Dari Halte Ke Halte, Rekomendasi Kuliner sampai Tempat Rekreasi di Ibu Kota

Kompas.com - 14/08/2019, 16:52 WIB
Akun Instagram @darihalte_kehalte INSTAGRAM/DARIHALTE_KEHALTEAkun Instagram @darihalte_kehalte

Komunitas hingga grup Whatsapp

Dari akun di media sosial, Dari Halte Ke Halte kini memiliki komunitas yang aktif bertukar informasi di dua grup, yakni Whatsapp dan Telegram.

“Banyak HalTeman (sebutan untuk para pengikut akun DHKH) yang memiliki kegemaran serupa, jalan-jalan keliling kota dan makan-makan. Mereka membutuhkan inspirasi tempat baru dan menarik untuk didatangi,” tutur Bowo.

Berawal dari obrolan di media sosial DHKH, banyak pengikut yang berkomentar bahwa mereka sebenarnya ingin keliling kota, tapi tidak memiliki teman. Akun DHKH kemudian menjadi sarana yang memfasilitasi mereka mendapatkan teman baru untuk jalan-jalan dan berwisata.

“Akhirnya, para HalTeman pun berinisiatif membuat grup chat. Saat ini DHKH memiliki dua grup chat, satu di Whatsapp dan satu lagi di Telegram,” tambah Bowo.

Baca juga: Transjakarta Buka Rute Baru Melintasi Kota Tua hingga Museum Bahari

Di grup tersebut, lanjut dia, HalTeman saling berbagi informasi dan rekomendasi tentang berbagai tempat makan enak dengan harga terjangkau.

“Serta lokasinya relatif mudah didatangi dengan transportasi umum dan berjalan kaki,” tuturnya.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 

(2/2) Tak terbayangkan sebelumnya asinan dicampur semur, tapi itulah yang membuat bubur ase (asinan semur), sarapan khas Betawi ini begitu unik dan enak. Masih dalam semangat riset makanan tradisional khas Betawi menyambut HUT Jakarta ke-492, HalteMin pun mendatangi warung bubur ase lain, yaitu warung bubur ase Cik Lis. . "Kite mah bukan orang sini, tapi dari Banten. Namenye aje Lilis, kite nikah sama orang sini,” Cik Lis bercerita dengan penuh semangat sambil meracik bubur ase (Rp10 ribu) pesanan HalteMin. Bahannya kurang lebih sama seperti Bang Lopi. Cik Lis juga menuangkan kuah semur dengan sepotong tahu ke dalam semangkok bubur, lalu ditaburi kacang kedelai goreng, asinan toge dan daun lobak, serta tak lupa menyediakan semangkok kerupuk merah. “Kite udah dagang dua puluh tahun, dari umur 35, nerusin usahe nenek mertua kite. Kalo kite udah kagak ade, kagak tahu deh siape nyang nerusin. Mantu, anak-anaknye masih kecil,” lanjut nenek lima cucu ini. Kuah semur Cik Lis tidak terlalu kental, dan dia memberikan kuah asinan cukup banyak sehingga benturan rasa asam dan manisnya sangat kuat. Boleh dibilang, rasa bubur ase Cik Lis ramainya bak Ancol di malam tahun baru. Berbeda dengan Bang Lopi, lauk pendamping bubur di warung Cik Lis bukanlah kentang atau telur, melainkan sate kikil sapi dan kambing. “Wah, saye jarang nemu sate kikil kambing,” HalteMin girang. . "Iye, ini nyang bikin bubur ase Cik Lis beda. Pan nyang lain ade nyang pake ikan asin segale, tapi buat Cik Lis enakan pake sate kikil.” Sepertinya, para penjaja bubur ase ini memang memberikan ciri tersendiri untuk bubur buatannya dengan menyediakan lauk pendamping yang berbeda-beda. Cara mendatangi warung ini memang agak susah-susah gampang karena masuk ke dalam gang, yaitu Gang Masjid At-Taqwa. Jalan masuknya terletak antara Rumah Makan Rasa Minang dan Warteg Melati, tepat di seberang dan bus stop Kantor Pusat Pajak Pratama yang dilewati TransJakarta 5F, DA2, dan JP03. Dari Stasiun Karet bisa dicapai dengan berjalan kaki sejauh 500 m. . "Kalo mau ke mari lagi, jangan lewat jam sembilan, ye. Kite udeh rapi. Orang Betawi makan bubur buat sarapan,” tegas nenek yang cekatan dan ceriwis ini. Ngarti, Cik.

A post shared by Dari Halte Ke Halte (@darihalte_kehalte) on Jun 19, 2019 at 6:51pm PDT

Beranjak dari Instagram dan Twitter, rencananya warga Jakarta dan wisatawan juga bisa mengakses Dari Halte Ke Halte lewat Youtube.

