Bali, Tidak Hanya Pantai dan Laut

Kompas.com - 21/01/2011, 08:58 WIB
EditorI Made Asdhiana

KOMPAS.com - Pantai, laut, dan matahari adalah tiga hal pertama yang terlintas dalam benak saya apabila mendengar kata "Bali". Pulau kecil di bagian timur Indonesia ini merupakan destinasi favorit para pelancong lokal maupun internasional, yang rata-rata memiliki tujuan untuk menghabiskan waktu liburan dengan berjemur, melakukan olahraga air, dan berpesta!

Namun tentu saja Bali tidak hanya memiliki pantai yang cantik, Bali juga memiliki pegunungan dan dataran tinggi yang indah. Oktober tahun lalu, saya dan tiga orang teman saya berkesempatan untuk berkeliling Bali dengan tujuan utama untuk mengeksplorasi bagian dataran tingginya.

Selama lima hari empat malam kami berencana untuk menginap di Tune Hotel Legian, sebuah hotel yang dikelola oleh salah satu maskapai penerbangan asal Malaysia. Hotel ini saya rekomendasikan untuk para flashpacker karena standar fasilitasnya yang sekelas hotel berbintang namun dengan harga yang lebih ekonomis.

Namun bagi backpacker sekelas saya, sepertinya hostel-hostel di sekitar Jalan Poppies dan Benesari sudah cukup nyaman dan lebih bersahabat untuk dompet Anda. Yeah, I'm so cheap...

Titik keberangkatan kami bermula di Blok M, Damri menjadi pilihan moda transportasi kami untuk mencapai Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Cukup dengan Rp 20.000 Anda akan tiba dengan nyaman dan selamat sentosa di terminal keberangkatan Soekarno-Hatta.

Terminal 3 di Bandara Soekarno-Hatta masih tampak lengang saat kami tiba. Saat ini memang hanya ada dua maskapai yang beroperasi di terminal ini. Oh ya, tips saya, bawa bekal dari rumah kalau kira-kira harus menunggu agak lama di bandara. Kenapa? Karena harga makanan di bandara berkali-kali lipat dari harga normal.

Akhirnya pesawat kami mendarat di Bandara Ngurah Rai, Bali saat menjelang malam. Untuk mencapai hotel, taksi adalah satu-satunya pilihan karena tampaknya keberadaan angkutan umum memang kurang umum di Bali, yang tersedia adalah sewa mobil atau sewa motor. Begitu mencapai terusan Jalan Legian, sopir taksi kami menurunkan kami di gang depan hotel tersebut karena jalan masuk yang cukup sempit. Tapi cukup jalan kaki sedikit ke dalam, akhirnya kami tiba di TuneHotels! Yippy!

TuneHotels ini adalah salah satu budget hotel yang men-charge biaya kamar sesuai dengan fasilitas yang kita pesan, contohnya: handuk, AC, dan sebagainya. Dengan biaya sekitar Rp 400.000 per orang untuk 4 malam, kami mendapatkan sarapan dan fasilitas AC 24 jam. Malam telah larut, sehingga kami segera bersiap-siap untuk beristirahat dan menyiapkan diri untuk jalan-jalan besok.

Hai kawan, saya kira Bali itu kecil. Ternyata luas banget! Berhubung saya yang bertanggung jawab atas itinerary kami selama di sana, saya belajar bahwa Bali itu ternyata luas banget ya!! Saya kira bisa muter-muter Bali dalam waktu dua hari penuh, dan masih punya banyak waktu untuk bersantai-santai di hari-hari selanjutnya. Ternyata itinerary yang sudah saya buat itu rupanya agak ngerjain travel yang kami sewa, he-he-he.. maaf yah, saya memang lemah dalam geografi.

Hari Pertama: Goa Gajah, Tampaksiring, Kintamani, Desa Adat Penglipuran, dan Tari Kecak. Tujuan utama kami hari itu adalah menyusuri Kintamani di Bali Timur, dengan Goa Gajah dan Pura Tirta Empul sebagai pemberhentian pertama. Untungnya cuaca hari itu tampak terik dan amat cerah, mendukung acara jalan-jalan kami yang cukup jauh.

Setelah menyelesaikan sarapan di Es Teler 77 -- rupanya TuneHotels Bali bekerja sama dengan Es Teler 77 sebagai anchor restaurant-nya -- kami berangkat dari Legian pada pukul 9 pagi dan sekitar 45 menit kemudian kami tiba di Goa Gajah.

Kompleks Goa Gajah yang terletak di Desa Bedulu ini adalah sebuah kawasan yang memiliki sebuah gua dan sebuah area bekas tempat pemandian yang dibangun pada sekitar abad 11. Yang menarik dari Goa Gajah ini adalah ukiran pada mulut gua yang dipahat menyerupai kepala besar sebuah tokoh dengan mulut terbuka, di kedua sisi mulut gua terlihat dua patung yang seolah-olah menjaga gua tersebut. Begitu kami masuk ke dalam, tampak beberapa cerukan yang cukup dalam dan berjejer di dinding gua, rupanya cerukan tersebut adalah tempat bermeditasi para tokoh agama di zaman dahulu.

