Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Nasi Kari, Nasi Campur ala Sri Lanka

Kompas.com - 08/08/2016, 09:23 WIB
Kontributor Travel, Fira Abdurachman

Penulis

KOLOMBO, KOMPAS.com - Kalau di Indonesia, Nasi Kari bisa dibilang sebagai nasi campur. Bisa juga nasi rames. Jadi nasi dicampur lauk pauk berbumbu dasar kari. Cita rasanya tergantung wilayah dan gaya kedai masing-masing.

Dasarnya nasi kari adalah gaya makanan khas India. Di Sri Lanka nasi kari dibikin sedikit berbeda cita rasa dan gayanya.

(BACA: Tips Berlibur ke Sri Lanka)

Nasinya sedikit berbeda dengan nasi Indonesia. Di Sri Lanka nasinya berbentuk bulat, besar, dan tidak pulen. Tidak terlalu kering juga. Rasanya pun lebih hambar. Lauk utama nasi kari adalah sayur bumbu kari.

KOMPAS.COM/FIRA ABDURACHMAN Cara makan nasi kari di Sri Lanka adalah dengan memakai tangan.
Di Sri Lanka banyak penganut vegetarian jadi nasi kari vegetarian juga digemari. Seporsi nasi kari minimal 3 lauk sayuran bumbu kari. Kadang 4.

Biasanya lauk kacang-kacangan dibikin sayur kental dengan kuah kari. Bisa juga terong, buncis, atau wortel dibikin oseng dengan bumbu kari yang kental. Untuk menambah rasa, banyak kedai yang menyajikan kari dengan bawang. Kombinasinya sangat kaya akan rasa rempah.

(BACA: Murah, Alasan Liburan ke Sri Lanka)

Di Sri Lanka, kari-nya biasa terbuat dari ketumbar, kunyit, cabai, jintan, kayu manis, kapulaga, salam koja, dan cengkih. Ditambah bubuk kari yang sudah jadi atau biasanya disebut masala. Ditambah ayam bumbu kari atau ikan bumbu kari. Beberapa tempat menyediakan udang bumbu kari.

KOMPAS.COM/FIRA ABDURACHMAN Gaya pelayan restoran menuangkan makanan kepada para pembeli di Sri Lanka.
Setiap rumah di Sri Lanka juga biasa memasak berbagai lauk pauk dengan bumbu kari. “Walau tidak sebanyak jenisnya seperti di kedai. Minimal 1 atau 2 sayur dan ayam kari. Rasanya juga sama saja kok," ucap Daniesh, seorang warga lokal Sri Lanka di Kolombo kepada KompasTravel.

Yang membeli makanan ke kedia pun biasanya para pekerja, bukan orang rumahan. Mereka biasa makan di tempat atau dibungkus dalam bentuk nasi campur atau nasi bungkus.

Berdasarkan pengalaman KompasTravel, rasa kari di Sri Lanka tidak setajam kari dari India. Jadi bila ingin pedas, biasa ditambah cabai kering agar rasanya lebih menggigit di lidah.

KOMPAS.COM/FIRA ABDURACHMAN Restoran pada salah satu hotel di Sri Lanka yang terkenal dengan kelezatan nasi karinya.
Gaya makan nasi kari agak sedikit berbeda dengan gaya makan orang Indonesia. Di Sri Lanka, rata-rata semua makan pakai tangan. Tidak dengan sendok. Caranya pun semua lauk diaduk dengan nasi. Ambil segenggam nasi dan digumul dengan tangan. Setelah sedikit padat baru dimasukkan ke mulut.

Nasi kari banyak yang disajikan dengan piring nampan besar. Yang unik, KompasTravel sempat menemui nasi kari Restoran Malayan di kota Jeeffna yang disajikan diatas daun pisang. Menariknya lagi, setiap pelanggan yang telah selesai makan diminta membuang sendiri daun pisangnya. Rasanya pun sangat gurih dan pedas.

Satu lagi yang harus dicatat, porsi nasi kari di Sri Lanka sangatlah banyak, bahkan 2 kali porsi menu Indonesia. Sulit sekali menghabiskan 1 porsinya. Dijamin kenyang sekali. Enaknya adalah setiap porsi nasi bisa menambah lauk sayur-sayurannya kari sesuka hati.

KOMPAS.COM/FIRA ABDURACHMAN Teh susu domba, minuman favorit di Sri Lanka.
Harganya pun sangat bersahabat. Jarang sekali nasi kari mahal. Biasanya harganya 120 Rupee sampai 200 Rupee, setara dengan Rp 12.000 - Rp 20.000. Rata rata 150 Rupee atau Rp 15.000.

Namun bila setiap hari makan nasi kari, hari ketiga perut sudah mulai enek. Lidah pun terasa bosan. Maklum saja karena kita tak terbiasa makan kari setiap hari.  

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

6 Taman untuk Piknik di Jakarta, Liburan Hemat Bujet

6 Taman untuk Piknik di Jakarta, Liburan Hemat Bujet

Jalan Jalan
7 Taman Gratis di Yogyakarta, Datang Sore Hari Saat Tidak Terik

7 Taman Gratis di Yogyakarta, Datang Sore Hari Saat Tidak Terik

Jalan Jalan
Istana Kepresidenan Yogyakarta Dibuka untuk Umum, Simak Caranya

Istana Kepresidenan Yogyakarta Dibuka untuk Umum, Simak Caranya

Travel Update
Jadwal Kereta Cepat Whoosh Mei 2024

Jadwal Kereta Cepat Whoosh Mei 2024

Travel Update
Cara Berkunjung ke Museum Batik Indonesia, Masuknya Gratis

Cara Berkunjung ke Museum Batik Indonesia, Masuknya Gratis

Travel Tips
Amsterdam Ambil Langkah Tegas untuk Atasi Dampak Negatif Overtourism

Amsterdam Ambil Langkah Tegas untuk Atasi Dampak Negatif Overtourism

Travel Update
Perayaan Hari Tri Suci Waisak 2024 di Borobudur, Ada Bhikku Thudong hingga Pelepasan Lampion

Perayaan Hari Tri Suci Waisak 2024 di Borobudur, Ada Bhikku Thudong hingga Pelepasan Lampion

Travel Update
Destinasi Wisata Rawan Copet di Eropa, Ternyata Ada Italia

Destinasi Wisata Rawan Copet di Eropa, Ternyata Ada Italia

Jalan Jalan
Kenaikan Okupansi Hotel di Kota Batu Tidak Signifikan Saat Libur Panjang Kenaikan Yesus Kristus

Kenaikan Okupansi Hotel di Kota Batu Tidak Signifikan Saat Libur Panjang Kenaikan Yesus Kristus

Travel Update
KA Bandara YIA Tambah 8 Perjalanan Saat Long Weekend Kenaikan Yesus Kristus, Simak Jadwalnya

KA Bandara YIA Tambah 8 Perjalanan Saat Long Weekend Kenaikan Yesus Kristus, Simak Jadwalnya

Travel Update
Kekeringan Parah Ancam Sejumlah Destinasi Wisata Populer di Thailand

Kekeringan Parah Ancam Sejumlah Destinasi Wisata Populer di Thailand

Travel Update
Libur Panjang Kenaikan Yesus Kristus, Kunjungan Wisatawan ke Kota Batu Naik

Libur Panjang Kenaikan Yesus Kristus, Kunjungan Wisatawan ke Kota Batu Naik

Travel Update
Bangka Bonsai Festival Digelar Sepekan di Museum Timah Indonesia

Bangka Bonsai Festival Digelar Sepekan di Museum Timah Indonesia

Travel Update
Cara ke Tebing Keraton Bandung Pakai Angkot, Turun di Tahura

Cara ke Tebing Keraton Bandung Pakai Angkot, Turun di Tahura

Jalan Jalan
Kemenparekraf Dorong Parekraf di Bogor Lewat FIFTY, Ada Bantuan Modal

Kemenparekraf Dorong Parekraf di Bogor Lewat FIFTY, Ada Bantuan Modal

Travel Update
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com