Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

6 Pesona Desa Wisata Nyuh Kuning di Ubud yang Kental Adat Bali

Kompas.com - 08/07/2023, 21:48 WIB
Ulfa Arieza

Penulis

KOMPAS.com - Mengunjungi desa wisata di Bali bisa menjadi alternatif liburan ke Pulau Dewata selain obyek wisata alam. Dengan berkunjung ke desa wisata di Bali, pelancong bisa menyaksikan dan merasakan langsung adat istiadat masyarakat Bali yang masih kental.

Salah satu desa wisata di Bali yang menarik untuk dikunjungi adalah Desa Wisata Nyuh Kuning. Lokasinya berada di Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar yang terkenal dengan nuansa pedesaan dan budaya yang kental

Baca juga:

Dari Denpasar, jaraknya sekitar 21 kilometer (km), bisa ditempuh selama satu jam berkendara. Meskipun jauh dari pusat kota, namun banyak wisatawan nusantara dan mancanegara yang berkunjung ke Desa Wisata Nyuh Kuning.

Lantas, apa saja daya tarik serta aktivitas wisata di Desa Wisata Nyuh Kuning? Simak ulasannya berikut ini seperti dihimpun Kompas.com.

Daya tarik Desa Wisata Nyuh Kuning

Berikut sejumlah daya tarik Desa Wisata Nyuh Kuning di Bali yang berhasil memikat wisatawan untuk berkunjung.

1. Konsep Tri Hita Karana 

Desa Wisata Nyuh Kuning dibangun dengan konsep Tri Hita Karana, seperti dikutip dari Tribun News Wiki. Konsep tersebut berarti, desa ini menjaga keselarasan dan keharmonisan hubungan manusia dengan alam, manusia dengan manusia, dan manusia dengan Tuhan.

Oleh sebab itu, Desa Wisata Nyuh Kuning Ubud jauh dari konsep pembangunan pariwisata modern. Desa ini melestarikan budaya dan kearifan lokal tanpa sentuhan modernisasi, sehingga pengunjung bisa merasakan alam dan budaya Bali yang masih kental.

2. Ada 5.000 pohon kamboja

Ilustrasi bunga kamboja atau frangipani. PIXABAY/DEZALB Ilustrasi bunga kamboja atau frangipani.

Saat menyusuri Desa Wisata Nyuh Kuning, wisatawan akan menyaksikan pohon kamboja sepanjang jalan.

Tidak heran, sebab ada program penanaman 5.000 pohon kamboja di Desa Wisata Nyuh Kuning, seperti dikutip dari jurnal berjudul Pengembangan Homestay Berbasis Masyarakat di Desa Wisata Nyuh Kuning Ubud, karya Ni Putu Ratna Sari dan Anak Agung Putri Sri.

Pohon kamboja merupakan salah satu tanaman yang paling dilestarikan oleh masyarakat setempat. Hampir seluruh rumah warga dan jalan sepanjang Desa Wisata Nyuh Kuning ditanami pohon kamboja.

Baca juga:

3. Menginap di rumah warga 

Jika berkunjung ke Desa Wisata Nyuh Kuning, para turis bisa menginap di rumah-rumah warga setempat yang terkenal ramah.

Sebagian ruangan di rumah warga tersebut memang dijadikan homestay bagi wisatawan, seperti dikutip dari jurnal berjudul Pengembangan Homestay Berbasis Masyarakat di Desa Wisata Nyuh Kuning Ubud. 

Terdapat sekitar 40 unit homestay yang dikelola masyarakat lokal. Adapun tarif menginap di homestay ini berkisar antara Rp 250.000 hingga Rp 350.000 per malam.

Para tamu yang menginap rata-rata lama tinggal 2- 3 hari, bahkan ada yang lebih dari sebulan. Saat menginap di rumah warga setempat, para tamu bisa turut berbaur dengan keseharian mereka sehingga dapat merasakan adat dan budaya Desa Wisata Nyuh Kuning.

Selain homestay, terdapat tipe akomodasi lainnya Desa Wisata Nyuh Kuning, antara lain hotel, hotel melati, vila, dan bungalow.

 
 
 
 
 
Lihat postingan ini di Instagram
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Sebuah kiriman dibagikan oleh Kompas Travel (@kompas.travel)

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Turis Asing Diduga Bikin Sekte Sesat di Bali, Sandiaga: Sedang Ditelusuri

Turis Asing Diduga Bikin Sekte Sesat di Bali, Sandiaga: Sedang Ditelusuri

Travel Update
Ada Pembangunan Eskalator di Stasiun Pasar Senen, Penumpang Bisa Berangkat dari Stasiun Jatinegara

Ada Pembangunan Eskalator di Stasiun Pasar Senen, Penumpang Bisa Berangkat dari Stasiun Jatinegara

Travel Update
Hotel Ibis Styles Serpong BSD CIty Resmi Dibuka di Tangerang

Hotel Ibis Styles Serpong BSD CIty Resmi Dibuka di Tangerang

Hotel Story
10 Mal di Thailand untuk Belanja dan Hindari Cuaca Panas

10 Mal di Thailand untuk Belanja dan Hindari Cuaca Panas

Jalan Jalan
Menparekraf Susun Peta Wisata Berbasis Storytelling di Yogyakarta, Solo, dan Semarang

Menparekraf Susun Peta Wisata Berbasis Storytelling di Yogyakarta, Solo, dan Semarang

Travel Update
Waisak 2024, Menparekraf Targetkan Gaet hingga 300.000 Wisatawan

Waisak 2024, Menparekraf Targetkan Gaet hingga 300.000 Wisatawan

Travel Update
3 Bulan Lagi, Penerbangan Langsung Thailand-Yogyakarta Akan Dibuka

3 Bulan Lagi, Penerbangan Langsung Thailand-Yogyakarta Akan Dibuka

Travel Update
Jelang Waisak 2024, Okupansi Hotel di Area Borobudur Terisi Penuh

Jelang Waisak 2024, Okupansi Hotel di Area Borobudur Terisi Penuh

Hotel Story
iMuseum IMERI FKUI Terima Kunjungan Individu dengan Pemandu

iMuseum IMERI FKUI Terima Kunjungan Individu dengan Pemandu

Travel Update
9 Wisata Malam di Jakarta, dari Taman hingga Aquarium

9 Wisata Malam di Jakarta, dari Taman hingga Aquarium

Jalan Jalan
Jangan Sembarangan Ambil Pasir di Pulau Sardinia, Ini Alasannya

Jangan Sembarangan Ambil Pasir di Pulau Sardinia, Ini Alasannya

Travel Update
6 Cara Cegah Kehilangan Koper di Bandara, Simak Sebelum Naik Pesawat

6 Cara Cegah Kehilangan Koper di Bandara, Simak Sebelum Naik Pesawat

Travel Tips
Maskapai Penerbangan di Australia Didenda Rp 1,1 Miliar karena Penerbangan Hantu

Maskapai Penerbangan di Australia Didenda Rp 1,1 Miliar karena Penerbangan Hantu

Travel Update
China Terapkan Bebas Visa untuk 11 Negara di Eropa dan Malaysia

China Terapkan Bebas Visa untuk 11 Negara di Eropa dan Malaysia

Travel Update
Pelepasan 40 Bhikku Thudong untuk Waisak 2024 Digelar di TMII

Pelepasan 40 Bhikku Thudong untuk Waisak 2024 Digelar di TMII

Travel Update
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com