Beralih dari Goa Gajah, kami menuju Pura Tirta Empul di Desa Tampaksiring. Di dalam kawasan ini terdapat istana presiden di atas bukit -- yang entah mengapa kok diletakkan di sana, strategis banget buat ngintip -- dan sebuah area pemandian yang dikelilingi oleh kompleks pura yang lumayan luas.

Sumber air di Pemandian Tampaksiring ini berasal dari mata air yang dipercaya memiliki kekuatan magis. Hari itu kawasan tersebut tampak penuh dengan pengunjung, teriknya matahari Bali seakan-akan mendesak para pengunjung untuk segera masuk ke dalam pemandian yang airnya dingin dan amat jernih, untuk kemudian melakukan ritual pembersihan diri.

Setelah puas berfoto, kami menyempatkan untuk mampir ke sebuah restoran di Kintamani sekaligus untuk menikmati pemandangan dari atas bukit. Udara sejuk pegunungan dan pemandangan Gunung Batur dan danaunya yang membentang indah di horizon benar-benar membuat kami malas bergerak dari kursi. Tadinya kami berencana untuk sekaligus ke Desa Trunyan, tapi mengingat hari sudah agak sore akhirnya destinasi kami beralih ke Desa Adat Penglipuran yang terletak di Kabupaten Bangli.

Desa Adat Penglipuran ini sebenarnya tidak ada di itinerary yang saya buat, tapi menjadi salah satu objek wisata yang paling saya suka selama berjalan-jalan di Bali. Desa Adat ini awalnya adalah sebuah desa biasa dengan kawasan yang tertata rapi dengan pemandangan alam yang asri dan luar biasa indah, sehingga membuat kami betah berlama-lama di sana. Dengan didukung pula oleh sistem masyarakatnya yang masih kuat dan unik, pada akhirnya desa ini diangkat oleh pemerintah lokal menjadi salah satu objek wisata Bangli.

Penataan fisik kawasan ini terlihat unik dan rapi dengan bagian depan rumah yang dibuat serupa satu sama lain, baik dalam hal fungsi, material, dan bentuk. Desa ini terletak di sebuah dataran tinggi dengan area utama berupa pura yang diletakkan di kontur tanah yang paling tinggi.

Untuk memasuki kawasan ini dikenakan biaya Rp 11.000 untuk rombongan kami, dan kita diharuskan berjalan kaki ke dalam kawasan karena kendaraan tidak diperbolehkan masuk.

Setelah puas berkeliling dan memotret Desa Adat Penglipuran, tak terasa perut kami kembali minta diisi. Pemandu kami mengusulkan untuk berhenti dahulu di Warung Ijo, di daerah Gianyar. Walaupun terlihat sederhana, tapi makanan di sini benar-benar memuaskan! Kami memesan 5 porsi nasi paket, yang isinya 1 ekor ikan bakar beserta sambalnya, sayur plecing, sate languan, bakso ikan laut, nasi putih, dan minuman. Semuanya hanya menghabiskan Rp 79.000. Kenyang, enak, dan relatif murah.

Hari itu ditutup dengan mencari Tari Kecak! Karena Tari Kecak biasa diadakan pada saat menjelang matahari terbenam, kami segera bergegas menuju Batubulan, lokasi terdekat dari tempat kami saat itu. Pertunjukan akan segera dimulai saat kami menginjakkan kaki di Sahadewa, sebuah gedung kesenian yang mempertunjukkan berbagai jenis tarian khas Bali. Setelah membeli tiket seharga Rp 80.000 per orang, kami segera masuk ke dalam bangunan dan mencari tempat duduk.

Tari Kecak sendiri adalah tarian khas Bali yang paling terkenal, tarian ini tidak menggunakan alat musik namun menggunakan suara para penari laki-laki yang terdengar berbunyi, "cak.. cak.. cak.."

Tari Kecak menceritakan kisah Ramayana dengan tokoh-tokohnya yakni Rama, Shinta, Rawana, dan beberapa tokoh punakawan. Menjelang malam, suasana mistis terasa makin kuat, apalagi saat tarian Kecak Api mulai dipertunjukkan. Saat sang penari mulai dirasuki roh dan menerjang api, tak pelak mata kami yang saat itu mulai mengantuk serentak terbelalak karena rasa terpesona.

Pertunjukan selama satu jam itu akhirnya selesai sudah, tak lupa kami meminta foto bersama para penari di panggung untuk kemudian melanjutkan jalan pulang ke hotel kami. Saran saya, patut dicoba pula untuk menonton pertunjukan Tari Kecak di Pura Uluwatu saat matahari terbenam, karena lokasinya yang terletak di atas tebing membuat suasana mistis lebih terasa.

Okeh, sekarang kami harus bersiap-siap untuk istirahat karena besok kami akan menjelajah ke Danau Beratan dan Pura Ayun di daerah Bali Utara. (Herajeng Gustiayu)

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


    Video Pilihan

    26th

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    komentar di artikel lainnya
    Close Ads
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.