Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Rumah Ini Dulu Kediaman Pangeran Sambernyawa, Cikal Bakal Kampung Kauman Mangkunegaran...

Rumah ini dulunya dikenal dengan Dalem Mangkuyudan, ditempati oleh Pangeran Sambernyawa sebelum diangkat menjadi pemimpin Mangkunegaran.

Di sinilah cikal bakal berdirinya Kampung Kauman di Mangkunegaran.

Tak banyak yang mengetahui bahwa rumah yang kini ditinggali keluarga Mintorogo itu merupakan bangunan bersejarah.  

Sebelum Perjanjian Salatiga tahun 1756, RM Said melakukan perjuangan dengan berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain.

"Pada waktu itu, gerilya perjuangan dari RM Said menentang hegemoni Pakubuwono III dan VOC menimbulkan dampak yang cukup besar," ujar Ketua Komunitas Sejarah dan Budaya Kota Solo, Solo Societeit, Dani Saptoni pada diskusi tentang Kampung Kauman Mangkunegaran, Minggu(10/6/2018), di Surakarta.

Ia mengungkapkan, perang itu memberikan perlawanan sengit terhadap Pakubuwono III dan VOC.

Akhirnya, muncul sebuah inisiatif untuk melakukan gencatan senjata terhadap peperangan ini.

Perwakilan Pakubuwono menemui RM Said untuk membuat sebuah kesepakatan.

RM Said yang tengah berada di Wonogiri, ditemui utusan perempuan dari Kasunanan.

Namun, utusan tersebut ditolaknya. Akhirnya, Kasunanan menyuruh Tumenggung Mangkuyudo untuk menemui RM Said.

Melalui utusan ini diharapkan gerilya perlawanan dari RM Said bisa mereda.

"Berkat Tumenggung Mangkuyudo, akhirnya RM Said mau kembali ke Surakarta dan berhenti melakukan gerilya. Namun hal itu ada 3 tuntutan yang harus diberikan," kata dia. 

Tuntutan pertama, RM Said akan memakai nama/gelar Mangkunegara seperti ayahnya.

Kedua, tanah yang dia pijaki selama gerilya menjadi haknya.

Ketiga, rumah Dalem Mangkuyudan dan kampungnya menjadi hak Pangeran Sambernyawa atau RM Said.

Dalem Mangkuyudan

Pada 1756, Raden Mas Said kembali ke Surakarta dan mendiami rumah milik Raden Tumenggung Mangkuyuda, Dalem Mangkuyudan.

Hingga saat ini, simbol tersebut masih ada di dalam rumah tersebut.

Condrosengkolo memet berupa kronogram yang berada di rumah Sindurejan, berbentuk ukiran sebagai penanda masuknya RM Said ke rumah ini.

Ada dua ukiran pendeta dan beberapa ekor gajah. Pada bagian tengahnya terdapat jagat yang merupakan bentuk nanasan dari wayang kulit yang berarti simbol bumi.

Di rumah inilah RM Said "ngrelenke ati" atau mengistirahatkan hati setelah 16 tahun bergerilya di hutan.

Setelah Pangeran Sambernyawa mendiami Puro Mangkunegaran, keberadaan rumah ini dikelola oleh KPH Purbonegoro dan keturunan dari Sambernyawa.

KPH Purbonegoro mengelola dan merintis rumah ini, kemudian Kampung Kauman berkembang dengan baik sesuai fungsinya.

Namun, keberadaan rumah tersebut kurang diperhatikan sejak identitas Kauman sebagai pusat kegiatan dakwah Islam luntur setelah pemindahan masjid ke sisi barat Puro Mangkunegaran.

Pada masanya, rumah peninggalan RM Said memiliki pintu gerbang di  sisi selatan dengan pintu kecil di kanan-kiri rumah. Pada bagian depan rumah terdapat halaman yang luas.

Kini, gerbang utama dipindahkan ke sisi timur. Sementara, pada bagian depan rumah sudah berdiri sejumlah rumah lainnya.

Akses menuju Dalem Mangkuyudan harus melalui gang kecil di depan Pasar Legi.

Rumah Pangeran Sambernyawa kini dimiliki oleh keluarga Mintorogo sejak 1979. Ia mendapatkan rumah ini dari pendahulunya yang merupakan keturunan demang. 

Selain dikenal sebagai rumah penginggalan Mangkunegara 1, rumah ini juga merupakan tempat pembuatan souvenir yang merupakan usaha keluarga Mintorogo.

https://travel.kompas.com/read/2018/06/12/143000527/rumah-ini-dulu-kediaman-pangeran-sambernyawa-cikal-bakal-kampung-kauman

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke