Kompas.com - 18/08/2013, 20:13 WIB
EditorI Made Asdhiana

Maksudnya?

Ya, lewat sektor kebudayaan ini pariwisata kita bisa berkembang. Anda lihat coba, sebagian besar destinasi wisata di Bali, misalnya, warisan leluhur yang dibangun antara abad ke-9 dan ke-13, di mana kita mendapati Pura Besakih, Tanah Lot, Uluwatu, serta pantai-pantai dan gunung-gunung pemberian alam. Lalu, mana karya manusia modern? Kita, kan, juga ingin meninggalkan sesuatu yang bisa diwariskan kepada generasi berikut. Saya bisa membuat patung dengan teknologi skala pembesaran, yang mungkin satu-satunya di dunia, kan, juga ingin memberi. Jangan cuma bisa mengambil....

Anda dituduh sebagai seniman yang pengusaha. Ada tanggapan?

Lho, apa salahnya? Saya harus memiliki entrepreneurship untuk bisa mengatur manajemen kerja. Tadi, kan, Anda sudah lihat, pengerjaan patung ini melibatkan lebih dari 200 orang. Itu hanya tukang las dan pembentuk konstruksi keping-kepingnya. Belum lagi pekerja konstruksi tubuh patung nanti. Itu bisa beberapa kali lipat jumlahnya. Kalau saya tidak memiliki kemampuan manajemen yang memadai, mana mungkin membuat proyek sebegini besar.

Manajemen kerja

Menurut pematung yang dianggap membawa angin baru dalam seni patung dunia itu, hampir semua seniman besar dunia memiliki kemampuan manajemen untuk mewujudkan karya-karya besarnya. GWK tidak hanya membentuk tubuh patung, tetapi juga membutuhkan kajian-kajian dari berbagai bidang ilmu.

Patung ini, misalnya, harus tahan terhadap gempa berkekuatan 7,5 skala Richter dan tahan terhadap terpaan angin yang kencang. ”Saya sudah melakukan pengetesan daya tahan patung terhadap angin di Australia dan nanti tes lagi di Kanada. Juga melibatkan konstruktor baja untuk menyangga tubuh patung. Semua itu dipadukan sehingga butuh manajemen kerja yang sempurna,” katanya.

Anda juga dicap memupuk keuntungan pribadi lewat GWK?

Buktinya sekarang GWK sudah milik orang lain. Saya tidak punya saham sepeser pun….

Mengapa?

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.