Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ketika Museum Dibangun Swadaya...

Kompas.com - 17/11/2012, 03:04 WIB

Karena yang pertama, tak berlebihan jika Koordinator MPPM Timur Mansur Hidayat menyebut museum itu sebagai museum termegah di Lumajang. ”Soalnya, tak ada lagi museum lainnya,” ujar Mansur, yang juga koordinator museum tersebut.

Bagi Mansur, meskipun sederhana dan kecil, museum itu sangat membanggakan warga Lumajang. Dalam kompetisi antarmuseum se-Jawa Timur, belum lama ini, museum itu masuk peringkat ketujuh dari 48 peserta lomba museum.

Pengunjung museum tercatat juga cukup cukup banyak. Setiap minggu, setidaknya ada 3-4 lembaga pendidikan yang berkunjung. Total, seminggu ada 300-an siswa yang berkunjung.

”Kami ingin ada pengakuan dari pemerintah bahwa wilayah Biting adalah daerah bersejarah dan harus dilestarikan. Kami juga ingin Lumajang memiliki kebanggaan tersendiri. Dengan museum ini, kami bisa bercerita kepada orang, Lumajang juga memiliki sejarah masa lalu yang luar biasa,” ujar Tumpuk Haryono, warga Dusun Biting.

Semangat yang dimiliki pemuda dan warga Desa Biting boleh diacungi jempol. Namun, mereka masih harus berpikir lagi bagaimana mencari dana untuk melanjutkan kontrakan museum yang akan habis Mei 2013. Mereka memang bertekad meneruskan keberadaan museum tersebut demi kebanggaan dan pengetahuan warga Lumajang.

Namun, sungguh elok jika Pemerintah Kabupaten Lumajang tak tinggal diam saja. Mereka tentu harus turun tangan, dan bukankah warga sudah memulainya?

Kepala Bagian Humas Pemkab Lumajang Edi Hozaini mengatakan, sebenarnya, pemkab sudah berpikir membuat museum daerah sejak tahun 2000-an. Tempat sudah disiapkan di sekitar alun-alun untuk dijadikan museum. Namun, belum juga jadi. ”Karena belum sempat terealisasi, sudah ada pergantian pimpinan sehingga sampai kini rencana itu belum juga bisa diwujudkan,” ujar Edi.

Saat ini, pemkab masih fokus mengembangkan pariwisata. Ia berharap, setelah itu, museum baru direalisasi. Tampaknya, warga Lumajang masih harus bersabar. (Dahlia Irawati)

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Tanggapi Larangan Study Tour, Menparekraf: Boleh Asal Tersertifikasi

Tanggapi Larangan Study Tour, Menparekraf: Boleh Asal Tersertifikasi

Travel Update
Ada Rencana Kenaikan Biaya Visa Schengen 12 Persen per 11 Juni

Ada Rencana Kenaikan Biaya Visa Schengen 12 Persen per 11 Juni

Travel Update
Kasus Covid-19 di Singapura Naik, Tidak ada Larangan Wisata ke Indonesia

Kasus Covid-19 di Singapura Naik, Tidak ada Larangan Wisata ke Indonesia

Travel Update
Museum Kebangkitan Nasional, Saksi Bisu Semangat Pelajar STOVIA

Museum Kebangkitan Nasional, Saksi Bisu Semangat Pelajar STOVIA

Travel Update
World Water Forum 2024 Diharapkan Dorong Percepatan Target Wisatawan 2024

World Water Forum 2024 Diharapkan Dorong Percepatan Target Wisatawan 2024

Travel Update
Tebing di Bali Dikeruk untuk Bangun Hotel, Sandiaga: Dihentikan Sementara

Tebing di Bali Dikeruk untuk Bangun Hotel, Sandiaga: Dihentikan Sementara

Travel Update
Garuda Indonesia dan Singapore Airlines Kerja Sama untuk Program Frequent Flyer

Garuda Indonesia dan Singapore Airlines Kerja Sama untuk Program Frequent Flyer

Travel Update
5 Alasan Pantai Sanglen di Gunungkidul Wajib Dikunjungi

5 Alasan Pantai Sanglen di Gunungkidul Wajib Dikunjungi

Jalan Jalan
Pantai Lakey, Surga Wisata Terbengkalai di Kabupaten Dompu

Pantai Lakey, Surga Wisata Terbengkalai di Kabupaten Dompu

Travel Update
Bali yang Pas untuk Pencinta Liburan Slow Travel

Bali yang Pas untuk Pencinta Liburan Slow Travel

Travel Tips
Turis Asing Beri Ulasan Negatif Palsu ke Restoran di Thailand, Berakhir Ditangkap

Turis Asing Beri Ulasan Negatif Palsu ke Restoran di Thailand, Berakhir Ditangkap

Travel Update
19 Larangan dalam Pendakian Gunung Lawu via Cemara Kandang, Patuhi demi Keselamatan

19 Larangan dalam Pendakian Gunung Lawu via Cemara Kandang, Patuhi demi Keselamatan

Travel Update
Harga Tiket Camping di Silancur Highland, Alternatif Penginapan Murah

Harga Tiket Camping di Silancur Highland, Alternatif Penginapan Murah

Travel Update
Harga Tiket dan Jam Buka Terkini Silancur Highland di Magelang

Harga Tiket dan Jam Buka Terkini Silancur Highland di Magelang

Travel Update
Awas Celaka! Ini Larangan di Waterpark...

Awas Celaka! Ini Larangan di Waterpark...

Travel Tips
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com