Minggu, 31 Agustus 2014

Travel / News

Lokasi Bandara Baru di Bali, Pastika Pilih Sumberkima

Selasa, 9 Juli 2013 | 19:48 WIB
KOMPAS/AYU SULISTYOWATI Sejumlah jukung warga mengantarkan wisatawan menuju tengah laut melalui kawasan Lovina, Pantai Binaria, Desa Kalibukbuk, Kabupaten Buleleng, Bali, Minggu (2/6/2013), sekitar pukul 05.00 Wita. Mereka mencari lumba-lumba yang setiap pagi berenang. Aktivitas tersebut menjadi wisata lumba-lumba andalan warga yang membuat populer kawasan.
DENPASAR, KOMPAS.com - Desa Sumberkima, Kabupaten Buleleng, dipilih menjadi lokasi pembangunan bandar udara baru di kawasan Bali utara karena dari hasil kajian teknis sementara relatif lebih mudah dibandingkan dibangun di Desa Kubutambahan.

"Saya lebih memilih dibangun di Sumberkima di wilayah Buleleng barat dengan melihat hasil skoring dari tim kecil yang diketuai Kadishub Bali dan juga dari sisi kesulitan dalam pembebasan lahan," kata Gubernur Bali, Made Mangku Pastika di Denpasar, Selasa (9/7/2013).

Rapat ini dihadiri oleh Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana, Direktur Bandara Ditjen Perhubungan Udara Kemenhub Bambang Cahyono, Kadishubinfokom Bali Dewa Putu Punia Asa, Kadis PU Bali Ketut Artika, Karo Ekbang Bali Gede Suarjana dan instansi terkait.

Pastika berpendapat akan lebih mudah dibangun di Sumberkima, Kecamatan Gerokgak dibandingkan di Kubutambahan, Buleleng yang padat penduduk. Ia membayangkan betapa sulit memindahkan penduduk dan Pura Kahyangan Tiga serta kuburan di desa adat (pakraman) di Kubutambahan.

Menurut Pastika, jangankan Kahyangan Tiga, memindahkan merajan (tempat suci) keluarga saja itu tidak mudah. "Contohnya di Bandara Ngurah Rai tidak bisa diperbesar lagi karena ada setra (kuburan) dan pura. Pengalaman seperti itu harus dipedomani. Lebih feasible di Sumberkima, di sana walaupun ada bukit bisa dipapas karena hanya batu semua," paparnya.

Apalagi di dekat Sumberkima juga ada tanah milik Pemprov Bali seluas 650 hektare sehingga sekaligus pemerintah provinsi bisa berkontribusi.

"Bukankah yang selalu menjadi persoalan adalah pembebasan lahan? Kalau lahannya masih bisa dibeli tidak apa-apa, masalahnya kalau lahannya tidak bisa dibeli seperti Pura Kahyangan Tiga itu," ujarnya.

Mantan Kapolda Bali ini menginginkan bandara baru yang ditargetkan dapat dimulai pembangunannya pada 2015 mempunyai dua landasan. Pihaknya yakin potensi kedatangan wisatawan akan meningkat ke daerah itu karena dekat dengan wisata pantai dan Pelabuhan Celukan Bawang.

Sementara itu Kepala Dinas Perhubungan, Informasi dan Komunikasi (Kadishubinfokom) Bali, Dewa Putu Punia Asa memaparkan peluang dan tantangan pembangunan bandara jika dibangun di Desa Sumberkima dan Desa Kubutambahan.

Di Desa Sumberkima, jelas Punia, mayoritas kawasan berupa lahan kering, permukiman lebih jarang, berada di pinggir jalan nasional, dan jalur tol Kuta-Soka-Seririt rencananya akan dekat melintasi itu.

Demikian juga jika dilakukan reklamasi akan lebih mudah dengan kedalaman laut 416 meter, serta proyek bandara akan mengenai lima masjid dan empat pura.

Sedangkan Kubutambahan yang terletak di bagian timur Buleleng, kawasan yang terkena dampak merupakan wilayah persubakan dan padat permukiman penduduk, curah hujan tinggi, mengenai 14 pura dalam dua kecamatan dan dua diantaranya merupakan pura cagar budaya, palung laut lebih dalam yakni 981 meter.

Direktur Bandara Ditjen Perhubungan Udara Kemenhub, Bambang Cahyono mengatakan memang mendesak adanya bandara baru karena Bandara Ngurah Rai sudah tidak cukup dilakukan penambahan landasan dengan tingkat kunjungan wisatawan yang makin tinggi.

Bambang mengingatkan agar ada kajian yang lebih komprehensif lagi terkait pembangunan bandara baru itu diantaranya dari sektor pembiayaan, pihak yang mendesain, pembebasan lahan dan potensi penumpang yang datang dan sebagainya.

"Saran kami kalau bisa yang mendesain putra daerah Bali. Bandara Kuala Namu, di Sumatera Utara itu sama sekali tidak memakai orang asing, dan didesain putra-putri bangsa. Saya kira di Bali banyak yang ahli Amdal, ahli sosial ekonomi, budaya dan sebagainya," katanya.
    
Editor : I Made Asdhiana
Sumber: Antara