic Garden di Desa Narmada, Kabupaten Lombok Barat, NTB.

Di sana ada hamparan bunga matahari, juga aneka macam bunga seperti lavender dan marigold.

Keberadaan bunga matahari dengan mahkota berwarna kuning cerah dan ukurannya yang besar ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung. Apalagi, bunga dengan nama latin Helianthus Annuus ini sudah jarang ditemui tumbuh di pekarangan rumah warga.  

Tak heran jika lokasi ini menjadi tempat favorit berburu foto yang instagenic. Warna-warni bunga yang bermekaran serasa menggoda ingin diajak swafoto.

Widi, salah satu pengunjung, mengatakan sengaja datang ke Narmada Botanic Garden ini setelah melihat di Instagram.

"Dari Instagram banyak yang upload foto, katanya di sini bagus," kata Widi.

Cukup dengan membayar tiket masuk seharga Rp 5.000 pengunjung bisa sepuasnya berkeliling menikmati warna-warni bunga yang tengah bermekaran. Selain kebun bunga, terdapat beberapa spot foto seperti labirin mini, ayunan gantung, hingga rumah Hobbit.

Di Narmada Botanic Garden pengunjung bisa berfoto sepuasnya, asal jangan memetik bunga apalagi menginjak bunga.

Kebun Kejujuran

Tidak hanya bunga, tempat itu juga ditanami buah dan sayur yang bisa dipetik langsung oleh pengunjung. Mengusung konsep "Kebun Kejujuran" aneka buah seperti mentimun, jambu kristal dan jeruk yang sudah matang bisa dipetik.

Pengunjung bisa memetik sendiri buah di Kebun kejujuran, Narmada Botanic Garden. KOMPAS.com/ KARNIA SEPTIA Pengunjung bisa memetik sendiri buah di Kebun kejujuran, Narmada Botanic Garden.

Tidak ada penjaga, juga tidak ada timbangan buah. Pengunjung bisa memetik dan membayarnya di warung yang terletak di tengah kebun.

"Kalau petik buah jambu kristal Rp 5.000, timunnya petik sendiri cuma Rp 1.000. Semuanya sama-sama kebun kejujuran, jadi semua bayar langsung di warung. Kalau bayar oke, kalau nggak ya berurusan sama Yang Di Atas," kata Nia Bunga, pengelola Narmada Botanic Garden.

Berdiri di lahan seluas satu hektar, Narmada Botanic Garden bisa menjadi alternatif wisata baru di Lombok. Setiap akhir pekan, di Narmada Botanic Garden ada pasar botani. Di sana pengunjung bisa berbelanja tanaman hingga mencicipi jajanan pasar dan makanan tradisional Lombok.

Tidak sekedar menyuguhkan tempat yang instagenic, pengelola Narmada Botanic Garden ingin kawasan ini menjadi sarana edukasi.

"Kita ingin mengedukasi masyarakat dari hal kecil untuk ikut menjaga alam, seperti tidak memetik bunga, jangan membuang sampah sembarangan. Walaupun dari hal-hal kecil, kita berusaha mengedukasi mereka," tambah Nia.

Sulap Sawah Jadi Kebun Bunga

Narmada Botanic Garden mulai dibuka tanggal 11 Maret 2018. Bayu selaku pengelola Narmada Botanic Garden menceritakan, awalnya area ini hanya berupa sawah dengan tanaman padi.

Lahan seluas satu hektar itu kemudian mulai ditanami mentimun, bunga marigold dan bunga matahari.

"Dari sana teman-teman fakultas pertanian Unram belajar tentang tanaman hortikultura, akhirnya berkembang kita buka untuk agrowisata dengan nama Narmada Botanic Garden," tutur Bayu.

Salah satu spot foto di Narmada Botanic GardenKOMPAS.com/KARNIA SEPTIA Salah satu spot foto di Narmada Botanic Garden

Selain bisa berfoto sepuasnya, pengelola juga menyediakan paket untuk anak-anak sekolah.

"Banyak kegiatannya, mulai pengenalan tanaman, cara memilih bibit yang baik, cara menanam, pemupukan sampai panen. Pengembangan secara vegetatif generatif. Kita juga ajarkan soal lingkungan," kata Bayu.

Misalnya, merubah selokan yang tadinya tidak bermanfaat menjadi lebih bermanfaat dengan cara dibendung untuk memelihara ikan.

"Saya ingin menekankan bahwa pertanian di jaman sekarang ini berbeda. Sektor pertanian bukan hanya ke sawah bawa cangkul. Saya melihat bahwa pertanian bisa dibuat menjadi salah satu destinasi wisata, saya ingin membuka wawasan mereka bahwa ada hal yang bisa dimanfaatkan dari sisi pertanian," tutup Bayu.



Close Ads X