Tari Topeng Losari dari Surakarta, Menari dengan Mata Tertutup

Kompas.com - 07/07/2019, 21:05 WIB
Penari Sanggar Purwa Kencana Cirebon menampilkan Tari Topeng pada acara Solo International Mask Festival 2019 di Balaikota, Solo, Jawa Tengah, Jumat (5/7/2019). Pertunjukan yang berlangsung 5-6 Juli tersebut sebagai upaya melestarikan kesenian tradisional Tari Topeng ANTARA FOTO/Mohammad Ayudha/focPenari Sanggar Purwa Kencana Cirebon menampilkan Tari Topeng pada acara Solo International Mask Festival 2019 di Balaikota, Solo, Jawa Tengah, Jumat (5/7/2019). Pertunjukan yang berlangsung 5-6 Juli tersebut sebagai upaya melestarikan kesenian tradisional Tari Topeng

KOMPAS.com – Gelaran pertunjukan International Mask Festival (IMF) 2019 di Pendapi Gedhe Balaikota Surakarta menghadirkan beberapa tarian. Salah satu yang unik adalah tampilnya Tari Losari dari Sanggar Purwa Kencana.

Tarian Yang Diciptakan 400 tahun

Tari Topeng Gaya Losari diciptakan Panembahan Losari, atau Pangeran Angkawijaya sekitar 400 tahun yang lalu. Tarian ini pada awalnya diciptakan untuk menyebarkan agama Islam.

Dalam penyajiannya, Topeng Losari mengedepankan penokohan dari cerita Panji, berbeda dengan tari topeng di wilayah Cirebon lain yang mengedepankan perkembangan sifat manusia yang menjurus ke nilai filosofis.

Baca juga: Berakhir Malam Ini, Jangan Lewatkan Festival Topeng Internasional di Solo!

Ditarikan Oleh Penari Dengan Mata Tertutup

Penari Tari Topeng Losari adalah Nur Anani M Irman atau yang sering dipanggil Nani Topeng Losari. Ia merupakan generasi ketujuh trah langsung penari Topeng Losari.

Nani ialah cucu dari Maestro Dewi Sawitri (Dalang Topeng dari Losari yang merupakan generasi keenam dari Topeng Losari).

Nani menari selalu dengan mata tertutup dan tidak pernah pernah mempedulikan jumlah penonton. Baginya, Tari Topeng Losari menari lebih kepada berdoa untuk Tuhan, tubuh, dan bumi.

Ciri Khas Tari Topeng Losari

Tari Topeng gaya Losari yang membedakannya dengan tari topeng gaya Cirebon lain adalah adanya 3 gerak yang menjadi ciri khas.

Gerak tersebut yakni gerak Galeyong, pasang Naga Seser (kuda-kuda menyamping lebar) menyerupai sikap Kathakali di India, serta sikap Gantung kaki yang mirip dengan kaki patung Dewa Shiwa sebagai Nataraja dari India yang mengharuskan penarinya memperlihatkan telapak kakinya ke samping.

Selain Tari Topeng Losari, juga terdapat beberapa tarian lain yang tak kalah menarik. Ragam tarian yang ditampilkan dalam acara IMF 2019 bisa dinikmati wisatawan selama dua hari yakni Jum’at (05/07/2019) hingga Sabtu (06/07/2019) di Pendopo Gedhe Balaikota Surakarta.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X