Dari Halte Ke Halte, Rekomendasi Kuliner sampai Tempat Rekreasi di Ibu Kota

Kompas.com - 14/08/2019, 16:52 WIB
Akun Instagram @darihalte_kehalte INSTAGRAM/DARIHALTE_KEHALTEAkun Instagram @darihalte_kehalte
 
 
 
View this post on Instagram
 
 

“Seorang terpelajar harus juga belajar berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi perbuatan" (Jean Marais) Kutipan tersebut berasal dari Bumi Manusia, buku pertama dari “The Buru Quartet"—yang digenapi oleh Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca—karya Pramoedya Ananta Toer. Tetralogi ini berlatar perkembangan nasionalisme Indonesia dilihat dari sudut pandang sang narator: Minke. Pram menulis cerita perjalanan hidup Raden Mas Minke diilhami dari tokoh pergerakan dan pers zaman kolonial, RM Tirto Adhi Soerjo. Selain alur kisahnya yang menyentuh, latar sejarahnya yang kaya, keindahan bahasanya yang penuh siratan pesan, karakter-karakternya yang kuat dan tak lekang dari ingatan, cerita di balik penulisan salah satu mahakarya kesusastraan Indonesia ini juga tak kalah menarik. Penulis produktif penghasil 50 karya yang saat itu sedang diasingkan ke Pulau Buru sejak Agustus 1969 mendongengkan kisah Minke-Annelies-Nyai Ontosoroh secara lisan kepada sesama tahanan politik lainnya. Lelaki kelahiran Blora 6 Februari 1925 ini baru mulai menuliskan ceritanya ketika mendapatkan izin untuk menulis kembali dari Pangkopkamtib Jenderal Soemitro yang juga, kabarnya, memberinya hadiah mesin tik. Tepat setahun lalu, HalteMin melihat pameran “Namaku Pram” di @dialogue_arts Kemang. Selain surat-surat selama masa penahanannya kepada istri dan anak-anaknya, pameran ini juga menampilkan karya-karya penulis yang telah diterjemahkan ke dalam 42 bahasa tersebut. Kumpulan korespondensi hingga saat pembebasannya pada Desember 1979 telah dirangkum dalam buku Nyanyian Sunyi Seorang Bisu Jilid 2. Pada 30 April 2006, satu-satunya sastrawan Indonesia yang pernah diajukan untuk meraih hadiah Nobel ini berpulang dan dimakamkan di TPU Karet Bivak. Lokasinya tidak jauh dari makam Chairil Anwar, atau sekitar 250 m dari Stasiun KRL Karet. Saat ini, HalTeman mungkin sudah tahu bahwa sutradara Hanung Bramantyo sedang memproduksi film Bumi Manusia. HalteMin nggak tahu kapan filmnya selesai, tapi berharap semoga bisa menerjemahkan novelnya dengan baik. Bukan tugas gampang. Ngomong-ngomong, dari semua buku/kutipan karya Pram, apa favorit HalTeman? #darihaltekehalte @dialogue_arts

A post shared by Dari Halte Ke Halte (@darihalte_kehalte) on Apr 29, 2019 at 11:44pm PDT

Jatuh cinta lagi dengan kota sendiri. Berawal dari kesukaan menjelajah berbagai sudut Jakarta menggunakan moda transportasi umum dan berjalan kaki layaknya turis, berujung pada keinginan untuk berbagi informasi tentang tempat yang pernah didatangi.

Dari Halte Ke Halte juga lahir dari idealisme untuk mengajak warga ibu kota semakin mengenal dan jatuh cinta (lagi) dengan kota tempat tinggalnya dengan cara menjelajahi berbagai sudut kota,” tutur Bowo.

Komunitas hingga grup Whatsapp

Dari akun di media sosial, Dari Halte Ke Halte kini memiliki komunitas yang aktif bertukar informasi di dua grup, yakni Whatsapp dan Telegram.

“Banyak HalTeman (sebutan untuk para pengikut akun DHKH) yang memiliki kegemaran serupa, jalan-jalan keliling kota dan makan-makan. Mereka membutuhkan inspirasi tempat baru dan menarik untuk didatangi,” tutur Bowo.