“Saat ini kami baru sanggup menangani dua platform, Instagram dan Twitter, tapi kami berencana untuk mengembangkannya ke Youtube. Pembuatan buku sedang dalam proses penjajakan. Selain itu, kami sedang mengembangkan sebuah situs web dwibahasa, Indonesia dan Inggris,” tutur Bowo.

Kabar baiknya, DHKH juga sedang menggodok konsep “ngider bareng” bersama para HalTeman untuk memfasilitasi Kamu yang ingin jalan-jalan bersama.

Menggerakkan perekonomian

Masifnya informasi seputar aktivitas wisata di ibu kota, terutama kuliner, dirasakan pihak Dari Halte Ke Halte berdampak cukup positif. Ada tempat makan yang relatif baru, namun merasakan lonjakan pengunjung yang signifikan sejak dipromosikan oleh akun tersebut.

“Ada yang menyampaikan langsung kepada HalteMin, ada juga yang menyampaikannya kepada para HaiTeman yang berkunjung kemudian menceritakan kembali di media sosial mereka,” tuturnya.

Salah satu yang paling baru, kisah Bowo, adalah Dimsum Arsyif yang terletak di Jalan Blora. Bapak penjual dimsum bercerita biasanya dagangan miliknya baru habis selepas maghrib.

“Pagi ini (14/8), sudah kehabisan stok dan sedang menunggu pasokan baru setelah dipromosikan DHKH,” katanya.

Contoh lainnya adalah Nasi Bebek Cak Malik di Jalan Wahid Hasyim, dan Pecel Madiun Boma di Jalan Fatmawati. Keduanya, tutur Bowo, juga dilaporkan mengalami lonjakan pengunjung sejak dipromosikan.

“Sampai sekarang kami tidak percaya bahwa efeknya bisa sebesar ini. Di sisi lain, kami senang karena tujuan membantu memajukan UMKM bisa tercapai. Harapannya adalah semoga usaha mereka bisa semakin berkembang lebih pesat dan ikut memajukan perekonomian rakyat,” ujar Bowo.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 

Minggu lalu akhirnya kesampaian juga mencoba dimsum gerobakan bernama Dimsum Arsyif rekomendasi HalTeman @putrizizahs yang lokasinya tepat di depan Stumpy Coffee. Nama Arsyif diambil dari akronim nama dua anak Pak Aan, pembuatnya, yang bernama Arhan dan Syifa. Tapi Pak Aan hanya bertugas membuat dimsum, sementara yang berjualan di Jalan Blora ini—sekitar 100 m dari Stasiun KRL Sudirman—adalah dua orang bersahabat, yaitu Pak Jarno dan Pak Toto. Bingung dengan semua nama ini? Nggak usah dipikirin karena yang penting dimsum bikinan Pak Aan—yang kabarnya pernah bekerja di Hotel Shangri-La—dan dijual oleh Pak Jarno dan Pak Toto ini rasanya enak. Nggak kalah dengan dimsum di restoran yang harganya lebih mahal daripada yang dijual di sini. Kalau lihat daftar menunya, ada sembilan jenis dimsum yang bisa dicoba. Tapi sepertinya yang selalu tersedia hanya empat, yaitu ayam, udang, jamur, dan cumi. Harganya Rp11 ribu per porsi yang berisi empat potong dimsum gurih nikmat yang disajikan dengan campuran sambal dan kecap yang rasanya pedas, manis, dan asin. Setiap hari, kecuali Sabtu, kedua bapak ini berjualan sejak pukul 5.30 pagi sampai sehabisnya stok dimsum yang mereka bawa atau sekitar pukul 5 sore. Sedangkan setiap hari Minggu mereka berjualan di seberang Halte TJ Tosari sesuai jam Hari Bebas Kendaraan Bermotor alias CFD. Tapi hari ini, ketika HalteMin datang pukul 11, Pak Jarno bilang kalau stok dimsum yang dibawa dari pagi sudah habis dan mereka sedang menunggu pasokan yang baru datang sekitar jam 1 siang. Baiklah, HalteMin bersabar menunggu sambil sekalian makan siang. Benar saja, ketika kembali stok dimsumnya sudah ada. Tapi tidak bertahan lama karena kabarnya jam 2-an pun sudah ludes semua. Oh ya, HalTeman yang rumah atau kantornya di sekitar Cawang, Dimsum Arsyif juga punya gerobak yang berjualan di depan Rumah Sakit Pusat Otak Nasional dan dijaga oleh putra Pak Jarno @abdillahnur11. Tapi jangan datang pagi-pagi ya, karena mereka baru buka jam 5 sore sampai sekitar jam 10 malam. Dan kalau HalTeman ingin memesan dalam jumlah banyak, bisa hubungi 087889298323 atau 085779991767. Selamat mencoba.

A post shared by Dari Halte Ke Halte (@darihalte_kehalte) on Aug 12, 2019 at 3:10am PDT

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X