Berawal dari obrolan di media sosial DHKH, banyak pengikut yang berkomentar bahwa mereka sebenarnya ingin keliling kota, tapi tidak memiliki teman. Akun DHKH kemudian menjadi sarana yang memfasilitasi mereka mendapatkan teman baru untuk jalan-jalan dan berwisata.

“Akhirnya, para HalTeman pun berinisiatif membuat grup chat. Saat ini DHKH memiliki dua grup chat, satu di Whatsapp dan satu lagi di Telegram,” tambah Bowo.

Baca juga: Transjakarta Buka Rute Baru Melintasi Kota Tua hingga Museum Bahari

Di grup tersebut, lanjut dia, HalTeman saling berbagi informasi dan rekomendasi tentang berbagai tempat makan enak dengan harga terjangkau.

“Serta lokasinya relatif mudah didatangi dengan transportasi umum dan berjalan kaki,” tuturnya.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 

(2/2) Tak terbayangkan sebelumnya asinan dicampur semur, tapi itulah yang membuat bubur ase (asinan semur), sarapan khas Betawi ini begitu unik dan enak. Masih dalam semangat riset makanan tradisional khas Betawi menyambut HUT Jakarta ke-492, HalteMin pun mendatangi warung bubur ase lain, yaitu warung bubur ase Cik Lis. . "Kite mah bukan orang sini, tapi dari Banten. Namenye aje Lilis, kite nikah sama orang sini,” Cik Lis bercerita dengan penuh semangat sambil meracik bubur ase (Rp10 ribu) pesanan HalteMin. Bahannya kurang lebih sama seperti Bang Lopi. Cik Lis juga menuangkan kuah semur dengan sepotong tahu ke dalam semangkok bubur, lalu ditaburi kacang kedelai goreng, asinan toge dan daun lobak, serta tak lupa menyediakan semangkok kerupuk merah. “Kite udah dagang dua puluh tahun, dari umur 35, nerusin usahe nenek mertua kite. Kalo kite udah kagak ade, kagak tahu deh siape nyang nerusin. Mantu, anak-anaknye masih kecil,” lanjut nenek lima cucu ini. Kuah semur Cik Lis tidak terlalu kental, dan dia memberikan kuah asinan cukup banyak sehingga benturan rasa asam dan manisnya sangat kuat. Boleh dibilang, rasa bubur ase Cik Lis ramainya bak Ancol di malam tahun baru. Berbeda dengan Bang Lopi, lauk pendamping bubur di warung Cik Lis bukanlah kentang atau telur, melainkan sate kikil sapi dan kambing. “Wah, saye jarang nemu sate kikil kambing,” HalteMin girang. . "Iye, ini nyang bikin bubur ase Cik Lis beda. Pan nyang lain ade nyang pake ikan asin segale, tapi buat Cik Lis enakan pake sate kikil.” Sepertinya, para penjaja bubur ase ini memang memberikan ciri tersendiri untuk bubur buatannya dengan menyediakan lauk pendamping yang berbeda-beda. Cara mendatangi warung ini memang agak susah-susah gampang karena masuk ke dalam gang, yaitu Gang Masjid At-Taqwa. Jalan masuknya terletak antara Rumah Makan Rasa Minang dan Warteg Melati, tepat di seberang dan bus stop Kantor Pusat Pajak Pratama yang dilewati TransJakarta 5F, DA2, dan JP03. Dari Stasiun Karet bisa dicapai dengan berjalan kaki sejauh 500 m. . "Kalo mau ke mari lagi, jangan lewat jam sembilan, ye. Kite udeh rapi. Orang Betawi makan bubur buat sarapan,” tegas nenek yang cekatan dan ceriwis ini. Ngarti, Cik.

A post shared by Dari Halte Ke Halte (@darihalte_kehalte) on Jun 19, 2019 at 6:51pm PDT

Beranjak dari Instagram dan Twitter, rencananya warga Jakarta dan wisatawan juga bisa mengakses Dari Halte Ke Halte lewat Youtube.

“Saat ini kami baru sanggup menangani dua platform, Instagram dan Twitter, tapi kami berencana untuk mengembangkannya ke Youtube. Pembuatan buku sedang dalam proses penjajakan. Selain itu, kami sedang mengembangkan sebuah situs web dwibahasa, Indonesia dan Inggris,” tutur Bowo.

Halaman:


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X